Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #10

Menembus Pintu

Menembus Pintu Gerbang Korporat Bersama Sang Santri.---

Angin sore berhembus pelan, membawa debu halus jalanan ibu kota yang bergesekan dengan kaca jendela lobi gedung korporat raksasa milik keluarga Wijaya. Di lantai empat puluh dua, cahaya keemasan matahari senja memantul di atas lantai marmer hitam yang mengkilap, menciptakan bayangan panjang dari meja resepsionis berdesain minimalis modern. Arkan berdiri tegak di sana, mengenakan setelan jas tailored berwarna arang dengan dasi sutra biru tua yang terikat sempurna. Namun, di sampingnya hari ini, sosok yang berdiri tampak begitu kontras dan mencuri perhatian setiap mata karyawan yang berlalu-alang.

Seorang pemuda berpeci hitam beludru dengan kemeja koko putih bersih berbalut jaket denim usang tampak berdiri agak canggung sambil memegang tas selempang kulit sintetis yang sudah mengelupas di bagian sudutnya. Namanya Fikri—seorang santri kepercayaan pesantren di sudut kota Bogor yang diutus khusus untuk mengantarkan dokumen penting berupa sertifikat keaslian karya seni tradisional dan surat rekomendasi budaya leluhur langsung kepada Arkan.

"Jangan tegang begitu, Fikri. Anggap saja ini gedung perpustakaan besar tempat kita biasa mencari kitab," bisik Arkan dengan nada tenang sambil tersenyum tipis, mencoba meredakan ketegangan pemuda di sampingnya.

Fikri menelan ludah dengan susah payah, matanya terbelalak menatap langit-langit lobi yang menjulang tinggi dihiasi lampu kristal gantung raksasa. "Ampun, Kang Arkan. Gedung ini tingginya melebihi menara masjid agung di kampung. Kaki saya rasanya mendadak lemas, takut salah menginjak lantai bersih ini."

"Lantai ini dibuat untuk diinjak orang, bukan untuk ditakuti," balas Arkan terkekeh pelan. Ia melangkah lebih dulu, memberi isyarat agar Fikri mengekorinya menuju lift privat berlapis kaca transparan yang siap membawa mereka ke ruang kerja eksekutif.

Di dalam lift yang meluncur naik dengan kecepatan tinggi tanpa suara, Fikri merapatkan kedua tangannya di depan dada, bibirnya bergerak-gerak melafalkan doa perjalanan. Arkan memperhatikan pemuda itu dengan tatapan penuh penghargaan. Pertemuan mereka bermula seminggu lalu ketika Arkan berkunjung ke pesantren tempat Fikri mengabdi untuk urusan wakaf tanah yayasan. Sejak saat itu, Arkan menyadari bahwa pemuda santri ini memiliki ketajaman analisis dan kejujuran luar biasa dalam menjaga arsip-arsip manuskrip kuno.

"Dokumen dari Abah Kyai sudah aman di dalam tas ini, kan?" tanya Arkan memastikan saat lift berdenting pelan menandakan mereka telah tiba di lantai tujuan.

"Insya Allah sangat aman, Kang. Saya menjaganya seperti menjaga kitab suci," jawab Fikri mantap, menepuk pelan tas selempangnya dengan penuh keyakinan.

Pintu lift terbuka lebar, memperlihatkan koridor panjang berkarpet tebal berwarna kelabu. Di ujung koridor itulah Chafia—kurator seni yang kini menjadi mitra kerja tetap Arkan—telah menunggu dengan setelan blazer krem dan rambut tergerai rapi. Wanita itu berdiri di samping meja rapat luar, membawa beberapa map transparan berisi jadwal pameran kolaborasi antara seni kontemporer dan warisan tradisi pesantren.

"Arkan, kamu terlambat sepuluh men—" ucapan Chafia terhenti seketika saat pandangannya beralih ke sosok pemuda berpeci hitam yang berdiri tepat di belakang Arkan. Alis Chafia terangkat tinggi, menunjukkan kebingungan yang nyata. "Siapa anak muda ini? Apakah dia kurator tamu baru dari galeri daerah?"

Arkan tersenyum, melangkah mendekati Chafia sementara Fikri membungkukkan badan sedikit sebagai tanda hormat khas santri. "Chafia, kenalkan ini Fikri. Utusan khusus dari pesantren yang membawa arsip penting kita. Dan Fikri, ini Nona Chafia Amanda, kepala kurator yang akan memimpin pameran budaya kita."

Chafia menatap Fikri dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan menyelidik yang profesional, namun segera melunak saat melihat senyum tulus dan keramahan khas dari wajah pemuda santri tersebut.

❖ ❖ ❖

Ruangan rapat eksekutif berpenyejuk udara dingin itu terasa sunyi. Di tengah meja rapat kayu jati berukuran besar, hamparan dokumen kuno, sertifikat keaslian, dan foto-foto manuskrip tua tertata rapi di atas kain veludru hitam. Chafia duduk di kursi utama, memegang selembar kertas berhuruf Arab pegon dengan kerutan di dahi tanda ia sedang berpikir keras.

"Arkan, jujur saja, saya tidak menyangka kolaborasi ini akan melibatkan arsip seunik ini. Tapi apakah dokumen-dokumen pesantren ini memiliki kekuatan hukum yang sah untuk dipamerkan di galeri internasional kita?" tanya Chafia sambil menoleh ke arah Arkan yang duduk di sampingnya.

Arkan menyesap air mineral dari gelas di depannya sebelum menjawab dengan nada mantap. "Justru di situlah letak kekuatannya, Chafia. Fikri dan para santri di pesantren telah merawat arsip ini turun-temurun selama lebih dari satu abad. Dari segi legalitas hukum adat dan perlindungan hak cipta budaya, dokumen ini sah dan memiliki legitimasi moral yang kuat."

Fikri, yang duduk sedikit di ujung meja, merapikan letak pecinya lalu mengangkat tangan pelan sebelum berbicara. "Maafkan saya jika lancang, Nona Chafia. Tapi Abah Kyai berpesan, seni dan budaya di pesantren kami bukan sekadar benda mati yang dipajang untuk dilihat, melainkan jiwa yang hidup dan bernapas melalui laku kehidupan sehari-hari santri."

Chafia menatap Fikri lekat-lekat. Ada ketulusan yang begitu murni terpancar dari sorot mata pemuda santri itu, sesuatu yang sering kali hilang di tengah dunia korporat yang serba cepat dan penuh perhitungan materi.

"Saya mengerti, Fikri," kata Chafia dengan suara yang jauh lebih lembut dari sebelumnya. "Hanya saja, dunia galeri modern memiliki aturan ketat soal kurasi visual. Kita tidak bisa sekadar menaruh kertas tua di dalam kotak kaca tanpa narasi yang bisa dipahami oleh kolektor asing."

Lihat selengkapnya