Waktu Sholat dan Jeda Duniawi---
Langit Jakarta di luar jendela kaca ruang kerja utama Artha Cipta Media tampak bergejolak, memantulkan warna kelam dari awan tebal yang menggantung rendah menjelang sore hari. Di dalam ruangan yang dipenuhi oleh tumpukan berkas audit dan laporan restrukturisasi pabrik baru, suasana terasa begitu menyesakkan. Cahaya lampu meja kerja berwarna kuning temaram memancarkan bayangan panjang di atas meja kayu mahoni yang luas.
Chafia duduk di kursi kerjanya dengan jemari yang terus menari cepat di atas papan tik laptop, sementara matanya tak lepas dari deretan angka proyeksi laba rugi kuartal mendatang. Di hadapannya, layar monitor menampilkan grafik yang naik turun tidak menentu, mencerminkan ketidakpastian pasar yang sedang dihadapi perusahaan setelah badai kebangkrutan beberapa bulan lalu.
Pintu ruangan terbuka setengah, menampilkan sosok Arkan yang berdiri tenang di ambang pintu dengan mengenakan kemeja koko putih bersih yang lengannya dilipat sebatas siku. Pria itu membawa dua cangkir teh chamomile hangat, aroma harumnya langsung menguar samar di udara ruangan yang dingin akibat AC.
"Chafia, kamu sudah bekerja nonstop selama lebih dari empat jam tanpa beranjak dari kursi itu," suara Arkan terdengar lembut namun tegas, memecah keheningan yang sejak tadi mendominasi ruangan.
Chafia menghela napas panjang, menghentikan ketikan jarinya sejenak lalu mendongak menatap suaminya dengan wajah yang menyiratkan kelelahan mendalam. "Mas Arkan, saya harus menyelesaikan revisi proposal tender ini sebelum jam lima sore. Kalau tidak dikirim sekarang, tenggat waktu dari klien besar di Surabaya akan terlewat begitu saja, dan kita bisa kehilangan kontrak senilai lima miliar."
Arkan melangkah mendekati meja kerja, lalu meletakkan salah satu cangkir teh hangat di dekat laptop Chafia. Ia menarik kursi kecil di sebelah istrinya dan duduk dengan tenang. "Tenggat waktu duniawi tidak akan pernah ada habisnya, Chafia. Setiap kali satu tenggat waktu selesai, tiga tenggat waktu baru akan langsung menggantikannya."
"Tapi kontrak ini krusial untuk kestabilan arus kas divisi percetakan kita, Mas," protes Chafia, nada suaranya meninggi mencerminkan kepenatan yang menumpuk di dadanya. "Kalau saya tinggalkan sekarang, fokus saya buyar, dan kesalahan kecil bisa berakibat fatal pada keseluruhan dokumen."
Arkan menatap istrinya lekat-lekat, tidak ada kemarahan di matanya, yang ada hanyalah ketenangan dan binar pengertian yang dalam. Ia merangkul pundak Chafia dengan lembut, menyalurkan kehangatan yang meredam ketegangan di tubuh wanita itu. "Dengar suara azan asar yang baru saja berkumandang di luar sana, Chafia? Itu adalah panggilan dari Yang Maha Kuasa untuk menghentikan sejenak segala kebisingan dunia."
Chafia terdiam. Ia baru menyadari sayup-sayup suara azan dari masjid terdekat mulai bergema menembus dinding kaca kedap suara ruangan tersebut. Jemarinya yang tadi tegap di atas keyboard perlahan melemas. Beban target perusahaan, tekanan klien, dan angka-angka proyeksi laba seolah berkerumun mendesak kepalanya, membuat dadanya terasa semakin sempit.
"Saya tahu beban di pundakmu sangat berat, sayang," lanjut Arkan dengan suara berbisik penuh kasih. "Tapi bukankah kita sering lupa bahwa ketenangan sejati tidak didapatkan dengan terus-menerus meronta di bawah tekanan, melainkan dengan mengambil jeda untuk bersujud?"
