Istikharah di Sepertiga Malam---
Suara angin malam berembus pelan di luar jendela kaca kamar Arkan, membawa serta dinginnya sisa hujan yang mengguyur ibu kota selepas magrib tadi. Jam dinding antik bergaya klasik di sudut kamar menunjukkan pukul 02.15 WIB. Di luar sana, lampu-lampu jalanan kota berpendar remang menembus kaca jendela yang berembun, menciptakan suasana sunyi yang teramat dalam, seolah seluruh dunia sedang tertidur lelap dan membiarkan Arkan sendirian dengan segala gemuruh di dalam kepalanya.
Arkan duduk bersila di atas sajadah tebal berwarna hijau tua, mengenakan sarung katun dan baju koko putih polos yang telah sedikit kusut. Di hadapannya, Al-Qur'an berukuran sedang terbuka dengan posisi tengkurap di atas meja kecil, baru saja ia tutup beberapa menit lalu setelah melantunkan ayat-ayat suci sebagai penenang jiwa. Namun, ketenangan yang ia harapkan tak kunjung datang sepenuhnya. Napasnya masih terasa berat, dan degup jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Pikiran Arkan melayang kembali pada percakapan sore tadi di ruang kerja utama kantor pusat. Pertemuan tertutup itu hanya dihadiri oleh dirinya, Pak Hendrawan selaku komisaris utama, dan Tari—wanita muda yang baru saja dipromosikan sebagai kepala divisi strategi bisnis. Permintaan yang diajukan oleh Pak Hendrawan bukanlah sekadar instruksi profesional biasa, melainkan sebuah titipan moril dan personal yang sangat pelik: sebuah permintaan agar Arkan mempertimbangkan untuk menikahi Tari demi menyelamatkan masa depan perusahaan sekaligus kehormatan keluarga besar sang komisaris dari kemelut skandal internal yang hampir mencuat ke publik.
"Kamu adalah satu-satunya orang yang paling kupercaya di perusahaan ini, Arkan," suara Pak Hendrawan terngiang kembali di telinga Arkan, begitu berat dan penuh permohonan. "Bukan hanya karena integritas kerjamu yang luar biasa selama sepuluh tahun terakhir, tapi juga karena nilai-nilai moral yang kamu pegang teguh. Tari terjebak dalam situasi yang sulit akibat kecerobohan masa lalunya, dan aku tidak ingin masa depannya hancur begitu saja di tengah kerasnya dunia korporat ini."
Arkan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, menarik napas dalam-dalam untuk meresapi kembali setiap kata yang diucapkan atasannya itu. Sebagai seorang pria berusia tiga puluh lima tahun yang dikenal taat beragama, lajang, dan sangat menjaga batasan pergaulan, permintaan itu terasa bagaikan sambaran petir di siang bolong. Menikah bukanlah sebuah keputusan bisnis yang bisa diambil hanya atas dasar pertimbangan logika korporat atau rasa kasihan semata. Pernikahan adalah ikatan suci, sebuah komitmen seumur hidup yang melibatkan hati, prinsip, dan ridha Allah SWT.
"Ya Allah, petunjuk apa yang Engkau kehendaki di balik semua ujian ini?" bisik Arkan lirih, matanya menatap kosong ke arah lantai marmer yang memantulkan cahaya lampu tidur.
Ia tahu betul siapa Tari. Gadis itu cerdas, cekatan dalam bekerja, dan selalu menunjukkan dedikasi tinggi di kantor. Namun, di luar urusan profesional, Arkan hampir tidak pernah memiliki kedekatan personal dengan Tari. Hubungan mereka selama ini selalu berada dalam koridor formal rekan kerja. Bayangan tentang bagaimana ia harus memposisikan diri sebagai seorang suami bagi wanita yang baru ia kenal dalam batasan profesional mendadak membuat kepalanya terasa semakin pening.
Di sisi lain, Arkan juga memahami beban psikologis yang sedang dipikul oleh Pak Hendrawan—seorang mentor yang telah membimbing kariernya sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di dunia kerja setelah lulus kuliah. Rasa hormat dan utang budi bercampur baur dengan rasa tanggung jawab moral sebagai seorang Muslim yang diajarkan untuk saling menolong sesama hamba Allah yang sedang kesusahan.
❖ ❖ ❖
Arkan mengubah posisi duduknya, bersandar pada dinding kamar yang dilapisi wallpaper bermotif serat kayu lembut. Ia meraih tasbih kayu berbutir seratus yang terletak di dekat sajadah, lalu mulai memutar butiran demi butiran tasbih tersebut di antara jari-jarinya. Setiap gesekan kayu terasa nyata di kulit jarinya, seolah menjadi pengingat bahwa ia sedang berada di dunia nyata, berhadapan dengan pilihan hidup yang sangat menentukan arah masa depannya.
