Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #16

Peran Aisha

Peran Aisha, Sahabat Setia yang Menjaga Rahasia---

Suara ketukan lembut pada permukaan kaca meja rias bergema pelan di dalam kamar apartemen Chafia yang temaram. Pukul 02.15 dini hari, ketika sebagian besar ibu kota telah tenggelam dalam lelap, sudut ruangan itu justru benderang oleh lampu sorot kecil yang mengelilingi cermin besar. Di atas meja, tumpukan berkas hukum perusahaan, lembaran draf investigasi proyek BSD, serta cangkir teh chamomile yang mengepulkan uap tipis tersusun berdampingan tanpa aturan yang jelas.

Chafia duduk termenung dengan pandangan kosong menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Bayangan lingkaran hitam tipis di bawah matanya tidak mampu disembunyikan sepenuhnya oleh sisa-sisa riasan profesional yang belum dibersihkan. Hari-hari belakangan ini telah menjelma menjadi medan perang tiada henti; setelah berhasil membersihkan dewan direksi dari sindikat korup pimpinan Hardiman, ancaman misterius melalui telepon malam itu terus menghantui lini pertahanan perusahaannya.

"Minumlah teh ini sebelum dingin, Fia," suara lembut Aisha memecah keheningan malam yang pekat.

Aisha melangkah mendekat sambil membawa nampan kecil berisi sepiring biskuit gandum dan cangkir hangat. Sebagai sahabat setia yang telah mendampingi Chafia sejak masa-masa kuliah di luar negeri hingga menapaki puncak karier korporat, Aisha adalah satu-satunya tempat persembunyian aman di mana sang CEO PT Cipta Reksa Mandiri bisa melepaskan jubah baja dan topeng kesegarannya. Tanpa ragu, Aisha menarik kursi kayu kecil, duduk tepat di sebelah sahabatnya, lalu meletakkan punggung tangannya di atas bahu Chafia yang menegang.

Chafia menghela napas panjang, memejamkan matanya sejenak untuk meredakan denyut nyeri yang kian menjadi di pelipisnya. "Aku merasa seperti berdiri di atas selembar es tipis, Sha. Sedikit saja aku salah melangkah, seluruh imperium yang dibangun ayahku bisa runtuh dalam sekejap."

Aisha tersenyum tipis, menatap sahabatnya dengan sorot mata penuh ketulusan dan empati mendalam. "Kamu tidak sedang berdiri sendirian di atas es tipis itu, Fia. Ada aku di sini. Dan... kamu juga tahu ada seseorang di luar sana yang siap mempertaruhkan ketenangannya demi berdiri di sisimu."

Mendengar kata-kata itu, bayangan sosok Arkan—pria berpeci hitam dengan ketenangan luar biasa yang berasal dari dunia pesantren—melintas sekilas di benak Chafia. Semenjak ancaman malam itu diterimanya, Arkan tidak pernah meninggalkan sisinya, menjadi benteng moral sekaligus penenang di tengah badai teror yang dilancarkan oleh orang-orang tak dikenal.

"Arkan memang membantuku menjaga kewarasan, Sha," ucap Chafia lirih, membuka matanya kembali menatap pantulan Aisha di cermin. "Tetapi justru itu yang membuatku takut. Ancaman itu nyata. Mereka mengincar perusahaanku, dan sekarang mereka bahkan tahu hubungan di antara kami. Aku takut bahaya itu justru menyeretnya ke dalam lingkaran hitam dunia korporat."

Aisha meremas bahu Chafia pelan, memberikan kehangatan yang sangat dibutuhkan di tengah malam yang dingin. "Ketakutan adalah senjata utama musuhmu, Fia. Jangan biarkan mereka menang sebelum pertempuran benar-benar dimulai. Dan ingat, rahasia pergerakan kita selama ini aman di tanganku. Tidak ada seorang pun di luar lingkaran kita yang tahu langkah apa yang akan kita ambil selanjutnya."

Kata-kata Aisha selalu berhasil menjadi jangkar emosional bagi Chafia. Di balik layar, jauh dari sorotan media massa dan intrik dewan direksi yang kejam, Aisha adalah otak logistik di balik pertahanan moral Chafia—mengatur jadwal, menyaring informasi rahasia, hingga memastikan tidak ada celah bagi musuh untuk menyusup ke dalam kehidupan pribadi sang CEO.

Namun, di tengah kehangatan dukungan persahabatan itu, ponsel di atas meja tiba-tiba bergetar pelan, memecah kesunyian malam dengan layar yang menyala terang menampilkan sebuah pesan teks misterius tanpa nama pengirim.

