Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #6

Keheningan

Keheningan di Balik Kesederhanaan Pesantren---

Suara deburan angin malam yang menembus celah-celah ventilasi kayu terdengar begitu syahdu di balik dinding tembok putih yang mulai mengelupas. Di sebuah ruangan berukuran tiga kali empat meter beralaskan tikar pandan tipis, Arkan duduk bersila dengan punggung bersandar pada dinding batu bata yang dingin. Di pangkuannya, sebuah kitab kuning tebal terbuka lebar di bawah temaram cahaya lampu bohlam lima belas watt yang tergantung seutas kabel hitam di tengah ruangan.

Bagi sebagian orang, kesederhanaan pesantren di pelosok Kabupaten Kendal ini mungkin tampak seperti tempat pelarian dari hiruk-pikuk dunia modern. Namun bagi Arkan, tempat inilah satu-satunya ruang di muka bumi di mana ia bisa menemukan kembali sisa-sisa kewarasannya setelah badai masa lalu menghantam kehidupannya tanpa ampun.

Di usianya yang kini menginjak kepala tiga, Arkan dikenal oleh para santri dan para pengasuh pondok sebagai sosok guru ngaji yang sabar, tenang, dan nyaris tidak pernah meninggikan suaranya. Tidak ada yang menyangka bahwa di balik jubah putih sederhana dan kopiah hitam usang yang selalu ia kenakan, tersimpan masa lalu kelam sebagai salah satu arsitek muda paling cemerlang di ibu kota yang pernah memegang proyek-proyek konstruksi bernilai ratusan miliar rupiah.

"Ustadz Arkan," sebuah suara pelan memecah keheningan malam. Pintu kayu kamar santri terbuka sedikit, memunculkan wajah seorang remaja berusia belasan tahun dengan sarung melilit longgar di pinggangnya. Itu adalah Farhan, salah satu santri mukim yang paling rajin mendampinginya belajar malam.

Arkan mengangkat wajahnya dari lembaran kitab beraksara Arab gundul tersebut. Ia tersenyum ramah, garis-garis kelelahan di sekitar matanya seketika melunak. "Masuk, Farhan. Ada yang masih belum jelas dari bab fiqih muamalah yang kita diskusikan tadi sore?"

Farhan melangkah masuk dengan sopan, duduk bersila di hadapan Arkan sambil meletakkan sebuah buku tulis kumal di atas tikar. "Ibn, saya masih bingung soal klausul akad dalam transaksi modern yang Ustadz jelaskan kemarin. Apakah sistem bagi hasil di bank syariah benar-benar bersih dari unsur spekulasi yang merugikan?"

Arkan menutup kitab kuning di pangkuannya dengan hati-hati. Ia menatap remaja di hadapannya dengan tatapan penuh perhatian. Pertanyaan itu sederhana, namun memancing memori Arkan kembali melayang pada masa-masa ketika ia masih berkutat di ruang rapat lantai atas gedung pencakar langit Jakarta, berdebat sengit mengenai kontrak investasi bernilai fantastis dengan para direktur korporat yang dingin.

"Pertanyaan yang sangat bagus, Farhan," jawab Arkan dengan suara baritonnya yang tenang dan berwibawa. "Dalam dunia bisnis modern, manusia sering kali melupakan esensi dari sebuah akad. Mereka hanya melihat angka keuntungan, tanpa peduli apakah ada pihak yang dirugikan atau dizalimi di balik perjanjian tersebut. Padahal, inti dari setiap ikatan adalah kejujuran dan keberkahan."

"Tapi bukankah di kota besar, kalau kita terlalu jujur dalam bisnis, kita justru akan disingkirkan oleh para pesaing yang menghalalkan segala cara, Ustadz?" tanya Farhan polos, mencerminkan keraguan seorang anak muda yang baru mengenali kerasnya dunia luar.

Arkan tersenyum pahit, sebuah senyuman yang menyembunyikan luka lama yang belum sepenuhnya mengering. Ia meletakkan tangannya di atas bahu remaja itu pelan. "Itulah ujiannya, Farhan. Dunia luar memang penuh dengan tipu daya dan ambisi yang membutakan mata. Tapi ingatlah satu hal: kehilangan harta atau jabatan di dunia ini tidak ada apa-apanya dibandingkan kehilangan integritas dan ketenangan hati."

Sebelum Farhan sempat merespons, suara dering ponsel tua berjenis feature phone—satu-satunya alat komunikasi yang Arkan gunakan di pesantren ini—berdering nyaring dari atas meja kayu kecil di sudut kamar. Suara itu terasa begitu kontras dengan keheningan malam pesantren yang biasanya hanya diisi oleh suara jangkrik dan deburan angin malam.

Arkan menghela napas pendek. Ia merogoh saku jubahnya, lalu mengambil ponsel tersebut. Layar kecil itu menampilkan sebuah nomor tak dikenal dengan kode area Jakarta. Sudah bertahun-tahun ia sengaja memutuskan segala akses dengan dunia lamanya, mengganti nomor telepon, dan menghilang dari radar pergaulan sosial elite ibu kota. Namun, bayang-bayang masa lalu itu rupanya tidak pernah benar-benar mati; mereka selalu tahu cara menembus tembok pertahanan paling sunyi sekalipun.

"Ustadz... ada telepon penting?" tanya Farhan ragu melihat perubahan ekspresi di wajah gurunya.

