Kemunculan Fauzan, Sang Mantan yang Panik
Langit senja di atas distrik perkantoran utama ibu kota memantulkan bias jingga kemerahan yang pekat, menembus dinding kaca lantai tigapuluh gedung pencakar langit milik Wijaya Group. Di dalam ruang kerja utama yang luas dan bernuansa modern minimalis, Arkan berdiri memunggungi meja kerjanya. Pandangannya menerawang jauh ke arah kerlip lampu jalanan yang mulai dinyalakan, sementara jari-jarinya mengetuk pelan permukaan kaca jendela. Hari ini seharusnya menjadi hari penutupan kesepakatan investasi budaya terbesar yang pernah ia rintis bersama Chafia dan para santri. Namun, ketenangan sore itu mendadak terusik oleh sebuah ketukan pintu yang terlalu keras dan tergesa-gesa.
"Masuk," ucap Arkan singkat tanpa membalikkan badan.
Pintu kayu berukuran besar itu terbuka lebar. Sekretaris pribadinya, Rika, melangkah masuk dengan napas sedikit terengah-engah dan raut wajah yang menyiratkan kecemasan mendalam. Di belakang Rika, sesosok pria berjas mewah dengan gaya necis dan rambut tersisir klimis memaksa menerobos masuk, mengabaikan teguran halus dari sang sekretaris.
"Maafkan saya, Pak Arkan. Saya sudah mencoba menahannya di resepsionis, tapi Tuan Fauzan memaksa naik dengan alasan urusan darurat perusahaan," kata Rika dengan nada menyesal, menunduk patuh.
Arkan membalikkan tubuhnya perlahan. Alisnya berkerut tajam saat mendapati pria yang berdiri di hadapannya saat ini—Fauzan, mantan tunangan Chafia sekaligus sepupu jauhnya sendiri yang telah lama didepak dari jajaran direksi akibat skandal penggelapan dana beberapa tahun silam. Fauzan berdiri dengan dada membusung, senyum sinis tersungging di bibirnya yang tipis, sementara matanya menatap sekeliling ruangan kerja Arkan dengan kilatan amarah yang kentara.
"Kau tidak perlu meminta maaf, Rika. Biarkan tamu tak diundang ini menikmati pemandangan terakhirnya di ruangan ini sebelum ia diseret keluar oleh tim keamanan," sindir Arkan dingin, suaranya terdengar datar namun penuh tekanan wibawa yang membuat Rika lekas membungkuk dan berjalan mundur meninggalkan ruangan.
Begitu pintu tertutup rapat, Fauzan tertawa kecil—sebuah tawa kering yang terdengar hambar dan penuh kepanikan tersembunyi. Ia melangkah mendekati meja kerja Arkan, meletakkan segepok dokumen tebal dengan kasar di atas permukaan meja marmer tersebut.
"Hebat sekali sandiwara yang kau mainkan, Arkan! Membawa-bawa proyek budaya pesantren dan menggandeng kurator seni untuk mencuci tangan atas pengambilalihan kursi direktur utama!" seru Fauzan dengan nada suara meninggi, urat-urat di lehernya menegang karena emosi yang meluap-luap.
Arkan tidak bergeming sedikit pun dari tempatnya berdiri. Ia melangkah tenang mendekati meja kerjanya, melipat tangan di depan dada sambil menatap tajam ke arah manik mata Fauzan yang tampak gelisah.
"Sandiwara apa yang kau maksud, Fauzan? Kursi direktur utama ini kudapatkan melalui Rapat Umum Pemegang Saham yang sah secara hukum, bukan dari hasil memanipulasi laporan keuangan seperti yang dulu pernah kau lakukan," balas Arkan tenang, setiap kata diucapkannya dengan artikulasi yang jelas dan menusuk.
Fauzan mendengus keras, wajahnya memerah padam. Ia mencengkeram tepi meja kerja Arkan hingga buku-buku jarinya memutih. "Jangan bersikap seolah kau adalah pahlawan kesucian! Aku tahu persis apa yang sedang kauincar! Bukan cuma perusahaan ini, tapi juga Chafia, kan?!" teriak Fauzan lepas kendali. "Kau pikir aku tidak tahu kalau kau sengaja mendekati wanita itu untuk menjatuhkan kredibilitas keluarga besarku dan merebut seluruh aset warisan kakek?!"
