Lembaran Kontrak yang Mulai Dipertanyakan---
Matahari sore di kawasan perumahan elit Pondok Indah menyisakan bias jingga yang memantul di kaca jendela besar rumah keluarga Chafia. Di dalam ruang tamu utama berlantai marmer putih bersih, suasana terasa jauh lebih panas ketimbang suhu di luar ruangan yang mulai mendingin. Sebuah meja bundar berukir kayu jati di tengah ruangan dipenuhi oleh lembaran-lembaran dokumen hukum, salinan akta nikah siri, dan beberapa cetakan berita daring yang memuat profil Arkan bersama Pak Hendrawan.
Chafia—wanita berusia akhir kepala dua yang merupakan sepupu jauh sekaligus salah satu ahli waris sah dari garis keturunan besar keluarga—duduk bersilang kaki di sofa beludru merah marun. Wajahnya tampak tegang, dihiasi alis yang menukik tajam menatap kedua orang tuanya yang duduk di seberang. Di samping Chafia, paman tertua mereka, Om Budi, mengetukkan jarinya berulang kali di atas permukaan meja, menciptakan bunyi ketukan ritmis yang memekakkan telinga.
"Kalian tidak bisa begitu saja menerima alasan klasik itu, Pak De!" suara Chafia melengking tinggi, memecah keheningan ruang tamu yang sejak satu jam terakhir dipenuhi perdebatan sengit. "Pernikahan mendadak antara Tari dan Arkan—seorang bawahan yang tiba-tiba melesat menjadi menantu kesayangan—bukanlah kebetulan suci seperti yang kalian bayangkan. Ini adalah skema manipulatif!"
"Jaga nada bicaramu, Chafia," tegur sang ayah, Om Budi, dengan suara berat penuh wibawa. Meskipun menegur, sorot mata pria paruh baya itu menyiratkan keraguan yang sama. "Kami tidak sedang menelan mentah-mentah penjelasan Hendrawan kemarin sore. Justru karena itulah kita berkumpul di sini hari ini. Ada sesuatu yang janggal dari seluruh rangkaian peristiwa ini."
Chafia meraih salah satu lembaran dokumen di atas meja, mengangkatnya tinggi-tinggi di bawah cahaya lampu kristal gantung. "Kalian lihat ini? Salinan perjanjian pranikah dan klausul internal yang berhasil kudapatkan melalui orang dalam di bagian legal Menara Sapphire. Pernikahan ini bukan didasari oleh cinta atau kecocokan keluarga. Ini adalah kontrak perlindungan aset!"
Ibu Chafia, Tante Maya (tidak ada hubungan keluarga dengan Maya mantan tunangan Radit), menarik napas panjang sambil merapikan selendang sutranya. "Kontrak perlindungan aset? Apa maksudmu, Nak? Jangan membuat istilah yang membuat kepala Mama pening."
"Maksudku jelas, Ma!" seru Chafia tajam, berdiri dari sofanya dan berjalan mondar-mandir di atas karpet Persia. "Paman Hendrawan sengaja menikahkan Tari dengan Arkan untuk mengalihkan hak kendali atas portofolio properti keluarga besar kita agar tidak jatuh ke tangan kerabat lain, termasuk kita! Arkan dijadikan boneka hukum dengan kedok suami sah, sementara di balik layar, mereka sedang mengamankan aset perusahaan dari ancaman audit eksternal!"
Suasana di ruang tamu itu mendadak hening seketika. Ucapan Chafia menghantam kesadaran setiap anggota keluarga yang hadir. Selama ini, keluarga besar Chafia memang selalu merasa berhak atas sebagian besar kekayaan dinasti bisnis yang dibangun oleh kakek moyang mereka—sebuah dinasti yang kini berada di bawah kendali penuh Pak Hendrawan sebagai komisaris utama. Kehadiran Arkan sebagai suami mendadak dari Tari dipandang bukan sebagai berkah kekerabatan, melainkan sebagai ancaman nyata terhadap pembagian warisan masa depan.
