Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #1

Hitung Mundur

Hitung Mundur Tujuh Hari Menuju Hari Bahagia---

Suara ketukan sepatu hak tinggi milik Chafia bergemerincing di atas lantai marmer hitam PT Cipta Reksa Mandiri. Pukul 07.30 pagi, gedung pencakar langit berlantai empat puluh itu baru saja mulai hidup. Para staf bergegas merapikan meja kerja begitu melihat siluet wanita berbalut setelan blazer abu-abu arang tersebut melintas. Chafia tidak sekadar berjalan; ia memimpin ruangan dengan tatapan mata yang tajam, dingin, sekaligus menyimpan ketegasan seorang pemimpin tertinggi perusahaan properti terbesar di ibu kota.

Di usianya yang ke-32, Chafia telah memegang kendali penuh atas imperium bisnis milik keluarganya. Di balik meja kerjanya yang menghadap langsung ke panorama kota Jakarta yang dipadati gedung-gedung tinggi, lembaran dokumen kontrak, grafik saham, serta laporan keuangan menumpuk tanpa henti. Namun, pagi ini, ada satu hal yang membedakan atmosfer di ruang kerjanya dibandingkan hari-hari biasa. Di sudut meja, sebuah kalender meja kayu berukir menunjukkan tanggal merah yang dilingkari tinta merah tebal dengan hitungan mundur: H-7.

Tujuh hari lagi, Chafia bukan lagi hanya dikenal sebagai CEO yang ditakuti dan disegani di dunia korporat. Ia akan mengenakan gaun pengantin putih, berjalan di atas kelopak mawar putih, dan mengucapkan janji suci pernikahan dengan Danendra, seorang arsitek muda berbakat yang telah mengisi hatinya selama tiga tahun terakhir.

"Chafia, laporan akhir untuk proyek Grand Metropolitan sudah diverifikasi oleh tim audit," suara sekretaris pribadinya, Rania, memecah keheningan ruangan. Rania melangkah masuk sambil membawa map tebal berwarna biru tua, namun ekspresinya menyiratkan keraguan.

Chafia menghentikan gerakan jemarinya yang sedang mengetik di atas laptop. Ia mendongak, menatap Rania dengan alis terangkat. "Ada masalah apa lagi, Rania? Jangan katakan ada kontraktor yang mundur di detik-detik akhir."

"Bukan soal proyek, Bu," jawab Rania pelan, menaruh map itu di atas meja. "Tapi... ini undangan susulan dari pihak keluarga Danendra. Ibunya meminta agar ada tambahan lima puluh tamu VIP dari kerabat jauh mereka di Solo. Dan... mereka meminta perubahan menu katering utama menjadi hidangan tradisional khas keraton."

Chafia menghela napas panjang. Udara dingin dari pendingin ruangan seolah membeku di antara mereka. Jari telunjuknya mengetuk pelan permukaan meja kayu. "Pernikahan ini sudah dirancang dengan konsep modern minimalis internasional selama enam bulan terakhir, Rania. Mengubah menu katering seminggu sebelum acara adalah bencana logistik."

"Saya sudah bilang begitu kepada Ibu Danendra, tapi beliau bersikeras bahwa itu adalah tradisi keluarga yang tidak bisa ditinggalkan," ujar Rania dengan nada serba salah.

Chafia menyandarkan punggungnya pada kursi kerja kulit hitamnya. Ia memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Tekanan pekerjaan sebagai CEO yang harus merampungkan akuisisi lahan bernilai ratusan miliar rupiah seolah berbenturan keras dengan detail-detail remeh persiapan pernikahan yang menuntut kesempurnaan.

"Hubungi pihak wedding organizer sekarang," perintah Chafia dengan nada tegas namun terkontrol. "Katakan pada mereka untuk mengakomodasi permintaan tersebut, berapa pun biaya tambahannya. Saya tidak mau ada perselisihan keluarga sebelum hari H."

"Baik, Bu Chafia. Saya akan segera mengurusnya," ucap Rania sebelum berbalik dan meninggalkan ruangan.

Begitu pintu tertutup rapat, Chafia kembali menatap kalender kayu di sudut mejanya. Angka tujuh terpampang nyata, menatap balik seolah menuntut pertanggungjawaban atas setiap detik yang terbuang. Ia meraih ponsel pintar di samping laptopnya, lalu mencari kontak dengan nama 'Danendra❤️'. Tanpa berpikir panjang, ia menekan tombol panggil.

Nada sambung berdering beberapa kali sebelum sebuah suara bariton yang hangat menyapa di ujung sana. "Halo, Calon Pengantin Wanita tersayang. Ada apa di pagi hari yang sibuk ini?"

Suara Danendra seketika meredakan sebagian ketegangan di dada Chafia. Senyum tipis terukir di bibirnya. "Aku baru saja mendapat laporan soal permintaan tambahan tamu dan perubahan menu dari Ibumu."

Terdengar helaan napas berat dari seberang sambungan. "Ah... Maafkan aku, Fia. Aku sudah mencoba membicarakannya dengan Ibu semalam, tapi kamu tahu sendiri bagaimana beliau. Beliau ingin semua keluarga besarnya merasa dihargai."

"Tidak apa-apa,endra," balas Chafia lembut, mencoba menelan ego dan kelelahannya sendiri. "Rania sedang mengurusnya dengan wedding organizer. Semua akan beres. Kamu sendiri bagaimana? Persiapan di lokasi gedung bagaimana?"

"Semua berjalan lancar. Aku baru saja dari lokasi pengecekan dekorasi utama. Warnanya sesuai dengan yang kamu inginkan: putih gading dan abu-abu metalik. Tenang saja, serahkan padaku." Suara Danendra terdengar begitu menenangkan, memberikan jangkar emosional bagi Chafia di tengah badai kesibukan korporat.

