Catatan Keuangan yang Berdarah-darah---
Suara ketukan hujan yang menderu di luar kaca jendela lantai dua puluh gedung utama perusahaan terasa begitu pekat, seolah mengiringi keheningan mencekam yang menyelimuti ruang kerja pribadi Arkan malam itu. Hanya ada satu sumber cahaya yang menerangi ruangan luas tersebut: pendar kebiruan dari layar laptop merek terkenal yang menampilkan lembar kerja digital berisi ribuan baris data keuangan. Di atas meja kerja berbalut kulit hitam legam itu, setumpuk berkas cetak tebal berserakan tidak beraturan, dipenuhi dengan coretan tinta merah yang menandai kejanggalan demi kejanggalan.
Arkan melonggarkan ikatan dasi di lehernya dengan satu tangan, sementara tangan kanannya terus menggulir tetikus, memeriksa ulang angka demi angka yang tertera pada laporan triwulan divisi logistik. Sebagai direktur keuangan yang baru menjabat selama setengah tahun, Arkan dikenal sebagai sosok yang teliti, dingin, dan tidak mudah percaya pada laporan verbal. Namun, apa yang ia temukan selama tiga jam terakhir di balik data-data formal tersebut bukanlah sekadar kesalahan administratif biasa. Itu adalah sebuah lubang hitam finansial yang sengaja disembunyikan dengan rapi di balik kedok efisiensi operasional perusahaan.
"Sialan," gumam Arkan pelan, suaranya terdengar serak di tengah kesunyian ruangan. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kerja ergonomis, memijat pelipisnya yang berdenyut kencang akibat kelelahan dan rasa curiga yang kian memuncak.
Kejanggalan itu bermula dari perbedaan angka pengadaan bahan baku impor yang nilainya melonjak drastis hingga empat puluh persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara volume produksi pabrik justru mengalami penurunan. Ketika Arkan mencoba menelusuri aliran dana keluar melalui rekening penampung perusahaan rekanan, jejak transaksi tersebut terpecah ke dalam puluhan rekening fiktif yang menggunakan nama-nama karyawan tingkat rendah yang bahkan tidak tahu-menahu soal urusan logistik.
Pintu ruang kerja tiba-tiba diketuk dua kali dengan sopan sebelum akhirnya terbuka perlahan. Maya, sekretaris pribadinya yang mengenakan kemeja abu-abu rapi, melangkah masuk sambil membawa secangkir kopi hitam hangat di atas nampan kecil.
"Maaf mengganggu malam-malam begini, Pak Arkan," ucap Maya dengan nada hati-hati, meletakkan cangkir kopi tersebut di sudut meja tanpa mengganggu tumpukan kertas laporan. "Petugas keamanan baru saja menelepon dari pos utama. Mereka bilang mobil bapak masih terparkir di basement dan menanyakan apakah bapak butuh sesuatu sebelum gerbang utama ditutup total."
Arkan menoleh sekilas ke arah Maya, lalu mengangguk pelan. "Terima kasih, Maya. Letakkan saja di situ. Omong-omong, apakah berkas arsip transaksi fisik dari divisi pengadaan tahun lalu sudah berhasil kamu temukan di ruang arsip lantai basement tiga?"
"Sudah, Pak," jawab Maya cepat. "Tapi jumlahnya sangat banyak dan belum sempat dipilah secara digital. Apakah bapak ingin saya membawanya ke sini sekarang?"
"Tidak usah malam ini. Biar saya sendiri yang turun ke ruang arsip besok pagi," balas Arkan, kembali mengalihkan pandangannya ke layar laptop. "Tapi pastikan tidak ada seorang pun yang masuk ke ruang arsip sebelum saya datang. Ada sesuatu yang janggal di balik laporan keuangan ini, Maya. Sesuatu yang jauh lebih besar dari apa yang kita bayangkan."
Maya terdiam sejenak, wajahnya menyiratkan kebingungan sekaligus kekhawatiran. Sebagai orang yang sudah lama bekerja di perusahaan itu, ia tahu betul bahwa membongkar arsip lama divisi pengadaan sama artinya dengan menyentuh sarang tabuhan yang dilindungi oleh orang-orang berpengaruh di jajaran direksi atas.
