Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #22

Ancaman Nyata

Ancaman Nyata dari Paman Surya---

Matahari sore di kawasan Menteng meredupkan sinarnya, menyisakan bias keemasan yang menembus sela-sela dahan pohon mahoni tua di halaman sebuah kafe semi-outdoor bergaya kolonial. Suasana di tempat itu cukup tenang, diiringi alunan musik jazz instrumental yang mengalun lirih dari pengeras suara tersembunyi. Di meja sudut yang terlindung di balik rimbunnya tanaman hias monstera, Arkan duduk sendiri sambil menyesap perlahan kopi hitam tanpa gula di dalam cangkir keramik putih. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 16.45 WIB. Ia baru saja menyelesaikan agenda pertemuan singkat dengan salah satu klien properti penting di kawasan tersebut, ketika sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya dari nomor tak dikenal yang meminta pertemuan mendesak.

“Jika kamu ingin rahasia besar tentang masa lalu perusahaan dan posisi istrimu tetap aman, datanglah ke meja sudut Kafe Batavia pukul empat sore. Jangan bawa siapa-siapa,” demikian bunyi pesan tersebut.

Arkan tidak langsung mengabaikannya. Insting korporatnya langsung membaca pola ancaman terselubung yang khas—cara kerja para pemain lama yang gemar bermain di air keruh. Meskipun ia tahu itu bisa jadi sebuah jebakan psikologis, mengabaikannya bukanlah pilihan yang bijak ketika menyangkut keselamatan dan ketenangan hidup Tari.

Langkah kaki tegap berbalut pantofel menghentikan lamunannya. Seorang pria paruh baya bertubuh gempal dengan setelan jas abu-abu gelap mahal muncul di balik sekat tanaman. Pria itu mengenakan kacamata berbingkai emas, dan senyuman tipis tersungging di bibirnya—senyuman penuh muslihat yang tidak pernah sampai ke matanya. Surya Darmawan. Paman Surya berdiri sejenak, lalu tanpa menunggu undangan, ia langsung menarik kursi di seberang Arkan dan mendudukkan dirinya dengan penuh percaya diri.

"Selamat sore, anak muda," sapa Surya dengan nada suara bariton yang berat, mencerminkan dominasi dan pengalaman bertahun-tahun di dunia bisnis. "Senang melihatmu bisa meluangkan waktu di tengah kesibukanmu sebagai direktur muda yang sangat diandalkan di Menara Sapphire."

Arkan menatap pria paruh baya itu dengan sorot mata yang tenang, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa gentar. Ia meletakkan cangkir kopinya perlahan ke atas piring kecil, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi rotan.

"Tidak perlu berbasa-basi, Paman Surya," balas Arkan to the point, suaranya terdengar dingin dan terukur. "Anda meminta saya datang ke sini bukan untuk memuji karier saya. Langsung saja katakan apa yang Anda inginkan."

Surya tertawa kecil, suara tawa serak yang terdengar meremehkan. Ia melipat kedua tangannya di atas meja marmer, menatap Arkan lekat-lekat seolah sedang menilai kekuatan mangsa di hadapannya. "Kamu memang selalu cerdas dan bertindak cepat, Arkan. Pantas saja Hendrawan begitu memercayakan seluruh kendali perusahaan dan bahkan keponakan kesayangannya kepadamu. Tapi kecerdasan saja tidak akan cukup untuk menyelamatkanmu dari badai yang sedang kuhimpun."

"Badai?" Arkan mengangkat sebelah alisnya, mempertahankan ketenangannya. "Apakah Anda sedang mengacu pada dokumen-dokumen lama yang coba disebarkan oleh rekan-rekan Anda beberapa waktu lalu? Itu sudah diselesaikan di ruang rapat utama."

"Ah, rapat internal itu?" Surya tersenyum sinis, menggelengkan kepalanya perlahan. "Itu baru permulaan, Arkan. Permainan sesungguhnya baru saja dimulai. Dokumen yang dipegang oleh Chafia atau Sarah hanyalah percikan api kecil. Yang sedang kupegang saat ini adalah bukti autentik mengenai manipulasi finansial dan rekayasa silsilah keluarga yang dilakukan oleh Hendrawan untuk menutupi kejahatan masa lalu ayah Tari."