❖ ❖ ❖

Chafia meraih ponsel tersebut dengan jemari yang sedikit bergetar. Layar kecil itu menampilkan sebuah kalimat singkat namun menohok: 'Peringatan terakhir untukmu dan si ustadz peliharaanmu. Berhenti menyelidiki aliran dana proyek BSD, atau esok pagi nama PT Cipta Reksa Mandiri akan tercemar selamanya di hadapan publik.'

Aisha yang ikut membaca pesan tersebut langsung mengerutkan keningnya, ekspresi wajahnya berubah tegang. "Ini sudah keterlaluan, Fia! Mereka tidak hanya meneror lewat telepon, tapi kini mulai melacak privasi komunikasi kita. Dari mana mereka mendapatkan nomor pribadi ini?"

"Nomor ini hanya diketahui oleh sedikit orang di lingkaran internal perusahaan dan dirimu, Sha," jawab Chafia dengan suara dingin, matanya menyipit menatap layar ponsel. "Artinya, di dalam struktur perusahaan yang baru saja kita bersihkan kemarin, masih ada mata-mata yang membocorkan setiap pergerakan kita."

"Kita harus melacak alamat IP pengirim pesan ini sekarang juga," usul Aisha sigap, meraih laptop miliknya yang tergeletak di atas tempat tidur. Dengan keahlian analisis data yang dimilikinya, Aisha mulai mengetikkan beberapa baris perintah pemrograman untuk melacak jejak digital pesan tersebut.

Ruangan apartemen kembali sunyi, menyisakan suara ketukan tombol keyboard yang berderap cepat. Chafia berdiri dari meja rias, melangkah mondar-mandir di atas karpet tebal sambil memikirkan implikasi dari teror tersebut. Jika informasi mengenai keterlibatan Arkan dalam membantu investigasi internal bocor ke tangan publik atau para pesaing bisnis yang berniat menjatuhkan perusahaan, media massa akan memelintirnya menjadi skandal moral yang menghancurkan reputasi mereka berdua.

"Sha, bagaimana hasilnya?" tanya Chafia tidak sabar setelah beberapa menit berlalu dalam keheningan.

Aisha menghentikan gerakan jemarinya, menatap layar monitor dengan tatapan tidak percaya. "Jejaknya diputarkan melalui beberapa server proxy berlapis di luar negeri, Fia. Pengirimnya sangat profesional. Tapi... ada satu petunjuk kecil yang tertinggal di metadata file tersembunyi yang dikirimkan bersamaan dengan ancaman ini."

"Petunjuk apa?"

"Server lokal yang digunakan untuk mengirim pesan ini berasal dari jaringan internal penyedia layanan telekomunikasi yang sama dengan yang digunakan oleh anak perusahaan logistik kita di kawasan pelabuhan," jelas Aisha serius, memutar layar laptop agar Chafia dapat melihat deretan kode analitik tersebut. "Artinya, ancaman ini tidak dikirim oleh orang jauh di luar sana. Pelakunya berada di dalam jaringan ekosistem bisnis kita sendiri."

Chafia mengepal kedua tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah yang membara bergemuruh di dalam dadanya. Ia baru saja membersihkan dewan direksi utama, namun akar korupsi dan teror ternyata jauh lebih dalam dan tersembunyi di lini operasional bawah.

"Kita tidak boleh membiarkan informasi ini sampai ke tangan media atau membuat Arkan berada dalam bahaya lebih jauh," ucap Chafia tegas. "Aku harus menemui Arkan pagi ini sebelum matahari terbit."

Aisha mengangguk setuju, menutup laptopnya perlahan. "Aku akan terus memantau pergerakan data server malam ini. Hati-hati di jalan, Fia. Lindungi rahasia ini dengan baik."

Di titik jepit pertama ini, kesetiaan Aisha dan rahasia yang ia jaga menjadi benteng pertahanan terakhir yang menyelamatkan langkah Chafia dari kehancuran total di hadapan musuh tak kasat mata.

❖ ❖ ❖

Pukul 05.00 pagi. Langit ibu kota masih diselimuti kabut tipis ketika mobil sedan hitam Chafia melaju tenang menembus jalanan kawasan pinggiran kota menuju sebuah rumah singgah sederhana tempat Arkan tinggal selama berada di Jakarta. Jauh dari kemewahan apartemen pencakar langit dan riuhnya pusat bisnis, tempat itu menawarkan keheningan yang kontras dengan kekacauan dunia korporat yang tengah digeluti Chafia.

Lihat selengkapnya