Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

Langkah Kaki

Langkah Kaki yang Tersesat di Persimpangan

---

Malam di ibu kota merangkak pelan, membawa sisa-sisa gerimis yang meninggalkan kilau basah di atas aspal jalanan protokol. Lampu-lampu reklame neon memantulkan warna merah dan biru ke dalam kabin sedan hitam yang melaju tenang membelah kepadatan lalu lintas. Chafia merapatkan mantel wol abu-abunya. Napasnya mengepul tipis saat ia mengembuskan udara lewat sela bibirnya, menatap kosong ke luar jendela kaca yang berembun.

"Kamu yakin tidak mau diantar sampai ke lobi utama, Mbak Chafia?" suara sopir paruh baya bernama Pak Karto memecah keheningan kabin, terdengar hati-hati lewat pantulan kaca spion tengah. "Di depan sepertinya cukup ramai karena ada pameran seni."

Chafia menoleh perlahan, tersenyum tipis untuk menenangkan kekhawatiran pria tua itu. "Tidak perlu, Pak Karto. Turunkan saja saya di area drop-off samping gedung galeri. Saya masih ingin berjalan kaki sebentar untuk menikmati udara malam. Lagi pula, pameran baru akan dimulai satu jam lagi."

"Baiklah, kalau itu mau Mbak. Tapi tetap hati-hati dengan barang bawaan Anda. Tas dokumen itu kelihatannya penting sekali," pesan Pak Karto sambil menepikan kendaraannya dengan mulus di dekat pilar beton bernomor empat.

"Terima kasih, Pak. Hati-hati di jalan pulang," jawab Chafia seraya membuka pintu mobil dan melangkah keluar.

Udara malam langsung menyergap kulit wajahnya yang pucat. Chafia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengisi rongga dadanya dengan oksigen segar guna meredakan debaran jantung yang sejak sore terasa tidak karuan. Sebagai seorang kurator seni muda yang baru saja dipercaya memegang pameran tunggal berskala internasional, beban di pundaknya terasa berkali-kali lipat lebih berat dari biasanya. Hari ini adalah malam pratinjau eksklusif—sebuah gerbang penentu apakah kariernya akan melesat atau justru runtuh seketika.

Ia berjalan menyusuri koridor samping yang diterangi lampu-lampu taman bernuansa kuning temaram. Langkah kakinya bergemerincing pelan di atas paving block yang basah. Di tangan kanannya, ia mendekap erat sebuah tas kerja kulit berwarna cokelat tua yang berisi dokumen rahasia, katalog cetak terbatas, serta sertifikat keaslian karya seni utama yang akan dipamerkan malam ini.

"Fokus, Chafia. Semua persiapan sudah matang selama enam bulan terakhir. Tidak ada ruang untuk kesalahan," gumamnya pelan pada diri sendiri, mencoba meyakinkan rasa percaya dirinya yang kerap goyah akhir-akhir ini.

Tanpa ia sadari, dari arah berlawanan, sesosok pria berjas gelap dengan payung hitam di tangan berjalan tergesa-gesa sambil menelepon menggunakan earphone nirkabel. Pria itu adalah Arkan—seorang konsultan hukum senior yang baru saja menyelesaikan negosiasi alot di gedung seberang. Pikirannya sedang melayang pada klausul kontrak yang rumit, membuat perhatiannya terpecah antara layar ponsel dan jalanan di hadapannya.

"Saya tidak peduli apa dalih mereka, pastikan pasal arbitrase itu tetap dimasukkan dalam draf final," ujar Arkan dengan nada tegas namun rendah ke arah mikrofon kecil di telinganya. "Kirim ulang dokumennya ke surel saya sebelum jam sepuluh malam ini."

Langkah kaki yang terburu-buru itu membuat Arkan tidak sempat mengantisipasi tikungan tajam di dekat pilar sudut galeri.

Bruk!

Tabrakan keras tak terhindarkan. Tas kulit di tangan Chafia terlepas dari dekapan, melayang sejenak di udara sebelum menghantam lantai batu dengan suara gedebuk yang nyaring. Sementara itu, ponsel di tangan Arkan terlempar jauh ke atas rumput basah, dan payung hitamnya terlipat paksa akibat hantaman tubuh mereka yang saling berbenturan.

Chafia terhuyung ke belakang, hampir saja kehilangan keseimbangan seandainya tangan kirinya tidak sigap berpegangan pada tiang lampu taman. Napasnya tersengal karena terkejut. Rasa sakit langsung menjalar di bahu kanannya yang berbenturan langsung dengan dada bidang pria asing di hadapannya.

"Ya Tuhan! Apa yang Anda lakukan?! Jalan seluas ini kenapa masih bisa menabrak orang?!" seru Chafia dengan nada tinggi, kemarahan seketika melenyapkan rasa gugupnya.

