TAKDIR

Ahmad Iki Muqimudin
Chapter #9

Kantor Satpol PP

Truk berhenti di halaman kantor Satpol PP, yang berada di samping stasiun kereta api Bogor kota.

Ucup dan Putra duduk di depan meja, di seberangnya ada seorang petugas berseragam yang sedang mengetik.

“Jadi kalian berdua siapa? Pengamen?”

“Bukan, Pak,” jawab putra pelan. “Kami cuma musafir. Dari Ciampea, mau pergi ke Cisarua.”

“Pulang? Jalan kaki?” tanya petugas itu sambil mengetik.

“Iya, Pak.” Ucup nyeletuk, “Biar sehat dan berotot, pak."

Petugas yang lebih muda tertawa kecil, tapi seniornya melotot.

"Becanda mulu! Nih, gak punya identitas, bisa aja kami kirim ke panti sosial.”

Ucup menatap petugas. “Di Panti, makannya teratur nggak pak?"

Petugas itu menatap Ucup lama, "Nggak tau, belum pernah," jawabnya singkat.

"Kirain tau, soalnya mukanya kaya lulusan panti." Ucup balas menjawab dengan sarkasme.

Petugas yang muda hampir ketawa sampai kopi keluar dari hidungnya. Tapi seniornya menepuk meja.

“Diam! Kalian berdua diem dulu. Kami catat dulu data kalian.”

Sementara data mereka dicatat, Putra berdoa didalam hatinya. “Ya Allah mudah mudahan tidak ada masalah. "

Perut Ucup sudah bunyi dari tadi, “Pak… kalau boleh nanya,” katanya sambil melirik meja petugas, “Tahanan yang belum tentu salah, dapat makan nggak?"

Petugas itu tertawa, "Kayanya kalian benar-benar musafir yang kelaparan."

Ucup menoleh ke arah Putra yang diam sambil bersandar di kursi, "Musafir asli ini," jawab Ucup tidak terima.

“Udah, kalian duduk aja dulu. Sebentar lagi makan siang, nanti semuanya makan."

Ucup langsung sumringah. “Wah, saya udah suka nih sama Bapak. Suaranya merdu pak, apalagi pas nyebut kata 'makan'."

Putra menepuk pundaknya, “Diam atuh, Cup, jangan asal nyeletuk.”

Ucup mengerutkan dahi, "Kenapa Bang?"

Putra memandang Ucup, "Badan gua, dah nggak bisa gerak, lemes, lapar."

Lihat selengkapnya