"Tidak apa-apa, Farhan," jawab Arkan tenang, mencoba menyembunyikan gejolak kecil di dadanya. "Lanjutkan bacaanmu sampai halaman empat puluh. Nanti saya akan kembali untuk mendengarkan hafalanmu."

Farhan mengangguk patuh dan kembali fokus pada buku catatannya. Arkan berdiri perlahan, melangkah menuju teras kamar yang menghadap langsung ke halaman pesantren yang diterangi cahaya lampu neon temaram. Di bawah naungan langit malam Kendal, ia menekan tombol hijau pada ponselnya dan menempelkannya ke telinga.

❖ ❖ ❖

"Halo," ucap Arkan singkat, suaranya terdengar datar namun tegas, siap menghadapi apa pun berita yang datang dari seberang sambungan.

"Arkan..." suara seorang wanita paruh baya menyapa dari ujung sana. Nada suara itu bergetar hebat, sarat akan keputusasaan dan air mata yang tertahan. "Ibu mohon... pulanglah ke Jakarta, Nak. Setidaknya untuk satu hari ini saja."

Jantung Arkan seakan berhenti berdetak untuk sepersekian detik. Suara itu adalah suara ibunya, Ibu Lestari—wanita yang selama bertahun-tahun ia hormati sekaligus iahindari demi menjaga jarak dari dunia yang telah menghancurkan hidupnya.

"Ibu," ucap Arkan, suaranya melunak namun tetap menjaga jarak. "Kita sudah membicarakan hal ini berkali-kali. Kehidupanku bukan lagi di Jakarta. Pesantren ini adalah duniaku sekarang. Kenapa Ibu menelepon selarut ini? Ada apa?"

Di seberang sambungan, isak tangis tertahan terdengar jelas. Ibu Lestari tidak langsung menjawab pertanyaan putranya. Suara napasnya yang berat mencerminkan beban batin yang luar biasa. "Danendra... adikmu, Arkan... atau lebih tepatnya, calon adik iparmu... sedang mengalami kekacauan besar."

Kening Arkan langsung berkerut dalam. Nama adiknya, Danendra, jarang sekali disebut dalam percakapan mereka sejak Arkan memutuskan mengasingkan diri. "Ada apa dengan Danendra? Bukankah beberapa hari lagi dia akan melangsungkan pernikahan besar dengan seorang CEO wanita terkemuka di Jakarta?"

"Pernikahan itu... di ambang kehancuran, Arkan!" seru Ibu Lestari dengan nada putus asa. "Kemarin malam, terjadi pertengkaran hebat di antara mereka berdua di sebuah restoran mewah di Menteng. Danendra merasa diremehkan karena calon istrinya lebih mementingkan urusan korporat ketimbang acara keluarga. Dan tadi pagi... pagi buta menjelang hari pemberkatan... Danendra menghilang dari kamar hotel. Ponselnya mati, dan pihak keluarga wanita sedang mencarinya ke mana-mana!"

Udara malam pesantren yang sejuk mendadak terasa menyesakkan dada Arkan. Ia mengepal tangan kirinya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Meskipun ia telah memilih jalan hidup sebagai seorang santri dan guru ngaji yang menjauhi kemewahan duniawi, ikatan darah dengan keluarganya tidak serta-merta putus begitu saja. Danendra tetaplah adik kandungnya—darah daging yang dulu sering ia bimbing saat mereka masih bersama di bawah didikan keras sang ayah.

"Bagaimana bisa Danendra berbuat sembrono seperti itu?" tanya Arkan dengan nada dingin namun terselip rasa cemas. "Menghilang di hari pernikahannya sendiri? Itu bukan hanya merusak reputasinya, tapi juga mempermalukan keluarga besar kita di hadapan publik ibu kota."

"Justru karena itulah Ibu meneleponmu, Arkan!" pinta Ibu Lestari memohon. "Hanya kamu satu-satunya orang di keluarga ini yang memiliki kepala dingin dan kebijaksanaan untuk mencari dan menyadarkan Danendra. Ibu mohon... bantu adikmu. Selamatkan muka keluarga kita sebelum skandal ini menjadi konsumsi media nasional."

Arkan terdiam seribu bahasa. Matanya menatap hamparan sawah di kejauhan yang terbentang gelap di bawah sinar bulan sabit. Panggilan itu adalah sebuah ujian berat—sebuah tarikan kuat yang mencoba menariknya kembali ke dalam kubangan konflik duniawi yang selama bertahun-tahun ia hindari dengan susah payah. Di satu sisi, ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah menginjakkan kaki lagi di rimba beton Jakarta. Di sisi lain, ada ikatan darah yang memanggilnya untuk turun tangan di saat keluarganya berada di jurang kehancuran.

"Ibu," ucap Arkan pelan, suaranya terdengar berat penuh pertimbangan. "Berikan aku waktu satu jam untuk berpikir. Aku akan menghubungi Ibu kembali."

Sambungan terputus. Arkan menurunkan ponselnya, menatap layar kecil yang kini kembali gelap. Di dalam keheningan malam pesantren, ia harus membuat keputusan yang akan mengubah jalan hidupnya sekali lagi.

❖ ❖ ❖

Keputusan itu tidak diambil dengan mudah. Setelah sambungan telepon dari ibunya ditutup, Arkan melangkah kembali ke dalam kamar kecilnya. Farhan masih tekun membaca buku catatannya, tidak menyadari badai batin yang tengah melanda gurunya.

Lihat selengkapnya