Chafia menundukkan kepalanya, menatap cangkir teh hangat di hadapannya yang mengepulkan uap tipis. Setitik air mata kelelahan nyaris menetes di sudut matanya, namun ia segera menahannya. Ia tahu Arkan benar. Terkadang, dalam ambisi mereka untuk menyelamatkan dan memajukan perusahaan, mereka sering mengabaikan jeda paling esensial dalam hidup: waktu menghadap Sang Pencipta.
"Mari kita ambil jeda, Chafia," ajak Arkan sambil berdiri perlahan dan mengulurkan tangan kanannya kepada sang istri. "Ambil wudu, hiasi hati kita dengan ketenangan, dan tunaikan salat asar berjemaah di ruang sholat kantor. Setelah itu, insyaallah pikiranmu akan jauh lebih jernih untuk menyelesaikan pekerjaan ini."
Chafia menarik napas dalam-dalam, membiarkan aroma teh hangat dan ketenangan suara suaminya meresap ke dalam jiwa. Ia mengangguk pelan, menyambut uluran tangan Arkan dengan genggaman yang erat.
❖ ❖ ❖
Langkah kaki mereka berdua beriringan menuju ruang salat khusus karyawan yang terletak di sudut tenang lantai dua belas gedung kantor tersebut. Suasana di koridor lantai itu terasa sangat sepi karena sebagian besar karyawan sudah bersiap pulang atau menyelesaikan sisa tugas di meja masing-masing.
Di tempat wudu wanita, Chafia membasuh wajah, tangan, dan kakinya dengan air dingin yang menyegarkan. Sensasi air yang mengalir di kulitnya seolah melunturkan debu kepenatan dan kecemasan yang sejak pagi mencengkeram pikirannya. Ia mengenakan mukena putih bersih berenda halus yang selalu ia simpan di loker khusus ruang salat.
Ketika ia melangkah keluar menuju ruang salat utama, ia melihat Arkan sudah berdiri tegak di atas sajadah beludru hijau tua, mengenakan peci hitam dengan pandangan khusyuk menatap tempat sujud. Ruangan itu bernuansa tenang, diterangi lampu gantung minimalis dengan dinding beraksen kayu alami yang menciptakan suasana sakral sekaligus menenteramkan.
Chafia segera merapikan posisinya di belakang Arkan, berdiri tegak di atas sajadahnya sendiri. Jantungnya yang tadinya berdetak cepat karena kepanikan tenggat waktu kini mulai melambat, seirama dengan detak napasnya yang teratur.
"Allahu akbar..." suara Arkan mengumandangkan takbiratul ihram dengan lantang, merdu, dan penuh penghayatan, memimpin salat asar berjemaah sore itu.
Chafia mengikuti gerakan suaminya, mengangkat kedua tangan lalu takbir. Dalam setiap gerakan rukuk dan sujud, ia melepaskan segala beban duniawi yang sempat menghimpit dadanya. Rasanya seolah ada tangan tak kasat mata yang mengangkat beban berton-ton dari pundaknya, menggantinya dengan kelegaan batin yang luar biasa.
Namun, di tengah rakaat kedua, sebuah bayangan kecil sempat melintas di benaknya: Bagaimana kalau proposal tender itu ditolak gara-gara terlambat dikirim semenit saja? Pikiran itu membuat hatinya sempat bergetar ragu. Chafia segera beristigfar dalam hati, membuang jauh-jauh kekhawatiran duniawi tersebut dan kembali memusatkan seluruh kesadarannya pada kebesaran Zat yang sedang ia sembah.
Salam penutup diucapkan dengan damai. Arkan menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu mengangkat kedua tangan untuk memanjatkan doa. Chafia mengikuti di belakangnya, menadahkan tangan sambil memejamkan mata erat-erat.
❖ ❖ ❖
Usai salat dan zikir singkat, Arkan tidak langsung beranjak dari duduk bersilanya di atas sajadah. Ia berbalik badan menghadap Chafia yang masih mengenakan mukena putih, lalu tersenyum hangat melihat perubahan ekspresi wajah istrinya yang kini tampak jauh lebih segar dan tenang dibandingkan sejam yang lalu.