"Istigfar, Arkan... kembalikan semuanya kepada Allah," gumamnya pelan, mencoba meredakan gejolak di dadanya.
Ponsel di atas nakas mendadak bergetar pelan, mengeluarkan bunyi senyap yang tetap saja terdengar jelas di tengah keheningan malam. Arkan melirik layar ponsel itu sekilas tanpa berniat langsung menyentuhnya. Nama Tari tertera di layar, disertai pesan singkat yang masuk pukul 02.30 WIB.
Maafkan saya, Pak Arkan, jika pesan ini mengganggu waktu istirahat malam Bapak. Saya tahu permintaan Pak Hendrawan sore tadi adalah beban yang tidak masuk akal untuk Bapak pikul. Saya hanya ingin bilang bahwa Bapak berhak menolak sepenuhnya tanpa perlu merasa bersalah pada siapa pun.
Arkan membaca pesan itu berulang kali. Ada kejujuran dan kepedihan yang tersirat dari pilihan kata yang digunakan oleh Tari. Gadis itu tidak sedang mencoba memanfaatkan situasi atau memaksa kehendak; ia justru tampak pasrah dan menyadari betul betapa besar tekanan yang diterima oleh Arkan.
"Dia menyadari posisinya..." ucap Arkan pelan pada diri sendiri, merenungkan isi pesan tersebut.
Namun, justru sikap mengalah Tari itulah yang membuat Arkan semakin dilematis. Jika saja Tari bersikap arogan atau mendesak, mungkin keputusan Arkan untuk menolak akan jauh lebih mudah. Namun, melihat kerentanan di balik profesionalisme dingin yang biasa ditunjukkan gadis itu di kantor, hati kecil Arkan tersentuh. Ada rasa tanggung jawab kemanusiaan yang bergolak dalam dirinya—sebuah panggilan nurani untuk tidak menutup mata terhadap seseorang yang sedang berada di ujung tanduk kehancuran hidupnya.
Arkan meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas tanpa membalas pesan tersebut. Ia tahu, malam ini bukanlah waktu yang tepat untuk memberikan jawaban lewat ketikan jari atau kata-kata spontan. Malam ini adalah waktunya bermunajat, meminta keputusan langsung dari Sang Pencipta melalui salat sunnah istikharah.
Ia bangkit dari duduknya, merapikan letak sarung dan bajunya, kemudian melangkah pelan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Air dingin sepertiga malam menyentuh kulit wajah dan tangannya, menyegarkan kembali kesadaran fisik sekaligus mendinginkan kepala yang sejak tadi terasa panas.
Sekembali dari kamar mandi, Arkan membentangkan kembali sajadahnya dengan gerakan tenang. Ia mendirikan salat sunnah istikharah dua rakaat dengan khusyuk, meresapi setiap gerakan rukuk dan sujud dengan penghambaan yang total. Di dalam sujud terakhirnya, ia berlama-lama memohon petunjuk, menumpahkan segala kegundahan hati kepada Zat yang Maha Mengetahui segala rahasia masa depan.
❖ ❖ ❖
Selesai berdoa, Arkan duduk bersimpuh cukup lama di atas sajadah, memegang kedua telapak tangannya di depan dada sambil terus berzikir. Suasana malam semakin larut, namun kantuk seolah menjauh dari kelopak matanya. Di dalam keheningan tersebut, bayangan masa lalu dan bayangan masa depan berkelebat silih berganti di dalam benaknya.
Arkan teringat pada prinsip hidup yang selama ini ia pegang teguh: bahwa setiap langkah besar harus dilandasi oleh niat yang lurus karena Allah. Jika ia menikahi Tari semata-mata karena rasa kasihan atau karena tekanan dari atasan, apakah itu adalah keputusan yang adil bagi mereka berdua? Pernikahan bukanlah proyek kantor yang bisa diselesaikan dengan kalkulasi untung-rugi atau strategi mitigasi risiko. Pernikahan adalah ibadah terpanjang yang membutuhkan fondasi cinta, kecocokan, dan kesiapan mental yang matang.
Namun, suara hati kecilnya yang lain terus berbisik mengingatkan tentang konsep takdir dan pertolongan kepada sesama Muslim. Bagaimana jika kehadiran dirinya di dalam hidup Tari adalah bentuk takdir Allah untuk menyelamatkan kehormatan seorang hamba-Nya? Bagaimana jika amanah dari Pak Hendrawan ini sebenarnya adalah ujian keikhlasan bagi keimanan Arkan sendiri?
"Ya Allah, jika pernikahan ini mendatangkan kebaikan bagi agama, dunia, dan akhiratku, mudahkanlah jalan dan lapangkanlah dadaku," ucap Arkan lirih, mengulang doa istikharah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. "Namun, jika ini buruk bagiku, palingkanlah ia dariku, dan takdirkanlah kebaikan di mana pun aku berada."