Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

Detik-Detik Keputusan

Detik-Detik Keputusan Tanpa Ragu---

Udara pagi di ruang keluarga terasa jauh lebih dingin dari biasanya, meskipun pendingin ruangan tidak sedang dinyalakan. Aroma teh melati hangat mengepul dari cangkir keramik di atas meja kayu jati, namun tak satupun tangan yang terulur untuk menyentuhnya. Di atas meja yang sama, sebuah undangan pernikahan berbalut kertas linen berwarna gading tergeletak terbuka. Huruf-huruf emas tercetak indah di sana, merangkai nama Arini dan Dimas, lengkap dengan tanggal resepsi yang tinggal menghitung minggu.

Arini duduk tegak di sofa panjang berwarna krem. Tatapannya lurus ke depan, menatap kosong pada bingkai foto keluarga yang tergantung di dinding seberang. Di sebelah kanannya, ibunya, Ibu Sartika, meremas ujung selendangnya dengan gelisah, sementara ayahnya, Bapak Wibowo, duduk di kursi singel dengan punggung sedikit membungkuk, menatap lantai seolah mencari jawaban yang hilang di antara serat-serat karpet.

"Arini, kamu benar-benar sudah memikirkan hal ini dengan matang?" suara Ibu Sartika pecah dalam keheningan, sarat dengan kepedihan dan ketakutan yang mendalam. "Undangan sudah dicetak, gedung sudah dibayar separuh, dan katering sudah melakukan konfirmasi menu terakhir. Apa kata tetangga? Apa kata keluarga besar kita nanti?"

Arini menoleh perlahan, menatap mata ibunya yang mulai berkaca-kaca. Ada rasa bersalah yang menusuk dada, tetapi di balik rasa sakit itu, ada keyakinan yang jauh lebih kokoh dari baja. Keyakinan bahwa melanjutkan semua sandiwara ini hanya akan berujung pada kehancuran yang lebih besar bagi mereka berdua.

"Ibu, menikah bukan sekadar mencetak undangan atau menyewa gedung," jawab Arini dengan suara tenang namun tegas, tanpa keraguan sedikit pun. "Menikah adalah tentang hidup bersama seseorang yang bisa dipercaya, seseorang yang menghargai prinsip hidup kita. Dan kemarin, Dimas telah menunjukkan dengan sangat jelas bahwa prinsip itu tidak ada di antara kami."

"Tapi semua orang bisa membuat kesalahan, Rin!" sergah Ibu Sartika, suaranya sedikit meninggi. "Dimas itu manusia biasa. Mungkin dia khilaf, mungkin dia hanya bercanda waktu itu..."

"Bercanda tentang masa depan finansial keluarga dan meminjam uang secara diam-diam tanpa persetujuan? Itu bukan khilaf, Bu. Itu pengkhianatan kecil yang lama-lama akan meruntuhkan fondasi rumah tangga," potong Arini, suaranya tetap terkontrol namun menyimpan ketegasan yang tak terbantahkan.

Bapak Wibowo yang sejak tadi bungkam akhirnya mengangkat wajahnya. Gurat-gurat kelelahan tampak jelas di wajah pria paruh baya itu. Sebagai kepala keluarga, beban moral dan sosial terasa sangat berat di pundaknya, terlebih di tengah masyarakat tradisional tempat mereka tinggal di mana reputasi keluarga adalah segalanya.

"Ayah tidak serta-merta membela Dimas, Nak," ucap Bapak Wibowo dengan suara berat, khas seorang ayah yang tengah menimbang badai yang akan datang. "Ayah juga kecewa setelah mendengar apa yang dia lakukan di belakangmu. Tapi, membatalkan pernikahan sebulan sebelum hari H... itu bukan keputusan kecil. Apakah kamu sudah siap menghadapi badai sosial yang akan menghantam keluarga kita?"

"Ayah, kalau saya tetap melanjutkannya hanya karena takut pada omongan orang, lalu siapa yang akan melindungi kebahagiaan saya seumur hidup? Orang-orang yang bergosip itu tidak akan ikut menanggung air mata saya kalau rumah tangga itu hancur di tengah jalan," balas Arini, meraih tangan ayahnya dan menggenggamnya erat. "Saya sudah memutuskan, Yah. Hari ini, saya akan membatalkan semuanya."

Percakapan itu terhenti ketika suara ketukan pintu terdengar dari luar. Ketukan yang tidak asing—ketukan khas Dimas yang selalu datang dengan terburu-buru setiap kali ingin mengajak Arini pergi. Jantung Ibu Sartika berdegup kencang, sementara Arini menarik napas dalam-dalam, bersiap menghadapi babak penentu dari drama hidupnya.