"Baguslah kalau begitu. Jangan terlalu lelah, ya. Nanti malam kita harus menghadiri jamuan makan malam bersama investor dari Singapura," pengingat itu meluncur begitu saja dari bibir Chafia.

"Ah, benar juga. Jam delapan malam di restoran Hotel Mulia, kan? Aku akan menjemputmu langsung dari kantormu pukul tujuh."

"Tidak usah repot-repot,endra. Aku bisa langsung kesana dengan mobilku bersama supir kantor," tolak Chafia halus.

"Tidak ada penolakan, Fia. Kita adalah calon suami-istri, meluangkan waktu satu jam di mobil sebelum terjebak macet ibu kota adalah hal minimal yang bisa kulakukan untuk kita." Nada bicara Danendra menyiratkan ketegasan yang manis.

Chafia tidak bisa menahan tawa kecilnya. "Baiklah, Tuan Arsitek. Sampai jumpa nanti malam."

Sambungan terputus. Chafia kembali memfokuskan pandangannya pada layar monitor, namun pikirannya kini melayang jauh melampaui angka-angka laporan keuangan. Tujuh hari lagi, hidupnya akan resmi terikat dengan pria tersebut. Namun di sudut hatinya yang paling dalam, ada sebuah perasaan asing—seperti bayangan tipis yang merayap di balik tirai kemegahan—yang mempertanyakan apakah ia benar-benar siap melepaskan kendali atas segala hal dalam hidupnya demi sebuah komitmen seumur hidup.

❖ ❖ ❖

Hari bergulir cepat bagai badai pasir korporat. Memasuki hari keempat menuju pernikahan, tekanan di kantor PT Cipta Reksa Mandiri mencapai puncaknya. Chafia mendapati dirinya terjebak dalam ruang rapat besar di lantai 35 bersama jajaran direksi dan para pemegang saham utama. Di tengah meja panjang berbalut kayu jati, sebuah dokumen sengketa lahan proyek komersial di kawasan BSD terpampang lebar.

"Kita tidak boleh mundur dari tender ini, Bu Chafia," ujar Pak Hardiman, komisaris utama yang dikenal konservatif dan keras kepala. "Jika kita melepaskan lahan itu kepada kompetitor kita, PT Mega Buana, maka pangsa pasar kita di sektor properti komersial akan merosot tajam dalam dua tahun ke depan."

"Tapi harga penawaran yang diajukan mereka sudah melampaui batas kewajaran valuasi risiko, Pak Hardiman," sanggah Chafia dengan suara tegas, berdiri di ujung meja sambil menunjuk grafik proyeksi kerugian di layar proyektor. "Jika kita memaksakan diri masuk dengan angka tersebut, arus kas perusahaan akan terganggu selama triwulan pertama tahun depan. Itu keputusan yang tidak rasional secara finansial."

"Rasionalitas bisnis terkadang harus dibarengi dengan keberanian mengambil risiko, Chafia!" sergah Hardiman dengan nada tinggi, membuat beberapa direksi lain menunduk, menghindari kontak mata. "Terutama di saat posisi Anda sedang... ah, bagaimana mengatakannya... terpecah konsentrasinya karena urusan pribadi."

Suasana ruang rapat seketika membeku. Kalimat bernada meremehkan itu meluncur begitu saja dari mulut sang komisaris sepuh. Chafia merasakan darahnya berdesir panas, namun ia berhasil mempertahankan ekspresi wajahnya tetap sedingin es. Ia menatap tajam ke arah Hardiman tanpa berkedip.

"Urusan pribadi saya, Pak Hardiman, tidak pernah dan tidak akan pernah mengintervensi keputusan profesional saya di perusahaan ini," ucap Chafia dengan penekanan di setiap suku katanya. "Setiap angka yang saya analisis didasarkan pada data faktual, bukan emosi."

"Kalau begitu, buktikan bahwa Anda bisa menyelesaikan negosiasi akhir dengan pihak pemilik lahan sebelum hari Jumat ini!" tantang Hardiman telak, melipat tangannya di dada. "Jika Anda berhasil mendapatkan harga di bawah batas maksimal kita, saya akan menarik ucapan saya. Tapi jika gagal... pertimbangkan kembali posisi Anda sebagai pengambil keputusan utama menjelang masa cuti panjang pernikahan Anda."

Rapat berakhir dalam ketegangan yang pekat. Chafia melangkah keluar ruangan dengan langkah cepat, diikuti oleh Rania yang membawa segumpal dokumen tambahan. Begitu mereka tiba di ruang kerja pribadi Chafia, Rania langsung menutup pintu kaca buram rapat-rapat.

"Ibu tidak seharusnya meladeni pancingan Pak Hardiman di ruang rapat tadi," kata Rania dengan nada cemas, meletakkan dokumen di atas meja. "Beliau sengaja mencari celah karena tahu Ibu sedang memikirkan banyak hal menjelang pernikahan."

Chafia melempar pena di tangannya ke atas meja hingga mengeluarkan bunyi benturan yang cukup keras. Ia melepas blazer abu-abunya, menyampirkannya di sandaran kursi, lalu melonggarkan kancing atas kemeja putihnya. "Dia meremehkan kapabilitas saya hanya karena saya seorang wanita yang akan menikah, Rania. Dan itu adalah kesalahan terbesar yang bisa dibuat oleh siapa pun di perusahaan ini."

"Lalu apa rencana Ibu? Pemilik lahan itu terkenal sangat sulit diajak kompromi," tanya Rania.

"Saya akan menemuinya langsung malam ini," jawab Chafia tanpa ragu.

Lihat selengkapnya