Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

Kontrak

Kontrak yang Ditulis di Atas Sakit Hati---

Suara ketukan hujan yang menghantam jendela kaca apartemen lantai sepuluh itu terdengar monoton, seirama dengan detak jantung Kirana yang berdenyut tidak menentu. Di atas meja kerja marmer hitam di hadapannya, selembar kertas HVS putih bersih terbentang, memuat beberapa paragraf teks berformat rapat yang baru saja dicetak dari mesin pencetak nirkabel. Tidak ada hiasan bunga, tidak ada aroma dupa pengantin, dan tidak ada senyum kebahagiaan yang biasanya menghiasi sebuah dokumen perjodohan. Yang ada di sana hanyalah deretan pasal-pasal perjanjian dingin yang lahir dari abu kehancuran masa lalu masing-masing.

Kirana menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam gemetar di ujung jemarinya. Di sisi seberang meja, Arya—pria yang baru saja ia kenal dalam pusaran skandal keluarga yang hampir merenggut kewarasannya—duduk dengan postur kaku. Kemeja putihnya sedikit berkerut di bagian lengan, sementara tatapannya terpaku lurus pada dokumen yang sama. Wajah pria itu tampak keras, menyembunyikan luka batin yang rasanya terlalu akrab bagi Kirana, karena luka itu terpantul persis dari cermin diri Kirana sendiri.

"Kamu benar-benar yakin dengan jalan ini, Kirana?" suara Arya memecah keheningan ruangan yang hanya diterangi lampu meja temaram. Nada suara itu terdengar rendah, datar, namun menyiratkan keraguan yang sengaja ditekan dalam-dalam. "Kontrak ini bukan lelucon. Begitu tanda tangan kita menempel di kertas ini, hidup kita berdua tidak akan pernah sama lagi. Kita tidak sedang membangun rumah tangga; kita sedang membangun benteng pertahanan bersama."

"Dan apa pilihan kita yang lain, Arya?" balas Kirana, menatap tajam pria di depannya tanpa sedikit pun rasa gentar. "Keluargamu mendesakmu untuk segera menikah demi menyelamatkan kursi kepemimpinan perusahaan, sementara keluargaku terus meneror kepalaku dengan ancaman perjodohan memalukan dengan pria pilihan mereka yang hanya mengincar harta warisan ibuku. Kita berdua sama-sama terjepit di sudut ruangan yang sama."

Arya mengalihkan pandangannya dari kertas kontrak ke arah wajah Kirana. Ada sorot kelelahan yang luar biasa di mata wanita itu, namun di balik keletihan tersebut, tersimpan bara api kebencian yang menyala terang terhadap orang-orang yang telah mempermainkan hidup mereka. Arya tahu betul apa rasanya dikhianati oleh orang terdekat. Mantan tunangannya sendiri baru saja kabur membawa lari sebagian aset perusahaan tepat sebulan sebelum hari pernikahan mereka—sebuah penghinaan publik yang membuat Arya menjadi bahan gunjingan di kalangan elite bisnis kota ini.

"Mereka ingin kita tunduk pada skenario mereka," lanjut Kirana dengan suara yang mulai bergetar karena emosi yang tertahan. "Mereka ingin kita menyerah pada tekanan sosial dan menerima pernikahan yang diatur demi keuntungan bisnis semata. Kalau kita harus menikah, mari kita lakukan dengan cara kita sendiri. Pernikahan kontrak. Tanpa cinta, tanpa melibatkan perasaan, dan yang paling penting: saling melindungi kepentingan masing-masing selama dua tahun ke depan."

Arya terdiam sejenak, mencerna setiap kata yang meluncur dari bibir wanita di hadapannya. Ide gila itu sebenarnya sudah mereka bahas secara sepintas beberapa hari lalu di sebuah kafe terpencil, namun melihat draf tertulisnya sekarang membuat segala konsekuensinya terasa begitu nyata.

"Dua tahun," ulang Arya pelan, lidahnya seperti mengecap rasa pahit. "Waktu yang cukup lama untuk membuat keluargamu tenang, sekaligus memulihkan posisiku di dewan direksi. Setelah itu, kita berpisah secara baik-baik dengan alasan ketidakcocokan yang dibuat sehalus mungkin, tanpa ada tuntutan hukum apa pun."

"Tepat," sahut Kirana tegas. Ia meraih pulpen bertinta hitam dari atas meja dan mendorongnya ke hadapan Arya. "Tidak ada hak atas aset pribadi masing-masing. Tidak ada campur tangan dalam urusan privat di luar kesepakatan. Dan yang utama, tidak ada ruang bagi hati untuk ikut campur."

Arya menatap pulpen itu cukup lama, seolah benda kecil tersebut adalah pedang bermata dua yang bisa melukai tangannya kapan saja. Namun, desakan dari dunia luar—telepon dari sang ibu yang terus menerus mendesak kepastian, serta tatapan meremehkan dari para pesaing bisnisnya—membuat Arya tidak memiliki banyak ruang untuk berpikir panjang. Dengan gerakan tegas yang tidak lagi menyisakan keraguan, Arya mengambil pulpen itu dan membubuhkan tanda tangannya di atas garis bawah bermaterai sepuluh ribu.