Mendengar nama ayah Tari disebut dengan nada penuh ancaman, rahang Arkan sedikit mengeras. Meskipun demikian, ia tetap menjaga ekspresi wajahnya tetap datar. "Jika Anda memiliki bukti hukum yang sah, mengapa Anda tidak membawanya langsung ke pihak berwajib atau pengadilan? Mengapa harus repot-repot menemui saya secara sembunyi-sembunyi di tempat seperti ini?"

❖ ❖ ❖

Surya mendengus pelan, mengubah posisi duduknya sedikit condong ke depan. Sorot matanya menajam, memancarkan ambisi serakah yang sudah bertahun-tahun ia pendam.

"Pengadilan? Jangan naif, Arkan," ujar Surya dengan suara berbisik namun penuh tekanan. "Jalur hukum memakan waktu terlalu lama dan melibatkan birokrasi yang bisa diatur. Aku tidak tertarik pada proses peradilan yang panjang. Yang kuinginkan sangat sederhana: kembalikan kursi direksi utama dan hak penuh atas portofolio properti keluarga besar kepada orang yang seharusnya memegangnya dari dulu—yaitu aku."

Arkan menatap pria paruh baya itu dengan pandangan menyelidik. "Jadi, semua intrik ini—menggunakan Sarah, menghasut keluarga besar Chafia, hingga menebar teror informasi—hanya demi ambisi pribadi Anda untuk merebut kembali kekuasaan di Menara Sapphire?"

"Bukan sekadar merebut kembali, Arkan. Ini adalah penegakan hak yang dirampas!" bentak Surya tertahan, wajahnya memerah karena emosi sesaat yang nyaris lepas kendali. Ia segera menarik napas panjang, menenangkan diri kembali sebelum melanjutkan dengan senyuman licik. "Pikirkan baik-baik masa depan istrimu, Tari. Gadis malang itu baru saja menemukan ketenangan hidup setelah bertahun-tahun hidup di bawah bayang-bayang ketakutan keluarga. Apakah kamu tega melihat reputasinya hancur lebur di hadapan publik, dan pernikahannya—yang kamu banggakan itu—dipermalukan sebagai sandiwara hukum?"

Tekanan psikologis itu dilancarkan dengan terarah. Surya tahu betul bahwa kelemahan terbesar Arkan bukanlah pada posisi jabatannya, melainkan pada komitmen moral dan perlindungannya terhadap Tari.

Arkan terdiam sejenak. Jari-jarinya mengetuk pelan permukaan meja kafe. Ia menyadari bahwa ancaman Surya bukanlah gertakan kosong. Pria tua itu memiliki jaringan informasi yang luas di kalangan internal maupun eksternal perusahaan, dan jika dokumen-dokumen itu benar-benar bocor ke media massa secara masif, dampaknya akan menghantam psikologis Tari secara telak.

"Anda salah besar jika mengira ancaman ini bisa membuat saya menyerah begitu saja," ucap Arkan tegas, menatap lurus ke dalam mata Surya tanpa ada keraguan sedikit pun. "Saya tahu apa yang sedang Anda pertaruhkan. Jika Anda mencoba menghancurkan Tari atau perusahaan, saya pastikan jejak rekam korupsi dan manipulasi anggaran Anda di masa lalu juga akan dibuka secara transparan ke hadapan para pemegang saham."

Wajah Surya seketika menegang. Senyuman sinis di bibirnya memudar dalam hitungan detik. Meskipun ia berusaha menutupinya dengan tatapan tajam, keterkejutan sempat terpancar jelas di bola matanya mendengar Arkan menyebut perihal jejak rekam masa lalunya.

"Jangan bermain-main dengan api, anak muda," desis Surya penuh memperingatkan, suaranya berubah dingin dan berbahaya. "Kamu tidak tahu dengan siapa kamu sedang berurusan. Aku bisa menghancurkan kariermu dalam semalam."

"Silakan coba," balas Arkan tenang namun mematikan. "Tetapi ingat, orang yang tidak punya niat serakah tidak akan pernah takut kehilangan kursi jabatan. Yang saya pertahankan adalah kebenaran, sementara yang Anda pertahankan hanyalah keserakahan."

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya