Bayang-Bayang Tenggat Waktu 3 Hari---
Langit Jakarta di luar jendela kaca lantai dua puluh delapan gedung Artha Cipta Media tampak kelam, bergelung dalam selimut awan mendung yang siap menumpahkan air mata musim. Di dalam ruangan kerja yang luas namun terasa menyesakkan itu, Aryo menatap layar monitor dengan tatapan kosong. Angka-angka merah di laporan keuangan kuartal ini berkedip-kedip bagaikan detak jantung terakhir pasien di ruang pemeliharaan hidup.
"Aryo, kamu dengar apa yang baru saja saya katakan?" suara berat dan penuh tekanan memecah keheningan ruangan.
Hendra, komisaris utama sekaligus sahabat mendiang ayah Aryo, berdiri di dekat jendela sambil melipat tangan di dada. Wajahnya yang mulai berkerut menyimpan beban berat yang telah ia pikul selama beberapa bulan terakhir.
Aryo mengalihkan pandangannya dari layar monitor, menatap pria paruh baya yang sudah dianggap sebagai pamannya sendiri. "Saya dengar, Om Hendra. Tapi saya masih sulit percaya kalau situasinya seburuk ini."
"Kebanksrutan tidak pernah mengetuk pintu dengan sopan, Aryo," balas Hendra tajam namun sarat kepedihan. "Ayahmu membangun perusahaan percetakan dan penerbitan ini dari nol selama tiga puluh tahun. Beliau mempertaruhkan segalanya, termasuk kesehatannya. Tapi dalam waktu kurang dari enam bulan sejak beliau tiada, pengelolaan yang salah dan beban utang jatuh tempo membuat kapal ini hampir karam."
Aryo mengepalkan tangan di atas meja kerjanya. Buku-buku jarinya memutih. "Saya tahu persis apa arti perusahaan ini bagi almarhum Ayah. Ini bukan sekadar bisnis, ini adalah rumah kedua kami. Makanya saya rela meninggalkan karier saya di luar negeri demi kembali ke sini."
"Kembali saja tidak cukup, Aryo," Hendra mendesah berat, lalu berjalan mendekati meja kerja dan meletakkan sebuah map tebal berwarna merah marun tepat di hadapan pemuda itu. "Surat peringatan terakhir dari bank sudah di tangan. Tenggat waktu pelunasan sisa pinjaman sebesar dua belas miliar rupiah jatuh tepat dalam waktu tiga hari dari sekarang. Jika kita gagal membayar atau mendapatkan suntikan dana segar, aset perusahaan akan disita, dan nama baik keluarga kalian akan hancur lebur."
Aryo membuka map tersebut dengan jemari yang sedikit bergetar. Halaman demi halaman berisi dokumen hukum, perjanjian kredit, dan daftar aset yang siap dilelang terpampang nyata di depan matanya. Angka-angka itu seperti palu hakim yang menghantam kepalanya. Tiga hari. Hanya tujuh puluh dua jam untuk menyelamatkan warisan hidup seorang ayah yang telah berpulang.
"Tiga hari..." bisik Aryo lirih, nyaris tak terdengar. "Bagaimana mungkin kita mencari dua belas miliar dalam waktu sependek itu? Bank-bank lain sudah menutup pintu rapat-rapat untuk kita."
"Satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah investor lama kita, Pak Baskoro," ujar Hendra seraya menarik kursi dan duduk di depan Aryo. "Tapi kamu tahu sendiri watak orang itu. Dia rubah berbulu domba. Dia mengincar seluruh saham mayoritas perusahaan kita dengan harga murah."
Aryo mendongak cepat, sorot matanya menyala penuh penolakan. "Baskoro? Tidak. Ayah selalu bilang, berurusan dengan Baskoro sama saja dengan menjual jiwa kepada iblis. Dia akan merendahkan kita, lalu membuang karyawan setia kita satu per satu."
