Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #2

di Balik Pintu

Khianat di Balik Pintu Kaca Ruang Kerja---

Langit sore di atas distrik perkantoran Jakarta bergeser perlahan menjadi kelabu pekat, menyisakan bias jingga pucat yang tersangkut di antara gedung-gedung jangkung pencakar langit. Di lantai dua puluh lima Menara Sapphire, kesunyian mendominasi lorong-lorong berkarpet tebal. Jam dinding digital di sudut resepsionis menunjukkan pukul 18.45 WIB. Sebagian besar karyawan telah lama meninggalkan kubikal mereka, tenggelam dalam kemacetan jam pulang kantor, meninggalkan kesunyian yang hampir sakral di lantai eksekutif tersebut.

Maya berjalan mantap menyusuri koridor, langkah kakinya diredam oleh permukaan karpet wol berwarna arang. Di tangan kanannya, sebuah kantong kertas berisi dua cangkir kopi latte hangat dan sekotak kue keju kesukaan Radit berayun pelan. Hari ini adalah hari jadi hubungan mereka yang ketujuh tahun, sekaligus dua pekan menjelang hari pernikahan mereka yang telah dipersiapkan selama berbulan-bulan. Maya tersenyum kecil ketika mengingat bagaimana Radit, tunangannya yang juga menjabat sebagai direktur operasional muda di perusahaan konsultan itu, bersikap begitu manis dan penuh perhatian selama masa-masa persiapan ini.

"Kamu terlalu sibuk, Sayang. Biar aku yang datang ke kantor malam-malam begini," ucap Maya lirih pada dirinya sendiri, mengulang kalimat yang tadi sempat ia ucapkan di sambungan telepon sebelum baterai ponselnya mendadak hampir habis.

Radit tidak menjawab banyak di telepon tadi. Suaranya terdengar berat, seolah tengah menahan beban pekerjaan yang menumpuk. Namun, bagi Maya, kehadiran fisik adalah bentuk dukungan terbaik. Sebagai seorang arsitek interior yang juga terbiasa bekerja dengan tenggat waktu ketat, Maya sangat memahami betapa melelahkannya dunia korporat tingkat tinggi.

Lorong itu berbelok ke kiri, langsung mengarah ke area privat jajaran direksi. Di ujung lorong, berdirilah sebuah ruangan megah dengan dinding partisi kaca buram setinggi langit-langit—ruang kerja utama milik Radit. Dari luar, lampu gantung kristal di dalam ruangan itu memancarkan cahaya kuning keemasan yang hangat, menciptakan siluet remang-remang yang tampak tenang.

Maya mempercepat langkahnya, tidak sabar untuk memberi kejutan kecil kepada calon suaminya. Namun, tepat ketika ia berjarak tiga meter dari pintu kaca tersebut, langkahnya mendadak terhenti.

Sebuah suara samar lolos dari celah pintu kaca yang tidak tertutup rapat dengan sempurna.

"Kita tidak bisa terus begini, Radit. Risiko ketahuan terlalu besar, terutama sekarang... saat undangan pernikahan kalian sudah mulai disebar ke mana-mana," suara seorang wanita terdengar jelas, tajam, namun berbisik penuh urgensi. Suara itu tidak asing di telinga Maya. Itu adalah suara Sarah, manajer humas perusahaan sekaligus rekan kerja terdekat Radit dalam berbagai proyek strategis.

Jantung Maya berdegup kencang, menghantam tulang rusuknya seolah menuntut penjelasan sebelum otaknya sempat memproses situasi. Kantong kertas di tangannya terasa tiba-tiba menjadi jauh lebih berat.

"Aku tahu, Sarah. Percayalah, aku sedang memikirkan cara terbaik untuk menyelesaikannya tanpa harus membuat segalanya berantakan," balas suara bariton yang sangat dikenal Maya—suara Radit. Nada bicaranya terdengar tenang, terlampau tenang untuk ukuran situasi yang sedang dibahas.

Maya membeku di tempatnya. Udara di lorong itu mendadak berubah menjadi dingin, mencengkeram tenggorokannya hingga sulit bernapas. Kakinya terasa terpaku di atas karpet, menolak untuk maju, namun juga terlalu lemah untuk berbalik dan berlari menjauh.

"Menyelesaikan bagaimana? Membatalkan pernikahan dengan wanita itu? Atau terus hidup dalam kebohongan sementara aku harus puas menjadi bayangan di kantor ini?" suara Sarah terdengar semakin tinggi, menyiratkan keputusasaan yang dipendam. "Tujuh tahun, Radit! Aku sudah menunggumu lebih lama daripada masa pacaranmu dengan Maya!"

"Jangan sekarang, kumohon. Jangan membahas ini di sini," desis Radit, terdengar suara gesekan kursi kulit yang bergeser ke belakang, disusul langkah kaki yang mendekat ke arah pintu kaca.

