Malam Panjang di Ruang Arsip
Malam di ibu kota merangkak lambat, menyisakan deru kendaraan yang mulai jarang melintas di jalan raya utama di bawah sana. Dari balik jendela kaca raksasa di lantai empat puluh dua gedung perkantoran Wijaya Group, langit tampak gelap pekat tanpa taburan bintang, hanya menyisakan kerlip lampu gedung-gedung tinggi yang menyerupai kunang-kunang raksasa di tengah kota. Di dalam ruang arsip pusat yang luas dan senyap, Chafia duduk terpaku di kursi putar berbahan kulit hitam. Di hadapannya, hamparan dokumen, katalog pameran masa lalu, serta berkas-berkas hukum yang disusun oleh Arkan tertata rapi membentuk gunungan kecil di atas meja kerja kayu jati.
Chafia menghela napas panjang, membiarkan udara hangat keluar dari sela bibirnya. Matanya terasa lelah setelah berjam-jam memilah lembar demi lembar laporan keuangan dan draf kerja sama budaya yang berhasil diselamatkan dari kekacauan ulah Fauzan beberapa waktu lalu. Di sudut ruangan, lampu meja berpenutup kain krem memancarkan cahaya kuning temaram, menciptakan bayangan panjang yang jatuh di dinding putih bersih.
"Belum mau beristirahat, Chafia?" suara bariton yang khas dan menenangkan tiba-tiba memecah keheningan malam, membuat Chafia sedikit tersentak dari lamunannya.
Chafia menoleh ke arah pintu masuk ruang arsip. Arkan berdiri di sana dengan kemeja putih yang lengannya telah digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengan yang kokoh. Di tangan kanannya, pria itu membawa dua cangkir kertas berisi cokelat panas yang mengepulkan uap tipis. Dasi sutra biru tuanya sudah dilepas dan disampirkan begitu saja di atas sofa sudut ruangan.
"Aku masih ingin merapikan beberapa berkas hibah dari pesantren yang dikirimkan Fikri minggu lalu, Arkan," jawab Chafia dengan nada suara yang terdengar sedikit parau karena kelelahan. "Rasanya tidak tenang jika ada satu dokumen pun yang tercecer atau salah tempat setelah semua badai yang kita lewati."
Arkan melangkah mendekat dengan langkah tenang, meletakkan salah satu cangkir cokelat panas di atas meja tepat di samping tumpukan map arsip Chafia. Ia menarik sebuah kursi kayu berpelapis busa, lalu duduk tepat di sebelah wanita itu dengan jarak yang cukup dekat.
"Dokumen-dokumen itu sudah diverifikasi tiga kali oleh tim hukumku, Chafia. Tidak ada yang akan hilang atau salah tempat," ujar Arkan lembut sambil menatap lurus ke dalam manik mata wanita di sampingnya. "Kamu tidak perlu memikul seluruh beban ini sendirian lagi. Ada aku di sini."
Chafia terdiam sejenak. Sorot mata Arkan memancarkan ketulusan yang begitu dalam—sesuatu yang selalu berhasil meruntuhkan pertahanan dingin yang kerap ia bangun di hadapan dunia luar. Ia meraih cangkir cokelat panas tersebut, membiarkan kehangatan cangkir kertas menjalar ke telapak tangannya yang sejak sore terasa dingin.
"Bukannya aku tidak percaya padamu, Arkan," ucap Chafia lirih, pandangannya kembali menatap tumpukan arsip di hadapannya. "Hanya saja... melihat semua arsip ini membuatku teringat betapa rapuhnya apa yang kita bangun jika tidak dijaga oleh ketulusan yang benar. Dulu, aku mengira dunia seni dan korporat adalah tempat di penuh intrik di mana setiap orang hanya memikirkan keuntungan materi semata. Tapi apa yang kamu lakukan, dan apa yang ditunjukkan oleh Fikri dari pesantren, mengubah cara pandangku sepenuhnya."
Arkan tersenyum tipis, sebuah senyuman hangat yang jarang ia tunjukkan kepada orang lain di luar sana. "Seni dan hukum pada dasarnya memiliki kesamaan, Chafia. Keduanya diciptakan bukan untuk mengekang, melainkan untuk melindungi keindahan dan kebenaran agar tidak diinjak-injak oleh keserakahan."
❖ ❖ ❖
Keheningan kembali merayap di dalam ruang arsip yang luas itu, hanya diselingi oleh suara dengung halus dari pendingin ruangan sentral. Chafia membuka kembali map biru tua berisi catatan harian kuratorial lamanya—catatan yang ia tulis sejak pertama kali merintis galeri seni kecil sebelum ia dipercaya memegang proyek besar bersama Arkan. Jemarinya meraba pelan lembar demi lembar kertas yang mulai menguning di bagian pinggirnya.
"Kamu tahu, Arkan? Dulu, sewaktu aku masih berjuang mati-matian mendapatkan izin pameran pertama di galeri independen, tidak ada seorang pun yang peduli pada nilai filosofis sebuah karya," cerita Chafia dengan suara pelan, matanya menerawang jauh menembus masa lalu. "Mereka hanya melihat berapa banyak tiket yang bisa terjual dan seberapa mahal lukisan itu bisa dilelang kepada para kolektor kaya."
Arkan menyimak dengan penuh perhatian, tubuhnya sedikit condong ke depan mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari bibir wanita itu. "Dan di titik terendah itulah kamu hampir menyerah pada mimpimu?"
"Bukan hampir, tapi aku benar-benar hampir menyerah," aku Chafia jujur, menoleh untuk membalas tatapan mata Arkan. "Saat itu, keluargaku mendesakku untuk menerima perjodohan bisnis dengan Fauzan. Mereka bilang dunia seni tidak akan pernah memberiku jaminan hidup yang layak. Menjadi kurator hanyalah hobi mahal buang-buang waktu bagi mereka."
Arkan menghela napas perlahan, rasa amarah samar kembali bergemuruh di dadanya mengingat bagaimana pria seperti Fauzan hampir menghancurkan masa depan wanita luar biasa di hadapannya ini. "Tapi kamu memilih untuk bertahan. Kamu melawan arus ekspektasi keluarga dan memilih berdiri di atas kakimu sendiri."
"Karena aku tidak punya pilihan selain bertahan pada hal yang aku cintai," balas Chafia dengan senyuman pahit. "Hingga akhirnya aku bertemu denganmu di bawah temaram lampu taman malam itu—saat kita bertabrakan secara konyol, membawa isi tas yang berhamburan di atas lantai basah."
Arkan tertawa kecil, suara baritonnya memecah ketegangan kenangan masa lalu tersebut. "Pertemuan paling tidak romantis dalam sejarah korporat. Aku menabrakmu, kamu membentakku habis-habisan, dan dalam waktu singkat hidupku mendadak jungkir balik karena seorang kurator seni yang keras kepala."
"Dan sekarang, lihatlah di mana kita berada," timpal Chafia, suaranya melembut. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang arsip yang dipenuhi tumpukan dokumen perjuangan mereka berdua. "Di tengah tumpukan kertas hukum dan arsip budaya, aku justru menemukan tempat di mana aku bisa merasa benar-benar aman."
Arkan meraih tangan Chafia yang tergeletak di atas meja, menggenggam jemari itu dengan lembut dan penuh kehangatan. "Karena tempatmu memang di sini, Chafia. Di sisiku, melewati setiap persimpangan bersama-sama."
❖ ❖ ❖