"Kalau begitu, apa pilihanmu yang lain?" tantang Hendra, menatap tajam ke dalam mata Aryo. "Biarkan perusahaan ini disita pengadilan? Biarkan ratusan karyawan di lantai bawah kehilangan pekerjaan mereka minggu depan? Pikirkan matang-matang, Aryo. Ini bukan lagi soal idealisme masa muda atau harga dirimu. Ini soal kelangsungan hidup banyak orang."
Suasana di dalam ruangan mendadak membeku. Udara terasa semakin tipis. Aryo bersandar di kursi kerjanya, memejamkan mata sejenak. Bayangan wajah mendiang ayahnya yang tersenyum bangga saat meresmikan mesin cetak pertama berkelebat di benaknya, kontras dengan kenyataan pahit hari ini.
"Saya tidak akan menyerah begitu saja, Om," kata Aryo pelan namun tegas, membuka matanya kembali dengan kilau tekad yang kuat. "Saya masih punya waktu tiga hari. Saya akan temui setiap relasi, setiap bankir, setiap orang yang pernah berutang budi pada Ayah. Pasti ada celah."
"Jangan naif, Aryo," sahut Hendra menggelengkan kepala perlahan. "Waktu tiga hari itu berjalan sangat cepat. Jangan sampai kesombonganmu justru menghancurkan sisa-sisa puing perusahaan ini."
❖ ❖ ❖
Matahari baru saja bergeser sepenggalah ketika Aryo melangkah keluar dari lift gedung Bank Danadyaksa. Kemeja putih yang ia kenakan sudah basah oleh keringat dingin, bukan karena cuaca Jakarta yang terik, penolakan telak dari pihak bank baru saja meremukkan sisa-sisa harapannya.
"Maaf, Pak Aryo, komite kredit kami telah meninjau ulang proposal restrukturisasi utang dari Artha Cipta Media," ucap kepala cabang bank tersebut tadi, dengan senyum penuh formalitas yang terasa sangat memuakkan. "Tanpa jaminan tambahan senilai minimal sepuluh miliar di luar aset yang ada, kami tidak dapat memperpanjang tenggat waktu tiga hari tersebut."
Aryo berjalan gontai menuju mobilnya yang terparkir di basement. Pikirannya berdengung keras. Pintu pertama telah tertutup rapat. Masih ada dua hari lagi, tapi rasanya beban di pundaknya bertambah sepuluh kali lipat setiap detik jarum jam berputar.
Ponsel di saku celananya bergetar hebat. Aryo segera mengangkatnya tanpa melihat layar.
"Halo, Aryo?" suara Maya, sekretaris senior ayahnya yang telah bekerja selama dua belas tahun, terdengar cemas di ujung sambutan. "Kamu di mana? Situasi di kantor semakin gentar. Para vendor kertas dan tinta datang beramai-ramai ke lantai satu. Mereka menuntut pelunasan faktur yang sudah jatuh tempo bulan lalu. Mereka mengancam akan menyegel gudang logistik kita sore ini juga!"
Aryo memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk meredam kepanikan yang mulai merayap di dadanya. "Tenangkan mereka, Maya. Katakan saya sedang dalam perjalanan kembali ke kantor. Jangan biarkan mereka membuat keributan yang bisa memancing media."
"Tapi, Aryo... beberapa dari mereka sudah mulai merekam pakai ponsel. Kalau berita ini sampai bocor ke media sosial atau portal berita ekonomi, saham kita di pasar gelap akan langsung anjlok bebas," balas Maya dengan nada gemetar.
"Saya segera ke sana. Tunggu saya," kata Aryo sebelum mematikan sambungan telepon.
Sesampainya di lobi utama Artha Cipta Media, pemandangan yang menyambut Aryo benar-benar di luar kendali. Puluhan orang berpakaian rapi berdiri bergerombol di dekat meja resepsionis. Suara protes bergemuruh memenuhi ruangan luas berlapis marmer itu. Beberapa satpam tampak kewalahan menahan kerumunan vendor yang bersikeras ingin menerobos masuk ke ruang administrasi keuangan.