❖ ❖ ❖
Keesokan paginya, suasana di ruang arsip lantai basement tiga terasa begitu lembap dan pengap. Bau debu kertas tua bercampur dengan aroma disinfektan menyeruak di setiap sudut ruangan yang hanya diterankan oleh lampu neon panjang berkedip-kedip lemah di langit-langit. Di hadapan sebuah rak besi tinggi yang dipenuhi kotak-kotak arsip berlabel tahun lalu, Arkan berdiri seorang diri mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku.
Ia membuka salah satu kotak berdebu dan mengeluarkan sebuah binder tebal berwarna biru tua bertuliskan Laporan Audit Internal Pengadaan Logistik - Periode Q3. Jantung Arkan berdegup sedikit lebih cepat ketika jemarinya mulai membalik halaman demi halaman dokumen fisik tersebut. Ada perbedaan yang sangat mencolok antara salinan digital yang ia periksa tadi malam dengan tanda tangan fisik yang tertera pada lembar persetujuan anggaran.
"Tanda tangan ini..." bisik Arkan tajam, matanya menyipit menatap baris tanda tangan persetujuan dari wakil direktur operasional, Pak Hendra.
Meskipun sepintas tampak mirip dengan tanda tangan asli Pak Hendra yang sering beredar di dokumen resmi, Arkan yang terbiasa memeriksa detail kecil menyadari adanya goresan garis penutup yang terlalu lurus—sebuah ciri khas manipulasi menggunakan teknik cetak ulang atau pemalsuan digital yang dicetak di atas kertas fisik. Artinya, anggaran senilai miliaran rupiah telah dicairkan menggunakan tanda tangan palsu yang lolos dari pengawasan divisi audit internal.
Tiba-tiba, suara langkah kaki sepatu pantofel menggema di koridor semen yang sepi di luar ruang arsip. Langkah itu berhenti tepat di depan pintu masuk ruang arsip yang terbuka setengah.
"Pagi, Arkan. Tegang amat kelihatannya. Nyari apa sih di tempat lembap begini pagi-pagi?" suara berat yang sangat dikenal Arkan terdengar menyapa dari ambang pintu.
Arkan mendongak. Pak Hendra berdiri di sana mengenakan jas abu-abu mahal, kedua tangannya terselip di dalam saku celana, sementara senyum tipis tersungging di bibirnya—senyum yang tampak ramah di permukaan, namun menyimpan tatapan tajam menyelidik.
"Pagi, Pak Hendra," jawab Arkan dengan nada datar, sengaja tidak menutup binder biru di hadapannya. "Saya hanya sedang mencocokkan beberapa data anggaran pengadaan logistik tahun lalu dengan laporan triwulan terbaru yang ada di meja saya."
Hendra melangkah masuk perlahan, matanya melirik sekilas ke arah tumpukan binder di meja kayu tua di dekat Arkan. "Oh, soal laporan itu lagi? Bukannya tim auditor eksternal sudah menyatakan semuanya beres bulan lalu? Kenapa kamu masih repot-repot membongkar arsip berdebu ini?"
Arkan berdiri tegak, merapikan binder di tangannya lalu menatap lurus ke mata atasannya itu tanpa keraguan. "Tim auditor eksternal hanya memeriksa sampel acak, Pak Hendra. Tapi setelah saya telusuri lebih dalam, ada selisih dana hampir tiga miliar rupiah yang tidak memiliki catatan penerimaan barang yang jelas di gudang pusat."
Wajah Hendra tidak menunjukkan kepanikan yang berarti, namun otot-otot di sekitar rahang pria paruh baya itu tampak mengeras sesaat sebelum ia kembali tersenyum tipis. "Dalam bisnis berskala besar seperti perusahaan kita, Arkan, terkadang ada biaya operasional tak terduga yang tidak bisa dicatat secara transparan demi menjaga kelancaran proyek di lapangan. Kamu masih muda, jadi wajar kalau kamu menganggap setiap angka harus lurus seratus persen."