"Jaga mulutmu, Fauzan!" potong Arkan dengan nada suara yang mendadak berubah berat dan menggelegar, memotong seluruh ocehan panik pria di hadapannya. Arkan maju selangkah, menatap lurus dengan sorot mata setajam elang yang membuat Fauzan tanpa sadar merosot mundur setengah langkah. "Chafia bukan bidak catur dalam permainan kotor yang biasa kau mainkan. Dan perusahaan ini tidak akan pernah sudi kuserahkan kembali kepada orang yang hampir menghancurkannya hingga menjadi abu."
Fauzan terengah-engah, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya meski penyejuk udara di ruangan itu bekerja maksimal. Panik benar-benar menguasai jiwanya; investasi miliaran rupiah yang ia harapkan untuk menyelamatkan perusahaannya yang nyaris bangkrut kini berada di ambang kehancuran total akibat manuver hukum yang dilakukan Arkan bersama Chafia.
"Kau akan menyesal, Arkan! Aku tidak akan tinggal diam membiarkanmu merusak segalanya!" ancam Fauzan terbata-bata, sebelum akhirnya membalikkan badan dan melangkah keluar ruangan dengan membanting pintu keras-keras, meninggalkan gelombang ketegangan yang pekat di dalam ruang kerja Arkan.
❖ ❖ ❖
Malam semakin larut, namun suasana di ruang kerja pribadi Arkan jauh dari kata tenang. Setelah kepergian Fauzan yang penuh amarah tadi sore, Arkan segera menghubungi Chafia untuk memperingatkan wanita itu agar berhati-hati terhadap segala bentuk tindakan nekat yang mungkin akan dilakukan oleh sang mantan tunangan. Kini, Chafia telah duduk di sofa beludru abu-abu di sudut ruangan, memegang secangkir teh chamomile hangat yang disiapkan oleh Rika beberapa menit lalu.
"Aku tidak menyangka Fauzan akan senekat itu mendatangi kantormu, Arkan," ucap Chafia dengan suara pelan, manik matanya menatap kosong permukaan air teh yang bergelombang tipis. "Selama kami bertunangan dulu, ia memang ambisius dan terobsesi pada kekuasaan keluarga, tapi aku tidak pernah mengira ketamakannya bisa berubah menjadi ancaman nyata."
Arkan duduk di kursi kerjanya, melepas jas dan melonggarkan ikatan dasinya sebelum mencondongkan tubuh ke depan. "Fauzan sedang berada di ujung tanduk, Chafia. Perusahaannya yang baru menumpuk utang miliaran rupiah di berbagai bank swasta. Proyek pameran seni dan budaya yang kita pegang saat ini adalah satu-satunya celah terakhir bagi investor besar untuk mengalirkan dana segar. Jika ia berhasil merebut kendali perusahaan atau membatalkan kemitraan kita, ia bisa menyelamatkan diri dari kebangkrutan."
Chafia mendongak, menatap Arkan dengan kening berkerut cemas. "Lalu apa langkah hukum selanjutnya? Kita tidak bisa membiarkan pria itu merusak pameran yang sudah kita bangun dengan susah payah bersama Fikri dan para santri."
"Tenanglah, Chafia," jawab Arkan dengan nada lembut, berusaha menenangkan kecemasan yang terpancar jelas di wajah wanita itu. Arkan beranjak dari kursinya, berjalan mendekati sofa lalu duduk di sebelah Chafia, memberikan jarak yang cukup dekat namun penuh perlindungan. "Tim hukumku sudah mengantisipasi segala kemungkinan gugatan bodoh yang akan diajukan oleh Fauzan. Setiap dokumen kepemilikan dan sertifikat budaya telah dilindungi oleh klausul ketat yang tidak bisa dibatalkan sepihak."
Chafia menghela napas panjang, merilekskan bahunya yang sejak tadi terasa kaku. "Bukannya aku takut pada ancamannya, Arkan. Hanya saja... bayangan masa lalu ketika aku hampir terjebak dalam pernikahan bisnis yang diatur oleh keluarganya demi kepentingan korporat itu terkadang masih membuatku merasa muak."
Arkan menatap lekat-lekat manik mata Chafia. Tanpa ragu, ia meraih jemari tangan wanita itu yang terasa dingin, lalu menggenggamnya dengan erat. "Masa lalu itu sudah terkubur dalam-dalam, Chafia. Fauzan tidak memiliki kuasa apa pun lagi atas hidupmu, maupun atas masa depan perusahaan ini."
Chafia tersenyum tipis merasakan kehangatan dari genggaman tangan Arkan. Di tengah badai ancaman yang dibawa oleh sang mantan, kehadiran Arkan menjadi benteng terkuat yang memberikan ketenangan di dalam hatinya.
❖ ❖ ❖