Sentuhan Keadilan yang Tak Terduga---
Langit Jakarta di luar jendela kaca lantai tiga puluh gedung utama Artha Cipta Media tampak kelam, tertutup tirai mendung yang tebal seolah hendak menumpahkan seluruh airnya ke bumi. Di dalam ruangan arsip digital yang dingin dan beraroma kertas tua, Arkan duduk membungkuk di depan layar monitor komputer jinjingnya. Cahaya biru dari layar memantulkan bayangan wajahnya yang tampak lelah namun diselimuti oleh tekad baja yang menyala-nyala.
Di sekelilingnya, tumpukan berkas audit keuangan dari tiga tahun ke belakang berserakan tidak beraturan. Lembaran-lembaran neraca, faktur pembelian fiktif, hingga surat perjanjian kerja sama dengan pihak ketiga diteliti satu per satu dengan ketelitian seorang detektif berpengalaman. Sudah hampir seminggu penuh Arkan mendedikasikan malam-malamnya untuk menyisir setiap celah tersembunyi dalam pembukuan perusahaan yang pernah nyaris runtuh akibat manipulasi internal.
"Mas Arkan, apakah kamu butuh bantuan lagi untuk memindai dokumen pajak tahun dua ribu empat belas ini?" suara lembut Chafia memecah keheningan malam. Wanita itu melangkah mendekat sambil membawa dua cangkir kopi hitam panas, lalu meletakkan salah satunya di sebelah komputer jinjing suaminya.
Arkan mendongak, menatap istrinya dengan senyuman tipis yang menyiratkan rasa terima kasih yang mendalam. "Terima kasih, Chafia. Tapi dokumen fisik tahun itu sudah selesai saya pindai. Yang sedang saya teliti sekarang adalah transaksi mencurigakan di kuartal ketiga tahun lalu, tepat sebelum mendiang ayahmu berpulang."
Chafia menarik kursi kecil di sebelah suaminya dan duduk dengan saksama. Ia menatap deretan angka di layar monitor yang menunjukkan lonjakan biaya operasional yang tidak masuk akal pada pos pemeliharaan mesin cetak. "Ada apa dengan kuartal itu, Mas? Bukankah pos anggaran tersebut memang selalu tinggi karena pergantian suku cadang impor?"
"Itulah kebohongannya, Chafia," jawab Arkan dengan nada suara yang tenang namun tegas. Jari telunjuknya menunjuk ke arah baris data tertentu di layar. "Kalau kita bandingkan nomor seri faktur pembelian suku cadang dari suplier utama dengan catatan barang masuk di gudang logistik, ada selisih angka yang sangat janggal. Uang perusahaan keluar dalam jumlah besar, tapi tidak ada satupun mesin baru yang masuk ke pabrik."
Chafia menahan napasnya sejenak, matanya membelalak menatap baris data yang ditunjukkan suaminya. Jantungnya berdegup lebih kencang. "Maksudmu... ada penggelapan dana yang disamarkan sebagai biaya operasional?"
"Bukan sekadar penggelapan biasa, Chafia," tegas Arkan sambil bersandar di kursinya, melipat tangan di depan dada. "Ini adalah data fiktif pertama yang dibuat dengan sangat rapi untuk mengelabui audit eksternal. Dan orang yang menandatangani otorisasi pencairan dana ini bukanlah orang sembarangan. Ini melibatkan jabatan tinggi di dalam struktur manajemen lama kita."
Suasana di dalam ruangan arsip mendadak terasa semakin dingin. Udara di sekitar mereka seolah membeku, menyisakan ketegangan yang siap meledak kapan saja. Temuan ini bukan lagi sekadar kesalahan administrasi biasa, melainkan bukti otentik adanya pengkhianatan dari dalam tubuh perusahaan yang selama ini bersembunyi di balik senyum ramah para petinggi lama.
"Siapa..." bisik Chafia dengan suara bergetar, seolah takut mendengar jawaban yang akan keluar dari mulut suaminya. "Siapa orang yang berani memalsukan dokumen penandatanganan di balik punggung ayah saya?"
Arkan menatap mata istrinya lekat-lekat, memberikan kekuatan batin sebelum ia menyebutkan nama yang akan mengubah segalanya keesokan hari. "Orang yang selama ini berdiri paling depan pura-pura membantu kita, Wakil Direktur Utama kita sendiri, Handoko."
❖ ❖ ❖
Keesokan paginya, suasana di ruang rapat utama Artha Cipta Media terasa begitu mencekam meskipun pendingin ruangan berdengung lembut. Di atas meja rapat berbentuk oval dari kayu jati pilihan, berkas cetak berisi temuan data fiktif pertama tergeletak rapi di dalam sebuah map biru tua.
Chafia duduk di kursi kepala rapat dengan postur tegak dan pandangan tajam, sementara Arkan berdiri di samping layar projektor besar yang menampilkan grafik perbandingan aliran kas fiktif buatan Handoko. Di sisi seberang meja, Handoko duduk dengan gelagat gelisah, meski ia berusaha keras mempertahankan senyum sinis dan wibawa palsunya sebagai petinggi senior perusahaan.
"Baiklah, mari kita mulai rapat evaluasi mendadak pagi ini," suara Chafia memecah keheningan dengan nada tegas yang tidak memberi ruang bagi bantahan. "Saya mengundang Bapak Handoko dan jajaran kepala divisi keuangan untuk membahas temuan audit internal terbaru yang sangat krusial bagi kelangsungan hukum perusahaan kita."
Handoko berdehem kecil, lalu melipat tangan di dada dengan gaya meremehkan. "Bu Chafia, kalau rapat pagi ini hanya akan membahas laporan rutin bulanan yang sudah biasa kita telaah, saya rasa waktu saya lebih baik digunakan untuk memantau produksi di pabrik cabang."
"Laporan ini sama sekali bukan laporan rutin, Pak Handoko," sahut Arkan dengan suara tenang namun dingin, melangkah mendekati meja rapat sambil memegang remote penggeser slide projektor. "Ini adalah lembaran hitam yang membongkar rekayasa keuangan yang merugikan perusahaan senilai miliaran rupiah selama bertahun-tahun."
Layar projektor beralih menampilkan salinan faktur bernomor seri ganda yang ditandatangani langsung oleh Handoko. Seketika itu juga, warna muka Handoko berubah pucat pasi, senyum sinis di bibirnya lenyap tanpa sisa.
"Apa-apaan ini?!" bentak Handoko setengah berdiri dari kursinya, berusaha menutupi kepanikannya dengan kemarahan buatan. "Kamu berani menuduh saya memalsukan dokumen keuangan tanpa dasar yang jelas, Arkan? Saya sudah mengabdi di perusahaan ini lebih lama dari usia pernikahan kalian!"