Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

Tatapan Remeh

Tatapan Remeh Petinggi Perusahaan---

Suara decitan sepatu pantofel berpadu dengan bisik-bisik tertahan memenuhi ruang rapat utama PT Cipta Reksa Mandiri yang terletak di lantai tiga puluh lima gedung pencakar langit tersebut. Di tengah ruangan, meja rapat berbentuk oval dari kayu jati berukuran raksasa dikelilingi oleh jajaran direksi dan komisaris tinggi. Lampu kristal mewah menggantung megah di langit-langit, memancarkan cahaya terang yang menyinari dokumen-dokumen laporan triwulan berserakan di atas meja.

Bagi para petinggi perusahaan, ruangan ini adalah pusat kekuasaan tempat keputusan bernilai ratusan miliar rupiah diketok. Namun pagi ini, atmosfer di dalam ruangan terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena fluktuasi saham properti yang tidak stabil, melainkan karena kehadiran sosok yang duduk di kursi utama di ujung meja.

Chafia duduk dengan postur tegak sempurna. Blazer abu-abu arang membalut tubuhnya, sementara tatapan matanya menyapu tajam ke arah para direktur di hadapannya. Di balik ekspresi dingin dan profesional yang selalu ia tunjukkan, tersimpan badai emosi yang belum sepenuhnya reda pasca insiden pernikahan yang sempat mengguncang jagat maya beberapa waktu lalu. Ia telah kembali ke kantor, mengambil alih kemudi perusahaan dengan cengkeraman yang lebih kuat dari sebelumnya, seolah ingin membuktikan bahwa tidak ada satu pun badai personal yang mampu meruntuhkan otoritasnya.

"Laporan akuisisi lahan di kawasan BSD sudah hampir rampung, Bu Chafia," suara Pak Hardiman, komisaris utama yang dikenal paling konservatif di perusahaan itu, memecah keheningan. Pria paruh baya berambut ubanan tersebut menyilangkan tangannya di atas dada, menatap Chafia dengan senyuman tipis yang menyiratkan keraguan tersembunyi. "Namun, ada satu hal lain yang menjadi buah bibir di kalangan dewan komisaris sejak minggu lalu."

Chafia tidak langsung menanggapi. Jari-jarinya mengetuk pelan permukaan meja kayu jati. "Langsung pada intinya saja, Pak Hardiman. Waktu saya terbatas untuk basa-basi korporat."

Hardiman terkekeh pelan, sebuah tawa kering yang sengaja dirancang untuk meremehkan. "Baiklah jika Anda ingin kita bersikap transparan. Yang menjadi perbincangan hangat di luar sana bukanlah laporan keuangan kita, melainkan sosok pria misterius berbusana santri yang mendadak muncul di sisi Anda saat hari pernikahan yang batal itu, dan kini... dikabarkan sering terlihat berada di sekitar ruang kerja pribadi Anda."

Beberapa direktur lain di sekeliling meja saling berpandangan, menyunggingkan senyuman sinis yang tidak benar-benar mereka sembunyikan. Nama Arkan—pria berpeci hitam dan koko putih yang meruntuhkan logika sosial kalangan elit ibu kota—telah menjadi bahan gosip panas di lantai-lantai eksekutif PT Cipta Reksa Mandiri.

"Kehidupan pribadi saya adalah ranah privat yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan performa operasional perusahaan ini," jawab Chafia tegas, suaranya dingin tanpa celah.

"Privat?" sanggah Pak Hardiman dengan nada suara yang mulai meninggi, sengaja mengeraskan volume agar didengar oleh seluruh jajaran direksi. "Anda adalah CEO dari perusahaan publik yang mengelola triliunan rupiah aset masyarakat dan investor, Bu Chafia. Reputasi Anda adalah reputasi perusahaan. Membawa seorang pria dari latar belakang... ah, mari kita jujur... dari pelosok pesantren yang sama sekali tidak mengerti dunia korporat ke dalam lingkaran dalam Anda adalah sebuah keputusan yang mencederai kredibilitas dewan direksi!"

Ucapan itu meluncur telak, menghantam dinding ruang rapat dengan nada meremehkan yang pekat. Chafia merasakan darahnya berdesir panas, namun ia menahan diri, menjaga agar topeng bajanya tidak retak di hadapan para pemegang saham tua yang haus akan kelemahan kepemimpinannya.

"Arkan bukan urusan korporat, dan kredibilitas saya diuji dari lembar neraca keuangan, bukan dari pilihan busana orang yang saya ajak bicara," balas Chafia dengan penekanan tajam di setiap suku katanya.

