TAKDIR

Ahmad Iki Muqimudin
Chapter #10

Cisarua Berdarah

"Bang, berhenti disini!" Ucup berteriak sambil mengetuk-ngetuk kaca belakang mobil losbak. Mobil itu pun langsung berhenti.


Ucup dan Putra langsung melompat turun, sambil mengucapkan terima kasih.


Mata Putra melihat sebuah warteg di seberang jalan. "Cup, makan dulu yuk," ajaknya.


"Nggak usah ngajakin Bang, soal makan mah haha." Ucup tertawa senang, berlari menyebrangi jalan.


Putra menggeleng melihat kelakuan Ucup. Lalu berjalan menyusul.


Ucup sudah duduk dengan sepiring nasi, telur dadar dan sayur. "Duluan Bang," ucapnya sambil menyeruput teh hangat.


"Mbak, makan," Putra menunjuk ikan kembung dan sayur daun singkong. Ia pun duduk, mulai melahap makanannya, terdengar suara sendok beradu dengan piring.


"Alhamdulillah, akhirnya kita bisa makan layak juga." Putra berkata sambil menyalakan sebatang rokok, di hadapannya terlihat piring yang sudah bersih.


Ucup mengangguk, "Enak juga, gawe di proyek, makan dapat, gaji jadinya bersih. Diitung-itung, sehari 120 ribu, kita gawe 25 hari ya Bang, jadi–" Mata Ucup melebar.


Putra menaruh telunjuk di mulutnya, "Sssst."


"Tiga Juta," bisik Ucup.


Putra memegang kepala Ucup, "Nggak segitu Cup, pan lu kasbon gope buat beli celana sama baju. terus rokok?!"


Ucup membuka tasnya, ia mengelus dada melihat amplop putihnya masih tersimpan rapi di atas lipatan baju.


"Sekarang kita kemana Bang? gua mau ngopi dulu, boleh?" tanya Ucup, tangannya mencongkel sisa makanan dengan tusuk gigi.


Putra mengisap rokoknya kuat-kuat. "Pesen dua Cup, sekalian gua mau cerita." Asap rokok melayang-layang di atas kepala Putra.


Ucup melihat asap itu mulai membentuk sebuah tayangan. Matanya melebar, ia mengucek-ucek matanya.


"Sebenarnya–" Putra memulai bercerita.


---



Kabut sore turun lebih cepat di lereng Megamendung. Jalan berliku yang baru saja ramai oleh mobil wisatawan kini tampak sepi. Hanya sesekali suara knalpot motor terdengar menyalip dari kejauhan. Di ujung jalan yang menanjak ke arah kebun teh, seorang pria tampak berjalan tertatih sambil memanggul tas lusuh di bahu kanannya.


Itulah Ahmad Saputra, laki-laki dengan umur sudah mencapai tiga puluh tahun lebih, wajahnya tirus, matanya sayu, dan langkahnya seolah kehilangan arah.


Sudah dua minggu ia meninggalkan Depok setelah menjual rumah warisan tanpa seizin saudara-saudaranya. Semua uang hasil penjualan yang seharusnya dibagi enam, ia bawa pergi, berharap bisa “memulai hidup baru”.


“Dari Depok, Kang?” tanya sopir angkot yang sempat menurunkannya di simpang Megamendung.


“Iya, Kang... cari kerjaan, mungkin bantu-bantu di vila,” jawab Putra sekenanya.


Sopir itu cuma mengangguk. Ia sudah terbiasa mendengar alasan serupa dari banyak pendatang. Tak jarang, orang-orang yang datang ke Cisarua membawa lebih banyak masa lalu daripada harapan.


Malam itu, udara Megamendung begitu dingin. Putra yang tak punya tujuan jelas akhirnya menumpang di warung kopi milik seorang lelaki tua, warung itu berdiri di depan rumah besar bertuliskan:


"Pengobatan Alternatif & Ruqyah Nyi Ageung MegamendungSpesialis Penyembuhan Lahir Batin.”


Lihat selengkapnya