❖ ❖ ❖

Begitu ujung pulpen Arya terangkat dari permukaan kertas, atmosfer di dalam ruangan berubah drastis. Suhu udara di sekitar mereka mendadak terasa jauh lebih dingin, seolah kontrak yang baru saja ditandatangani telah menyerap seluruh kehangatan yang tersisa di ruangan itu. Kirana mengambil alih dokumen tersebut, memeriksa sekilas tanda tangan tegas milik Arya di sudut bawah, sebelum akhirnya ia sendiri menorehkan tanda tangannya tepat di sebelah nama pria itu. Suara gesekan ujung pulpen di atas kertas berbunyi begitu nyaring dalam keheningan malam.

"Selesai," bisik Kirana lirih, nyaris kepada dirinya sendiri. Ia menutup rapat-rapat pulpen tersebut dan meletakkannya kembali ke atas meja. "Sekarang, kita resmi menjadi mitra dalam penderitaan ini, Tuan Arya."

Arya bersandar pada punggung kursi, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap tajam ke arah Kirana. Ada kilatan kompleks di matanya—campuran antara rasa sinis terhadap takdir dan kekaguman terselubung atas keberanian wanita di depannya.

"Jangan panggil aku Tuan kalau kita sedang berada di luar ruang kerja pribadi ini, Kirana," ujar Arya dengan nada datar. "Mulai besok, di hadapan keluarga besar kita, kita harus tampil sebagai pasangan kekasih yang sedang mabuk kepayang. Akting kita harus sempurna, atau seluruh rencana ini akan runtuh sebelum sempat dimulai."

Kirana mendengus pelan, senyum sinis tersungging di bibirnya. "Oh, jangan khawatirkan kemampuan aktingku, Arya. Menutupi rasa sakit di hadapan orang-orang yang sengaja melukaimu adalah keahlian terbaikku akhir-akhir ini. Aku bahkan bisa tersenyum lebar sambil membayangkan wajah ibuku yang terkejut karena aku memilihmu alih-alih pria pilihan mereka."

"Baguslah kalau begitu," balas Arya. Ia merapikan lembaran kontrak tersebut dan memasukkannya ke dalam map hitam legam. "Besok malam, acara makan malam keluarga besar akan diadakan di restoran Hotel Grand Surya. Orang tuaku sudah mengundang seluruh kerabat dekat untuk mengumumkan pertunangan resmi kita. Aku harap kamu sudah siap mental menghadapi tatapan menghakimi dari para bibi dan sepupuku yang suka bergosip."

"Biarkan mereka bergosip sepuasnya," jawab Kirana tanpa gentar, berdiri dari kursinya untuk merapikan blazer abu-abunya. "Mereka hanya tahu cara merangkai cerita bohong, tapi mereka tidak tahu apa yang sebenarnya tertulis di dalam kontrak yang kita buat ini. Omong-omong, di mana kita akan tinggal setelah pertunangan itu diumumkan? Keluargamu pasti tidak akan membiarkan kita tinggal terpisah begitu saja."

Arya ikut berdiri, merapikan jasnya yang sedikit kusut. "Apartemen ini netral. Tapi demi meyakinkan mereka, kita harus pindah ke rumah warisan mendiang kakekku di kawasan Menteng mulai minggu depan. Tempat itu cukup besar untuk menampung kepura-puraan kita, dan letaknya strategis untuk memantau pergerakan kantor."

Kirana mengangguk pelan. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang ketika menyadari bahwa langkah mereka selanjutnya bukan lagi sekadar di atas kertas, melainkan sebuah babak kehidupan nyata di bawah satu atap yang sama—sebuah penjara buatan yang mereka bangun sendiri demi melarikan diri dari luka masa lalu.

❖ ❖ ❖

Sorot lampu kristal raksasa di ruang utama Hotel Grand Surya memantulkan kilau kemewahan yang terasa menyesakkan dada bagi Kirana. Di sekeliling meja panjang berbalut kain linen putih itu, puluhan pasang mata dari keluarga besar Arya dan Kirana tengah menatap mereka dengan berbagai macam ekspresi—mulai dari rasa curiga, takjub, hingga dengki yang disembunyikan di balik senyuman basa-basi.

Kirana berdiri di sisi Arya, mengenakan gaun malam berwarna hijau zamrud yang elegan, sementara tangan kanannya dengan pasrah melingkar di lengan pria itu. Di hadapan para kerabat, mereka tampak seperti pasangan sempurna yang tengah diselimuti kebahagiaan paripurna. Namun, di balik senyum simpul yang terukir di bibir Kirana, jemarinya tengah meremas kuat kain gaunnya sendiri untuk menahan gejolak rasa mual akibat ketegangan.

Lihat selengkapnya