Sebelum Hardiman sempat membalas argumen tersebut, pintu kaca ruang rapat bergeser perlahan. Seorang staf administrasi melangkah masuk dengan ragu-ragu, membawa sebuah map tambahan, sementara di ambang pintu belakang, sesosok pria berbalut koko putih sederhana dan peci hitam berdiri tenang tanpa beban, seolah mengabaikan puluhan pasang mata petinggi perusahaan yang menatapnya dengan tatapan penuh cemooh.

❖ ❖ ❖

Kehadiran Arkan di ambang pintu ruang rapat seketika membekukan atmosfer ruangan. Para direktur yang tadinya berbisik-bisik sinis langsung menghentikan pembicaraan mereka. Pak Hardiman menurunkan tangannya dari dada, melirik ke arah Arkan dengan pandangan jijik terselubung, seolah-olah melihat benda asing yang masuk ke dalam ruang bedah steril.

"Ah... lihat siapa yang datang," ucap Hardiman dengan nada menyindir yang kental, menunjuk Arkan menggunakan ujung pena di tangannya. "Tamu agung dari pesantren mana lagi ini? Apakah Anda tersesat, anak muda? Lantai ini adalah pusat kendali bisnis bernilai triliunan, bukan tempat pengajian sore hari."

Beberapa direktur di sisi kanan meja tertawa kecil mendengar sindiran tajam tersebut. Chafia mengepal jemarinya di bawah meja. Ia hendak membuka suara untuk membela Arkan, namun sebuah gerakan tangan pelan dari Arkan menghentikannya.

Arkan melangkah masuk ke dalam ruangan dengan tenang. Langkah kakinya mantap di atas lantai marmer hitam, tidak menunjukkan secuil pun rasa terintimidasi oleh tatapan sinis dan meremehkan dari para petinggi korporat berjas mahal di sekelilingnya. Ia berhenti tepat di samping kursi Chafia, lalu menatap Hardiman dengan sorot mata yang tenang dan penuh wibawa.

"Maafkan ketidaktundukan saya karena masuk tanpa undangan formal, Bapak-bapak sekalian," ucap Arkan dengan suara baritonnya yang tenang namun menguasai ruangan seketika. "Saya tidak bermaksud mengganggu jalannya rapat dewan direksi. Saya hanya datang untuk mengantar dokumen yang tertinggal di meja kerja Ibu Chafia."

"Dokumen?" Hardiman mendengus, bersandar pada kursi kerjanya dengan gaya angkuh. "Di perusahaan ini, urusan dokumen ditangani oleh sekretaris profesional berijazah tinggi, bukan oleh seseorang yang menghabiskan hari-harinya membaca kitab di pelosok desa. Apa yang Anda fahami tentang kontrak komersial, anak muda? Jangan coba-coba mencari panggung di tempat yang ukurannya jauh di atas kapasitas Anda."

Suasana ruang rapat semakin menegang. Para direktur lain menatap Arkan dengan tatapan tajam, menilai penampilan sederhana pria itu sebagai sebuah penghinaan terhadap dress code eksekutif PT Cipta Reksa Mandiri.

Chafia tidak tahan lagi. Ia berdiri dari kursinya, tatapannya membunuh setiap keraguan di meja itu. "Pak Hardiman, batasi ucapan Anda! Kehadiran Ustadz Arkan di sini adalah atas undangan saya untuk membantu memberikan sudut pandang etika bisnis yang selama ini sering diabaikan oleh para spekulan di meja ini!"

"Sudut pandang etika bisnis?" Hardiman ikut berdiri, wajahnya memerah karena emosi yang tersulut. "Anda membela seseorang yang tidak tahu apa-apa tentang pasar properti modern, hanya karena Anda merasa berhutang budi setelah tragedi pembatalan pernikahan kalian beberapa waktu lalu? Sadarlah, Chafia! Perusahaan ini dikelola dengan angka dan logika pasar, bukan dengan doa dan ceramah moral!"

Arkan tetap berdiri dengan postur tegap. Ia tidak sedikit pun terpancing oleh emosi Hardiman. Dengan gerakan perlahan, ia meletakkan sebuah map tipis di atas meja tepat di hadapan komisaris tua tersebut.

"Angka dan logika pasar memang penting, Pak Hardiman," ucap Arkan dengan nada suara yang begitu lembut namun menghunjam tajam. "Tetapi sejarah membuktikan bahwa banyak perusahaan besar runtuh bukan karena kekurangan modal, melainkan karena hilangnya integritas dan ketamakan para pengelolanya yang mengabaikan keadilan bagi masyarakat kecil di sekitar proyek mereka."

Hardiman tertegun sejenak, menatap map yang diletakkan Arkan dengan kening berkerut. Tatapan meremehkan di mata para petinggi perusahaan mulai bergeser menjadi rasa curiga yang pekat. Di titik jepit pertama ini, benturan antara dunia korporat yang dingin dan prinsip moral pesantren yang luhur mencapai titik didihnya.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya