Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #9

Fajar Baru

Fajar Baru dan Akad yang Sunyi---

Langit Jakarta perlahan berubah dari warna ungu gelap menjadi semburat jingga kemerahan ketika fajar menyingsing di ufuk timur. Di sebuah masjid tua berarsitektur kolonial yang terletak di sudut kota, suasana tampak begitu tenang dan tersembunyi dari hiruk-pikuk lalu lintas ibu kota yang mulai terbangun. Di pelataran masjid yang bersih, deretan tanaman hias dalam pot besar menepis debu jalanan, menciptakan ketenangan yang sudah lama dirindukan oleh Aryo.

Pemuda itu berdiri di depan pintu utama masjid, mengenakan busana Muslim serba putih dengan kopiah hitam yang membingkai wajahnya yang tampak lelah namun memancarkan ketenangan batin yang luar biasa. Ia merapikan lipatan lengan bajunya, lalu menarik napas dalam-dalam untuk meredam debaran di dadanya. Tiga bulan telah berlalu sejak badai kebangkrutan yang nyaris merenggut perusahaan peninggalan ayahnya. Kini, di tempat yang sama sekali tidak terduga, ia akan memulai lembaran hidup yang benar-benar baru.

"Aryo, semuanya sudah siap di dalam. Penghulu dan saksi dari kedua belah pihak baru saja tiba," suara lembut Hendra memecah keheningan pagi. Pria paruh baya itu berjalan mendekat dengan setelan jas rapi, mengenakan kemeja batik bernuansa senada.

Aryo menoleh, lalu mengangguk pelan. "Terima kasih banyak, Om. Saya benar-benar tidak menyangka hari ini akhirnya datang juga, di tengah segala kesibukan restrukturisasi kantor yang masih berjalan."

"Hidup tidak menunggu kita siap sepenuhnya, Aryo," balas Hendra sambil menepuk pelan pundak pemuda itu dengan penuh kehangatan seorang ayah. "Ayahmu pasti tersenyum melihat bagaimana kamu mengambil keputusan besar ini dengan kepala dingin dan hati yang bersih. Pernikahan ini bukan sekadar urusan seremonial mewah, melainkan janji suci di hadapan Sang Pencipta."

"Saya tahu, Om. Justru karena itulah saya meminta pernikahan ini dilangsungkan secara tertutup dan sederhana," ujar Aryo menatap pintu utama masjid yang terbuka setengah. "Tidak ada sorot kamera media, tidak ada pesta megah yang melelahkan. Hanya ada orang-orang yang benar-benar tulus mendoakan kami."

"Dan keputusan itu sangat tepat," timpal suara lain yang datang dari arah koridor samping masjid.

Maya melangkah mendekat dengan mengenakan gamis sederhana berwarna pastel dan kerudung senada yang membingkai wajahnya yang anggun. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak kecil berlapis kain beludru berisi cincin pernikahan sederhana pesanan Aryo. Senyum hangat tersungging di bibirnya, menghapus sisa-sisa ketegangan yang sempat menyelimuti hari-hari kerja mereka di kantor.

"Bagaimana di dalam, Maya? Apakah pihak keluarga calon mempelai wanita sudah menempati tempat duduk mereka?" tanya Aryo dengan nada sedikit tidak sabar yang terselip di balik senyumannya.

"Sudah, Aryo. Semua berjalan sangat khidmat. Ayah dan ibu angkatnya menyambut kita dengan senyuman yang menenangkan," jawab Maya lembut, menyerahkan kotak cincin itu kepada Aryo. "Kamu tidak perlu gugup begitu. Tarik napas yang panjang."

Aryo menerima kotak cincin tersebut, lalu menatap Maya lekat-lekat. "Saya tidak gugup menghadapi masalah bisnis sebesar apa pun, Maya. Tapi menghadapi akad nikah ini rasanya jauh lebih mendebarkan daripada menatap layar monitor saat audit keuangan perusahaan."

Maya tertawa kecil, suara renyah yang mencairkan serpihan kecemasan di hati Aryo. "Itu tandanya kamu menyadari betapa sakralnya ikatan ini. Sudah sana, masuklah ke ruang utama. Penghulu sudah memberi isyarat."

Aryo mengangguk mantap. Ia melangkah melewati ambang pintu masjid, meninggalkan dunia luar yang bising di belakangnya, menyongsong fajar baru yang membawa janji kehidupan yang lebih bermakna.

❖ ❖ ❖

Di dalam ruang utama masjid yang diterangi cahaya matahari pagi yang menembus kaca patri berwarna-warni, suasana terasa begitu syahdu. Karpet merah tua terbentang rapi di atas lantai marmer putih. Di hadapan meja akad yang beralaskan taplak renda putih, duduk seorang penghulu paruh baya yang mengenakan peci putih bersih, didampingi oleh dua orang saksi tua yang merupakan sahabat mendiang ayah Aryo dan kerabat dekat dari pihak mempelai wanita.

Aryo melangkah pelan dengan pandangan tertuju ke arah kursi kayu ukir di seberang meja. Di sana, duduk seorang gadis berkerudung putih tulang dengan gaun pengantin sederhana tanpa payet yang berlebihan. Wajahnya tertunduk menatap jemarinya sendiri, namun aura ketenangan dan ketegaran terpancar jelas dari sosoknya. Gadis itu adalah Kirana, seorang peneliti botani muda yang pernah membantu Aryo menyelamatkan salah satu proyek hijau perusahaan beberapa bulan lalu, gadis yang kini memilih untuk mendampingi sisa hidupnya.

Saat Aryo duduk bersila di hadapan penghulu, debaran di dadanya semakin kencang. Ia melirik sekilas ke arah Kirana. Gadis itu mengangkat wajahnya perlahan, membalas tatapan Aryo dengan senyuman tipis yang menyejukkan jiwa.

"Baiklah, apakah mempelai pria sudah siap?" suara penghulu terdengar tegas namun ramah, memecah keheningan ruangan yang sakral.

"Saya siap, Pak Penghulu," jawab Aryo dengan suara lantang dan penuh keyakinan.

"Silakan letakkan tangan kanan Anda di atas telapak tangan wali nikah," instruksi penghulu sambil memberi isyarat kepada paman Kirana yang duduk di samping sang penghulu.

Aryo mengulurkan tangan kanannya, menyambut uluran tangan sang wali dengan genggaman yang erat dan penuh rasa hormat. Udara di dalam ruangan terasa semakin tipis, seolah waktu berhenti berputar demi menyaksikan detik-detik pengucapan janji yang agung tersebut.

Lihat selengkapnya