Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #12

Paman Surya

Paman Surya dan Senyum Penuh Muslihat---

Udara sore di kawasan perumahan elit Menteng terasa lengket oleh sisa-sisa uap panas selepas hujan badai singkat yang mengguyur ibu kota. Di teras belakang sebuah rumah bergaya kolonial yang dikelilingi pagar tinggi berjeruji besi tempa, Surya Darmawan duduk bersandar santai di kursi rotan berbalut bantalan kain beludru hijau tua. Pria berusia akhir kepala lima itu mengenakan kemeja linen putih lengan panjang yang digulung hingga siku, memperlihatkan pergelangan tangannya yang dihiasi jam tangan mewah bermerek Swiss berantai emas. Di tangan kanannya, sebuah gelas kristal berisi wisma bercampur es batu berderik pelan setiap kali ia goyangkan.

Surya menatap layar tablet yang terletak di atas meja bundar marmer di depannya. Berita utama di sebuah portal finansial nasional pagi ini memuat foto keponakannya, Arkan, berdiri berdampingan dengan Pak Hendrawan di lobi utama Menara Sapphire, menyusul pengumuman resmi restrukturisasi direksi perusahaan. Bibir Surya menyunggingkan senyuman tipis—sebuah senyuman yang tidak pernah sampai ke matanya, dingin, penuh perhitungan, dan menyembunyikan ribuan muslihat busuk di balik garis-garis keriput wajahnya.

"Luar biasa sekali kemajuan anak muda itu," gumam Surya pelan pada dirinya sendiri, nada suaranya terdengar meremehkan sekaligus penuh rasa penasaran yang berbahaya. "Sepuluh tahun lalu, dia hanyalah seorang sarjana baru yang masuk ke perusahaan tanpa koneksi dan tanpa modal. Sekarang, dia berdiri sejajar dengan para pemegang saham utama, bahkan digadang-gadang sebagai menantu kesayangan sang komisaris."

Bagi Surya, kesuksesan Arkan bukanlah sebuah prestasi yang patut dibanggakan, melainkan sebuah ancaman langsung terhadap ambisi lamanya. Selama bertahun-tahun, Surya merasa bahwa kursi direksi utama di perusahaan konsultan properti itu seharusnya menjadi hak mutlaknya sebagai kerabat senior yang telah malang melintang di dunia bisnis jauh sebelum Arkan mengenal dunia korporat. Namun, skandal masa lalu yang berhasil ditutupi rapat-rapat oleh Pak Hendrawan membuat posisi Surya tersingkir secara perlahan hingga ia didepak dari jajaran manajemen inti.

Pintu kaca geser yang menghubungkan ruang keluarga dengan teras belakang terbuka perlahan. Seorang wanita paruh baya berbusana sutra ungu dengan riasan wajah tebal melangkah keluar, membawa nampan kecil berisi sepiring kue kering dan secangkir teh hangat. Wanita itu adalah Ratna, istri Surya sekaligus bibi dari pihak ibu yang selama ini turut menikmati sisa-sisa kejayaan finansial suaminya.

"Kamu masih saja memikirkan anak ingusan itu, Surya?" tanya Ratna dengan nada suara sedikit ketus, meletakkan nampan di atas meja marmer lalu menarik kursi di seberang suaminya. "Sudahlah. Bukankah kita sudah punya rencana lain untuk memegang kendali penuh atas aset keluarga besar tanpa harus peduli pada apa yang dilakukan Arkan di kantor?"

Surya menoleh sekilas ke arah istrinya, lalu tertawa kecil—suara tawa berat yang terdengar serak. "Kamu tidak mengerti, Ratna. Arkan bukan sekadar pegawai biasa yang bisa kita singkirkan dengan cara-cara kotor murahan. Dia teliti, lurus, dan yang paling merepotkan, dia memegang kepercayaan penuh dari Hendrawan. Selama Arkan berdiri di sana sebagai pelindung, setiap langkah kita untuk mengambil alih aset warisan keluarga akan selalu diawasi ketat."

Ratna mendengus pelan, menyesap teh hangatnya dengan anggun. "Lalu apa rencanamu sekarang? Apakah kamu akan membiarkan pernikahan siri mendadak antara anak itu dengan Tari—keponakan kesayangan Hendrawan—berjalan begitu saja tanpa gangguan?"

Senyuman di bibir Surya semakin melebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi namun memancarkan aura predator yang siap menerkam mangsa. "Gangguan kecil? Oh, tidak, Ratna. Pernikahan itu justru adalah celah terbesar yang mereka ciptakan sendiri. Sebuah ikatan yang dibangun di atas keterpaksaan dan rahasia besar keluarga adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja jika kita tahu bagaimana cara menyulut sumbunya."

❖ ❖ ❖

Dua hari berselang, suasana di ruang rapat lantai sepuluh kantor cabang Surya di kawasan Kuningan tampak jauh berbeda dari kemegahan Menara Sapphire. Ruangan itu berukuran sedang, berpendingin udara dingin dengan pencahayaan temaram yang sengaja diatur agar menciptakan kesan eksklusif namun tertutup. Di sekeliling meja rapat kayu jati tua, duduk tiga orang pria berjas rapi yang merupakan orang-orang kepercayaan Surya—para mantan eksekutif yang telah lama keluar dari lingkaran perusahaan utama akibat tersandung kasus audit internal beberapa tahun silam.

Surya duduk di ujung meja, memimpin pertemuan tertutup tersebut dengan postur tubuh tegap dan sorot mata tajam menyapu setiap wajah bawahannya. Di hadapan masing-masing orang terbentang berkas dokumen tebal berlabel Confidential.

"Kalian semua sudah membaca laporan investigasi awal mengenai pernikahan mendadak antara Arkan dan Tari?" suara Surya memecah keheningan ruangan rapat, berat dan berwibawa.

Seorang pria berkacamata tebal di sisi kiri Surya mengangguk pelan. "Sudah, Pak Surya. Sangat menarik. Pernikahan itu dilangsungkan secara sangat tertutup di sebuah KUA kecil tanpa resepsi besar, hanya dihadiri oleh Pak Hendrawan dan keluarga terdekat. Ada aroma kepanikan yang sangat kuat di balik keputusan kilat itu."

"Tentu saja ada kepanikan," sambung Surya sambil mengetukkan jarinya di atas permukaan meja kayu. "Keluarga besar Hendrawan sedang mencoba menutupi noda hitam masa lalu ayah Tari agar tidak bocor ke publik. Dan Arkan, si anak baik itu, sengaja diseret masuk ke dalam kubangan masalah tersebut untuk bertindak sebagai perisai hidup."

Pria lain di ujung meja, seorang pengacara korporat swasta bernama Herman yang selama ini menjadi algojo hukum Surya, tersenyum sinis. "Jika kita bisa membuktikan bahwa pernikahan ini dilandasi oleh konflik kepentingan, pemerasan moral, atau manipulasi data internal perusahaan untuk melindungi reputasi keluarga komisaris, maka posisi Arkan sebagai direktur utama akan langsung terguncang hebat."

Surya menggelengkan kepalanya perlahan, menatap Herman dengan tatapan memperingatkan. "Jangan terburu-buru menggunakan jalur hukum resmi, Herman. Langkah hukum terlalu lambat dan sering kali memberi mereka kesempatan untuk melakukan pembelaan diri. Yang kita inginkan bukan sekadar mengguncang posisinya di kantor, melainkan menghancurkan kredibilitas moral Arkan dari akarnya."

Lihat selengkapnya