Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #18

Menghitung Detik

Menghitung Detik Menuju Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)---

Jarum jam di dinding marmer lobi utama menunjuk tepat pukul delapan malam, tetapi suasana di lantai tigapuluh gedung utama masih menyala terang benderang. Di dalam ruang kerja direksi, Arkan berdiri di balik dinding kaca yang menghadap langsung ke panorama malam ibu kota. Cahaya lampu kendaraan di bawah sana tampak seperti aliran sungai api yang bergerak lambat, mencerminkan keruwetan pikiran yang tengah berkecamuk di dalam kepalanya. Di atas meja kerjanya yang luas, setumpuk dokumen setinggi dua puluh sentimeter terikat rapi dengan pita merah—prospektus akhir, laporan audit investigatif, dan surat kuasa suara pemegang saham minoritas yang berhasil ia kumpulkan selama tiga minggu terakhir.

Waktu tersisa kurang dari empat puluh delapan jam sebelum Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tahunan yang dijadwalkan menjadi medan pertempuran penentuan masa depan perusahaan dimulai. Kubu lawan, yang dipimpin oleh sisa-sisa loyalis Hendra dan beberapa pemegang saham mayoritas bayangan, telah menyiapkan berbagai macam strategi kotor untuk menggulingkan posisi Arkan dari kursi direktur keuangan dan meredam temuan audit skandal penggelapan dana.

"Pak Arkan, kurir dari kantor notaris baru saja mengonfirmasi," suara Maya terdengar dari ambang pintu ruang kerja. Sekretaris setia itu melangkah masuk dengan membawa secangkir teh chamomile hangat yang langsung ia letakkan di dekat tumpukan berkas. "Seluruh draf surat suara independen dan dokumen kuasa dari kelompok investor minoritas sudah diverifikasi sah. Tapi... ada kabar kurang sedap dari departemen humas."

Arkan membalikkan badannya, menatap Maya dengan kening berkerut. "Kabar apa lagi, Maya? Jangan bilang mereka menyebarkan isu baru di media massa."

"Lebih dari itu, Pak," jawab Maya dengan nada cemas, merapikan letak tablet di tangannya. "Pagi tadi, salah satu portal berita ekonomi nasional memuat artikel anonim yang menyudutkan integritas bapak. Mereka menuding bapak sengaja memanipulasi data internal untuk menjatuhkan para petinggi lama demi ambisi pribadi. Meskipun tim hukum kita sudah menyiapkan bantahan resmi, isu itu pasti akan digoreng habis-habisan oleh kubu Pak Hendra saat RUPS lusa."

Arkan menghela napas panjang, lalu berjalan mendekati meja kerjanya dan meneguk sedikit teh hangat yang dibawakan Maya. Rasa hangat cairan itu merayap di tenggorokannya, sedikit meredakan ketegangan otot di lehernya.

"Biarkan mereka meniupkan angin kebohongan sebanyak apa pun yang mereka inginkan, Maya," ucap Arkan dengan nada suara yang tenang, dingin, namun penuh keyakinan yang tidak tergoyahkan. "Di dalam ruang RUPS nanti, opini publik di media luar tidak akan berarti apa-apa jika di atas meja sidang kita memegang bukti fisik yang sah di mata hukum. Kebenaran tidak butuh panggung sandiwara, ia hanya butuh ruang untuk dibuktikan."

Maya menatap atasannya itu dengan sorot mata penuh kekaguman. Selama berminggu-minggu melewati teror, tekanan psikologis, hingga ancaman terselubung dari lingkaran korporat yang busuk, Arkan tidak pernah menunjukkan tanda-tanda gentar sedikit pun.

"Saya percaya pada bapak," ujar Maya tulus. "Semua persiapan teknis di ruang sidang utama lantai sepuluh sudah selesai. Tim pengamanan independen juga sudah disiagakan untuk memastikan tidak ada pihak luar yang menyusup atau mencoba merusak dokumen fisik saat rapat berlangsung."

"Bagus," balas Arkan singkat. "Sekarang, istirahatlah, Maya. Besok adalah hari yang sangat panjang bagi kita berdua. Kita harus berada dalam kondisi fisik dan mental seratus persen sebelum bel sidang RUPS berbunyi."

❖ ❖ ❖

Keesokan paginya, matahari terbit dengan sinar menyengat yang menembus tirai kaca gedung pencakar langit. Pagi itu, atmosfer di koridor lantai sepuluh terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Para staf dan pegawai tampak berjalan dengan langkah cepat dan saling berbisik-bisik, menyadari bahwa ketegangan di tingkat petinggi korporasi telah mencapai puncaknya. Di ruang tunggu utama, beberapa komisaris senior dan perwakilan investor institusional mulai berdatangan mengenakan setelan jas formal terbaik mereka.

Arkan melangkah keluar dari ruang kerjanya tepat pukul sembilan pagi. Ia mengenakan jas hitam kelam berdasi perak, memancarkan aura ketegasan seorang eksekutif muda yang siap bertaruh nyawa demi prinsip lembaganya. Di sampingnya, Maya berjalan membawa koper kecil berisi salinan dokumen audit final yang dijaga ketat.

Begitu Arkan tiba di depan pintu ganda ruang sidang utama, ia mendapati sosok yang paling dihindarinya sejak kasus itu meledak tengah berdiri menanti: Pak Hendra. Meskipun sudah diskors dan menghadapi proses hukum, mantan wakil direktur operasional itu tampak masih memiliki akses masuk berkat dukungan dari beberapa pemegang saham lama yang setia padanya. Wajah Hendra tampak pucat, namun senyum sinis tersungging di bibirnya saat ia menatap tajam ke arah Arkan.

"Pagi, Arkan," sapa Hendra dengan nada suara mengejek yang sengaja dikeraskan agar didengar oleh beberapa komisaris yang baru saja tiba. "Langkahmu hebat juga bisa sampai ke ambang pintu sidang ini. Tapi ingat, memenangkan simpati di atas kertas tidak akan membuatmu bertahan lama ketika para pemegang saham besar mulai membuka suara."

Arkan menghentikan langkahnya, menatap lurus ke mata pria paruh baya itu tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun. "Yang menentukan hidup matinya perusahaan ini di ruang sidang nanti bukan isapan jempol atau ancaman kosong, Pak Hendra, melainkan pertanggungjawaban moral dan hukum atas apa yang selama ini kalian curi dari perusahaan."

Wajah Hendra seketika mengeras mendengar sindiran tajam tersebut. "Jangan sombong dulu, anak muda! Kursi direktur keuangan itu terlalu panas untuk punggung rapuhmu!"

Sebelum perdebatan itu semakin memanas, pintu ganda ruang sidang utama terbuka lebar dari dalam. Petugas panitia RUPS mengumumkan bahwa sidang pleno tahunan akan segera dimulai tepat pukul sembilan lewat lima belas menit. Para pemegang saham, direksi, dan dewan komisaris mulai berbondong-bondong memasuki ruangan berpendingin udara dingin tersebut.

Arkan menarik napas dalam-dalam, menepuk pelan pundak Maya sebagai tanda isyarat untuk bersiap, lalu melangkah mantap memasuki ruangan yang akan menjadi saksi bisu penentuan nasib karier dan integritasnya.

Lihat selengkapnya