Maya panik. Insting pertamanya adalah bersembunyi, namun tidak ada tempat berlindung di koridor terbuka itu. Dengan sisa kesadaran yang ada, ia melangkah mundur dua langkah, berusaha mencari sudut pandang yang lebih jelas melalui celah kaca buram yang sedikit tersibak tirai vertikal di bagian dalam.

"Aku lelah menjadi rahasia, Radit. Aku ingin kejelasan malam ini juga," desak Sarah lagi.

Melalui celah kaca yang sempit itu, mata Maya terbelalak lebar. Di dalam ruangan yang terang, ia melihat sosok Radit berdiri terlalu dekat dengan Sarah. Tangan Radit terulur, bukan untuk menepis, melainkan memegang kedua belah bahu Sarah dengan lembut, sementara wajah pria itu condong ke depan, menatap wanita tersebut dengan tatapan yang selama ini Maya yakini hanya diperuntukkan bagi dirinya seorang.

Dunia di sekeliling Maya seakan runtuh seketika. Suara dengung AC sentral di lorong mendadak lenyap, digantikan oleh deru darah yang bergemuruh di dalam telinganya.

❖ ❖ ❖

"Radit... apa yang sebenarnya sedang kalian bicarakan?"

Suara itu keluar begitu saja dari bibir Maya, parau, bergetar hebat, namun berhasil menembus keheningan ruang kerja mewah tersebut.

Di dalam ruangan, gerakan kedua tubuh itu terhenti seketika bagaikan bingkai foto yang mendadak dibekukan. Radit menoleh dengan kepala tersentak kaku ke arah pintu kaca. Wajah pria yang selama ini menjadi pusat dunianya itu memucat pasi dalam hitungan detik. Warna kemerahan dari lampu hangat ruangan mendadak tampak kontras dengan ekspresi horor yang terukir di wajah Radit. Sarah, di sisi lain, langsung menarik mundur tubuhnya, namun sudut bibirnya sempat menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan kemenangan sebelum ia kembali memasang wajah terkejut yang dibuat-buat.

"Maya..." panggil Radit tertahan, suaranya tercekat di kerongkongan. Pria itu melangkah cepat meninggalkan meja kerjanya, menerobos partisi kaca dan mendorong pintu hingga terbuka lebar. "Maya, tunggu... ini tidak seperti yang kamu lihat."

Kalimat itu. Kalimat klise yang paling dibenci oleh setiap orang yang menjadi korban pengkhianatan. Kalimat yang langsung menampar kesadaran Maya bahwa mimpi buruk yang sedang ia saksikan adalah sebuah kenyataan mutlak.

"Tidak seperti yang kulihat?" Maya tertawa hambar, suara tawa yang terdengar begitu hancur dan menyayat hati. Ia melangkah maju, memaksa Radit untuk mundur selangkah ke dalam ruangan. Kantong kertas berisi kopi dan kue keju di tangannya terlepas begitu saja, menghantam lantai karpet dengan suara debum yang tertahan, menumpahkan cairan cokelat panas yang perlahan meresap ke serat kain. "Radit, aku berdiri di sini selama lima menit penuh. Aku mendengar setiap kata yang kalian ucapkan. Aku melihat bagaimana tanganmu menyentuhnya!"

Sarah berjalan perlahan mendekati ambang pintu, merapikan blazer hitamnya dengan gerakan anggun yang disengaja. "Maya, tenanglah dulu. Jangan bersikap berlebihan. Di dunia kerja modern seperti sekarang, batas antara profesionalisme dan kedekatan pribadi kadang memang menjadi sedikit kabur..."

"Diam kamu!" bentak Maya, suaranya memecah keheningan lantai dua puluh lima. Ia menatap tajam ke arah Sarah, sorot matanya menyiratkan kemarahan yang membakar habis sisa-sisa kesabarannya. "Jangan pernah berani ikut campur atau mencoba menceramahiku tentang batasan, saat kamu sendiri jelas-jelas menginjak-injak harga diriku di bawah kakimu!"

Sarah terdiam, namun tidak ada secercah pun rasa bersalah di matanya. Ia menoleh ke arah Radit, seolah menyerahkan seluruh kendali situasi kepada pria itu.

Radit mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, menarik napas panjang dalam upaya sia-sia untuk menenangkan diri. "Maya, kumohon, masuklah dulu ke dalam. Kita bisa bicara baik-baik secara pribadi. Jangan membuat keributan di kantor..."

"Keributan?" Maya menatap Radit dengan tatapan tidak percaya. Air mata yang sejak tadi terbendung di pelupuk matanya akhirnya tumpah, mengalir deras membasahi pipinya, namun ia sama sekali tidak berusaha menghapusnya. "Kamu khawatir tentang keributan di kantor, Radit? Sementara hatiku, rencana masa depan kita, dan tujuh tahun hidupku hancur berkeping-keping di depan matamu sendiri?"

Lihat selengkapnya