"Mana pimpinan perusahaan kalian?! Jangan cuma bersembunyi di balik staf administrasi!" teriak seorang pria bertubuh gempal yang mengenakan jaket kulit hitam, yang belakangan diketahui bernama Hardi, pemilik salah satu suplier kertas terbesar di Jakarta.
Aryo menerobos kerumunan dengan langkah tegap, meski jantungnya berdegup kencang. Ia berdiri di tengah-tengah lobi, mengangkat tangan sedikit untuk menarik perhatian semua orang.
"Bapak-bapak dan Ibu sekalian, tenanglah," seru Aryo dengan suara lantang namun tetap terkontrol. "Saya Aryo, putra mendiang pendiri perusahaan ini. Saya bertanggung jawab penuh atas situasi saat ini."
Suasana di lobi mendadak mereda beberapa tingkat. Semua mata tertuju pada pemuda berusia akhir dua puluhan itu. Hardi melangkah maju dengan tatapan meremehkan, melipat tangan di depan dada.
"Oh, jadi kamu anaknya Pak Hartono? Baguslah kalau kamu berani menampakkan muka," sinis Hardi. "Perusahaan kalian sudah menunggak pembayaran selama empat bulan. Total tagihan saya saja hampir dua miliar rupiah. Kalau hari ini kalian tidak bayar, gudang kertas di Cakung akan saya kunci permanen, dan tidak ada satupun lembar kertas yang akan dikirim ke sini!"
Bisik-bisik langsung merebak di antara para vendor lainnya. Tekanan di pundak Aryo terasa bagaikan batu seberat ribuan ton. Tenggat waktu tiga hari dari bank belum selesai, kini ia harus menghadapi ancaman penyegelan fisik dari para suplier utama.
"Pak Hardi, saya paham betul posisi Anda," jawab Aryo dengan nada tenang, berusaha menyembunyikan kegusarannya. "Kerugian yang Anda alami adalah tanggungan kami. Tapi menyegel gudang tidak akan mempercepat pembayaran uang Anda. Justru kalau operasional kami berhenti total, dari mana kami bisa mendapatkan pemasukan untuk melunasi utang-utang tersebut?"
"Itu bukan urusan saya!" bentak Hardi. "Kami juga punya karyawan yang harus digaji, punya pabrik yang harus berputar. Jangan ajarkan saya teori bisnis kalau dompet perusahaan kalian sudah kosong melompong!"
Beberapa vendor lain mengangguk setuju, mendukung perkataan Hardi. Aryo menyadari, dalam situasi seperti ini, logika dingin saja tidak akan cukup. Ia butuh lebih dari sekadar janji kosong.
"Dengar," Aryo menatap Hardi tepat di matanya tanpa sedikit pun gentar. "Saya minta waktu tepat empat puluh delapan jam dari sekarang. Saya berjanji akan melunasi setidaknya separuh dari total tagihan Anda secara tunai, dan sisanya dicicil dalam dua minggu. Jika dalam waktu tersebut saya ingkar janji, silakan sita seluruh isi gudang logistik kami tanpa perlawanan."
Hardi tertegun sejenak, meneliti ekspresi wajah Aryo untuk mencari tanda-tanda kebohongan. Di mata pemuda itu, ia tidak menemukan kepanikan kosong, melainkan ketegasan seorang kapten yang menolak meninggalkan kapalnya yang sedang tenggelam.
"Dua hari..." gumam Hardi sinis. "Baiklah, anak muda. Saya pegang omonganmu. Tapi ingat, kalau sampai lusa tidak ada transfer masuk ke rekening saya, saya sendiri yang akan datang membawa tukang kunci untuk menyegel seluruh gedung ini."
Kerumunan perlahan-lahan membubarkan diri dengan gerutuan ketidakpuasan, meninggalkan Aryo berdiri seorang diri di tengah lobi yang kembali sunyi. Maya berjalan mendekatinya dengan wajah pucat pasi.
"Aryo... apa yang kamu lakukan? Dari mana kita bisa dapat uang tunai untuk bayar separuh tagihan Hardi lusa besok? Kas perusahaan di bank tinggal beberapa puluh juta saja!" bisik Maya cemas.