❖ ❖ ❖

Pintu depan terbuka, dan muncullah Dimas dengan senyum lebarnya, membawa sekotak martabak manis kesukaan Arini di tangan kanannya. Penampilannya tampak rapi seperti biasa, mengenakan kemeja biru muda lengan panjang yang digulung rapi sampai siku. Namun, begitu ia melangkah masuk ke ruang keluarga dan mendapati suasana yang begitu kaku, senyum di wajahnya perlahan memudar.

"Eh? Ada apa ini? Kok suaranya serius banget dari luar?" tanya Dimas, mencoba mencairkan suasana sambil meletakkan kotak martabak di atas meja, tepat di samping undangan pernikahan mereka. Matanya bergantian menatap Bapak Wibowo, Ibu Sartika, dan terakhir berhenti pada wajah Arini yang dingin.

"Duduklah, Dimas," kata Bapak Wibowo dengan nada datar yang langsung membuat bulu kuduk bergidik. Tidak ada sambutan hangat seperti biasanya.

Dimas mengurungkan niatnya untuk duduk di sebelah Arini. Ia memilih berdiri di dekat meja, merasa ada sesuatu yang sangat tidak beres. "Ada apa, Om? Tante? Arini? Kok pada diam begini? Ada masalah soal vendor lagi?"

"Bukan soal vendor, Mas," jawab Arini, berdiri dari sofa untuk menyamakan posisinya dengan Dimas. Ia menatap lurus ke dalam mata pria yang selama dua tahun terakhir ia anggap sebagai pelabuhan terakhirnya. "Duduklah dulu. Apa yang mau kita bicarakan ini butuh kepala dingin."

Dimas akhirnya duduk di sofa tunggal, kedua tangannya saling meremas di atas lutut. "Kamu bikin aku merinding, Rin. Ngomong apa sih? Jangan bikin aku panik."

"Kemarin malam, aku tidak sengaja melihat isi pesan di ponselmu dengan kakakmu," mulai Arini tanpa basa-basi. "Tentang rencana kalian memindahkan tabungan bersama kita untuk menutupi investasi bodong yang kamu ikuti tanpa sepengetahuanku. Dan yang lebih parah, kamu berencana meminjam uang dari pamanmu dengan menjadikan sertifikat rumah masa depan kita sebagai jaminan."

Wajah Dimas seketika pucat pasi. Warna merah muda di pipinya lenyap dalam sekejap, digantikan oleh keringat dingin yang mulai muncul di pelipisnya. Ia membuka mulutnya, tetapi tidak ada suara yang keluar.

"Dimas?" tegur Ibu Sartika dengan nada kecewa yang teramat sangat. "Betul apa kata Arini? Kamu berani mengambil keputusan sebesar itu tanpa merundingkannya dulu dengan calon istrimu?"

"Tante... Om... itu..." Dimas tergagap, mencoba mencari-cari alasan. "Itu cuma rencana awal! Belum tentu saya lakukan! Kakak saya cuma kasih saran, tapi saya belum ambil keputusan apa-apa!"

"Rencana awal atau bukan, niat itu sendiri sudah cukup membuktikan bagaimana caramu memandang sebuah pernikahan, Mas," potong Arini, suaranya tenang namun menghujam tajam. "Pernikahan itu kemitraan yang setara. Kalau sebelum menikah saja kamu sudah berani merencanakan hal sebesar itu di belakangku, bagaimana kalau kita sudah terikat dalam satu atap?"

"Rin, kamu terlalu dibesar-besarkan masalah ini!" suara Dimas mulai meninggi, nada defensifnya keluar bersamaan dengan rasa malunya yang tertangkap basah. "Namanya juga usaha! Laki-laki itu harus berani ambil risiko! Kalau aku tidak ambil kesempatan itu, kapan lagi kita bisa punya aset lebih cepat?"

"Risiko yang kamu ambil menggunakan masa depanku, Dimas!" Arini balas menatap dengan mata menyala. "Dan yang paling menyakitkan, kamu berbohong saat aku tanya baik-baik semalam. Kamu bilang itu cuma urusan keluarga biasa."

Suasana di ruangan itu mendadak membeku. Ibu Sartika menunduk sambil mengelus dadanya, sementara Bapak Wibowo mengepalkan tangan di atas lutut. Di titik ini, jepit tekanan emosional mencapai batas tertingginya; antara menyelamatkan muka keluarga di depan masyarakat atau menyelamatkan masa depan jiwa Arini dari pernikahan yang rapuh.

Lihat selengkapnya