"Jika apa yang kamu katakan itu benar, Chafia..." ucap Om Budi perlahan, matanya menyipit penuh perhitungan, "berarti kita sedang berhadapan dengan sebuah konspirasi internal yang melibatkan pemalsuan motif pernikahan di hadapan hukum perdata maupun agama."
"Tentu saja ini konspirasi, Pa!" potong Chafia penuh keyakinan. "Dan aku tidak akan tinggal diam membiarkan orang luar bernama Arkan itu menguasai apa yang seharusnya menjadi hak kita."
❖ ❖ ❖
Dua hari berselang, di sebuah restoran semi-outdoor yang dikelilingi pepohonan rindang di kawasan Senayan, Chafia telah mengatur sebuah pertemuan rahasia. Di seberang meja kayu minimalis, duduk sosok yang tidak asing bagi dunia intrik korporat—Sarah. Mantan manajer humas Menara Sapphire itu mengenakan kacamata hitam besar dan blus hitam tertutup, berusaha menghindari perhatian pengunjung lain, meskipun sorot matanya tetap memancarkan ketajaman penuh perhitungan.
Chafia meletakkan cangkir kopi hitamnya ke atas piring kecil dengan gerakan anggun namun tergesa-gesa. Ia menatap wanita di hadapannya dengan rasa ingin tahu yang besar.
"Jadi, informasi yang Anda berikan di forum daring kemarin benar adanya, Mbak Sarah?" tanya Chafia langsung ke pokok permasalahan, tanpa basa-basi berbasa-basi. "Anda benar-benar memiliki bukti bahwa pernikahan Arkan dan Tari adalah sandiwara hukum?"
Sarah tersenyum tipis, membuka perlahan tas tangan kulitnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang disegel rapi, lalu mendorongnya melewati permukaan meja ke arah Chafia.
"Nona Chafia, di dunia korporat sebesar Menara Sapphire, tidak ada asap jika tidak ada api," jawab Sarah dengan suara rendah namun jelas di telinga Chafia. "Saya dipecat secara tidak hormat karena dituduh menjadi sumber kekacauan internal, padahal yang sebenarnya terjadi adalah para petinggi perusahaan sedang menutupi skandal besar untuk memuluskan jalan pengalihan kekuasaan kepada Arkan."
Chafia segera membuka amplop tersebut, mengeluarkan beberapa lembar salinan memo internal bertanda tangan digital milik Pak Hendrawan serta transkrip rekaman suara percakapan telepon yang membahas draf klausul rahasia antara Arkan dan Tari. Matanya membelalak lebar membaca setiap baris kalimat di dalam dokumen itu.
"Ya Tuhan..." bisik Chafia takjub sekaligus geram. "Ini... ini benar-benar bukti otentik. Mereka benar-benar mempermainkan hukum agama dan negara demi ambisi korporat."
"Gunakan dokumen itu dengan bijak, Nona Chafia," ujar Sarah dingin, menyesap jus jeruk di hadapannya. "Keluarga besar Anda memiliki hak penuh atas warisan dan kendali perusahaan. Jika Anda membiarkan Arkan dan Tari memegang kendali lebih lama lagi, bukan hanya posisi finansial keluarga Anda yang hancur, tetapi nama besar dinasti Hendrawan akan diinjak-injak oleh orang luar."
Chafia menutup kembali amplop cokelat itu erat-erat, mendekapnya di dekat dadanya seolah benda itu adalah senjata paling mematikan di dunia. "Tenang saja, Mbak Sarah. Anda telah memberikan peluru yang tepat. Arkan tidak akan bisa berkutik begitu keluarga besar kami membongkar kebusukan ini ke hadapan para pemegang saham utama minggu depan."
Sepeninggal Sarah dari meja tersebut, Chafia duduk termenung sejenak, merangkai rencana serangan balik yang sempurna. Ia tahu betul bahwa keluarganya tidak bisa langsung melapor ke penegak hukum tanpa dukungan bukti yang kuat dari internal perusahaan. Namun, dengan dokumen di dalam amplop cokelat ini, ditambah tekanan moral dari para sesepuh keluarga besar, posisi Arkan di Menara Sapphire dipastikan akan berada di ujung tanduk.