Arkan, yang juga terdorong mundur dua langkah, segera merapikan kerah jasnya dengan gerakan cepat. Alisnya yang tebal berkerut tajam, menatap wanita di depannya dengan kilatan mata yang memancarkan ketidaksenangan. Ia tidak terbiasa disalahkan begitu saja, terlebih dalam situasi di mana ia sedang sibuk menangani kasus bernilai miliaran rupiah.

"Maafkan saya, Nona. Tapi jika Anda lebih memperhatikan arah jalan alih-alih melamun di tikungan sempit seperti ini, insiden barusan pasti tidak akan terjadi," balas Arkan dengan suara bariton yang dingin dan terukur, sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah yang berarti.

Chafia membelalakkan mata tidak percaya mendengar jawaban tersebut. Ia membungkuk dengan cepat untuk memungut tas kerjanya yang terbuka di atas lantai, lalu berdiri tegak sambil menatap tajam ke arah pria tinggi berwajah tegas di depannya.

"Melamun? Anda yang berjalan tergesa-gesa sambil menatap ponsel tanpa melihat sekitar, lalu berani-an menuduh saya?!" Chafia mendengus keras, dadanya naik-turun karena emosi. "Lihat ini! Resleting tas saya rusak, dan kalau dokumen di dalamnya sampai basah atau rusak, Anda harus bertanggung jawab penuh atas kekacauan ini!"

Arkan menghela napas panjang, memutar bola matanya sekilas sebelum menunduk untuk mengambil ponselnya yang jatuh di rumput. Ia mengusap layar ponsel tersebut dengan saputangan kain dari saku jasnya, memastikan benda itu tidak mengalami kerusakan fatal.

"Nona, waktu saya sangat berharga. Jika kerugian material yang Anda maksud adalah masalah tas atau dokumen, sebutkan saja nominalnya, saya bisa menggantinya sepuluh kali lipat sekarang juga," kata Arkan dengan nada meremehkan, suaranya terdengar begitu datar seolah uang bisa menyelesaikan segalanya.

Mendengar ucapan itu, darah Chafia mendidih seketika. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Arkan tanpa rasa gentar sedikit pun, meski tinggi badan mereka terpaut cukup jauh.

"Uang? Anda pikir segalanya bisa dinilai dengan uang?!" Chafia menatap lekat-lekat manik mata hitam Arkan yang dingin. "Dokumen di dalam tas ini bukan sekadar kertas biasa! Ini adalah hasil kerja keras selama berbulan-bulan yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan lembaran uang dari dompet mahal Anda!"

Arkan terpaku sejenak. Untuk pertama kalinya dalam kurun waktu yang lama, ada seorang wanita yang berani menatap matanya tajam tanpa rasa ciut, bahkan membentak di tempat umum dengan argumen yang begitu telak menghujam harga dirinya. Ia mengamati wajah Chafia yang memerah karena marah; sorot mata wanita itu memancarkan ketegasan yang luar biasa di balik sisa-sisa kepenatan malam.

"Anda... benar-benar keras kepala untuk ukuran seseorang yang hampir menjatuhkan saya tadi," ucap Arkan, kali ini dengan nada bicara yang sedikit menurun intensitas ketus-nya, meski bibirnya masih terkatup rapat membentuk garis lurus.

"Dan Anda adalah definisi sempurna dari seorang arogan yang sombong!" balas Chafia tandas. Ia menyambar tasnya yang kini sudah tertutup rapat, lalu berbalik badan dengan penuh kemarahan. "Jangan pernah temui saya lagi di tempat ini!"

Chafia melangkah pergi dengan hentakan kaki yang kuat, meninggalkan Arkan berdiri sendiri di bawah temaram lampu taman dengan sejuta kebingungan yang tiba-tiba menggelayuti benaknya.

❖ ❖ ❖

Di dalam ruang galeri utama yang megah berlantai marmer putih, suasana seharusnya terasa tenang dan penuh kekhidmatan seni. Namun, bagi Chafia yang baru saja masuk melalui pintu samping dengan napas memburu, ruangan itu terasa bagai arena pertarungan tanpa belas kasihan. Lampu sorot gantung menyoroti instalasi patung logam besar di tengah ruangan, sementara para tamu undangan VVIP mulai berdatangan mengenakan pakaian malam terbaik mereka.

"Chafia! Ke mana saja kamu dari tadi? Ponselmu tidak bisa dihubungi!" suara Maya, sahabat sekaligus rekan sesama kurator, terdengar panik saat ia berlari kecil menghampiri Chafia di dekat meja registrasi. "Tamu kehormatan kita dari lembaga kebudayaan nasional sudah tiba, dan mereka menanyakan katalog cetak edisi khusus yang ada di dalam tasmu!"

Lihat selengkapnya