Pertemuan Rahasia Fauzan dan Paman Surya---
Malam di kawasan Menteng kembali merangkak larut, menyisakan kabut tipis yang turun perlahan membasahi dedaunan mahoni di halaman sebuah restoran tertutup berarsitektur klasik. Di dalam ruang privat berpanel kayu jati gelap yang kedap suara, dua orang pria duduk saling berhadapan di atas sofa kulit hitam bergaya victoria. Di atas meja rendah beralaskan marmer hitam, terhidang sebotol wisma tua berdinding kristal yang isinya telah berkurang separuh, ditemani kepulan asap cerutu tipis yang meliuk-liuk pelan di udara sebelum tersedot oleh ventilasi tersembunyi.
Surya Darmawan menyandarkan punggungnya dengan gelisah, jemarinya yang mengenakan cincin batu akik hitam mengetuk-ngetuk permukaan meja secara ritmis. Wajahnya yang biasa tampak tenang kini menyiratkan guratan kemarahan dan kekalahan telak yang belum sepenuhnya bisa ia terima. Di seberangnya, Fauzan—mantan direktur keuangan yang telah lama dipecat dari Menara Sapphire akibat skandal manipulasi audit—duduk menyilangkan kaki dengan senyuman sinis tersungging di bibirnya.
"Kamu benar-benar telah bertindak gegabah, Surya," buka Fauzan dengan nada suara tajam namun tenang, menyesap perlahan minuman di dalam gelas kristalnya. "Mengandalkan artikel murahan di media daring untuk mengguncang posisi Arkan adalah langkah amatir. Kamu meremehkan seberapa kuat cengkeraman anak itu di dewan komisaris."
Surya mendengus keras, mendelik tajam ke arah Fauzan. "Jangan mengguruiku, Fauzan! Kamu tidak tahu betapa dekatnya aku dengan kemenangan jika saja Hendrawan tidak buru-buru melindungi anak ingusan itu dengan seluruh pengaruhnya. Arkan menggunakan laporan audit forensik lama untuk membalikkan keadaan di hadapan para komisaris siang tadi."
"Tentu saja dia menggunakan laporan itu, karena kamu tidak pernah benar-benar menghapus jejak digitalmu di bagian keuangan saat kita bekerja sama dulu," balas Fauzan dingin, menatap Surya tanpa rasa segan sedikit pun. "Kamu mengira dirimu paling pintar, padahal setiap langkah busukmu selalu meninggalkan rekam jejak yang bisa dibaca oleh orang teliti seperti Arkan."
Suasana di dalam ruang privat itu mendadak menegang. Surya mengepalkan tangannya di atas meja, urat-urat di pelipisnya menonjol keluar menahan amarah. Namun, ia tahu betul bahwa ia tidak sedang berada di posisi untuk mendebat. Saat ini, ia membutuhkan Fauzan—satu-satunya orang di luar lingkaran perusahaan yang masih memahami celah-celah administrasi keuangan paling gelap di Menara Sapphire.
"Cukup, Fauzan," ucap Surya akhirnya dengan suara tertahan, meredam egonya demi kepentingan yang lebih besar. "Kita tidak di sini untuk saling menyalahkan atas kegagalan kemarin. Aku memanggilmu malam ini bukan untuk mendengar ceramah, melainkan untuk menyusun strategi balasan yang jauh lebih mematikan. Arkan dan Hendrawan sudah terlalu jauh melangkah; jika kita tidak membalas sekarang, seluruh aset keluarga besar akan lepas dari genggaman kita selamanya."
Fauzan tersenyum tipis mendengar kata-kata itu. Ia mematikan cerutunya di atas asbak kristal, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, mendekat ke arah Surya dengan tatapan penuh perhitungan.
"Bagus jika kamu akhirnya sadar bahwa kita butuh pendekatan yang berbeda," bisik Fauzan tajam. "Serangan terbuka melalui media massa atau tekanan moral sudah tidak mempan lagi pada Arkan. Anak itu punya benteng mental yang terlalu kokoh. Kita harus menyerang dari titik paling rapuh yang tidak pernah mereka duga sebelumnya."
"Titik paling rapuh?" kening Surya berkerut dalam. "Apa maksudmu?"
❖ ❖ ❖
Fauzan menyandarkan kembali punggungnya, merapikan kerah kemeja gelapnya sebelum melanjutkan kalimat dengan nada suara yang sengaja direndahkan.
"Selama ini, kita selalu membuang tenaga untuk menjatuhkan Arkan melalui urusan korporat, kebijakan kantor, atau latar belakang keluarga Tari," kata Fauzan penuh perhitungan. "Padahal, kekuatan utama Arkan saat ini bersumber dari satu hal: keyakinan mutlak yang diberikan oleh Pak Hendrawan dan keharmonisan semu di dalam rumah tangganya."
Surya mengerjap perlahan, mulai menangkap arah pemikiran mantan anak buahnya itu. "Rumah tangga mereka? Maksudmu pernikahan siri antara Arkan dan Tari?"
"Tepat sekali," angguk Fauzan mantap. "Pernikahan itu lahir dari keterpaksaan, rasa kasihan, dan upaya menutupi aib keluarga. Meskipun di hadapan publik mereka tampak tegar dan saling mendukung, sebuah ikatan yang dibangun di atas fondasi keraguan dan rahasia besar tidak akan pernah benar-benar kokoh diuji oleh waktu dan tekanan psikologis yang tepat."
"Lalu, apa bentuk strategi balasan yang kamu sarankan?" tanya Surya, rasa penasaran mulai mengalahkan rasa kesalnya tadi.
Fauzan merogoh saku jas dalamnya, lalu mengeluarkan sebuah flashdisk hitam berukuran kecil dan meletakkannya di atas meja marmer tepat di hadapan Surya. "Di dalam benda kecil ini terdapat salinan dokumen medis rahasia dan rekam jejak komunikasi masa lalu antara Tari dengan seseorang yang nyaris menghancurkan hidupnya sebelum ia masuk ke Menara Sapphire."
Mata Surya membelalak lebar menatap flashdisk kecil tersebut. "Dari mana kamu mendapatkan benda ini, Fauzan?"
"Jangan tanyakan dari mana aku mendapatkannya. Di dunia intelijen korporat, informasi adalah mata uang paling mahal," jawab Fauzan menyeringai lebar. "Dokumen ini membuktikan bahwa Tari tidak sepenuhnya jujur kepada Arkan mengenai alasan mengapa ia dahulu hampir terseret dalam skandal besar sebelum diselamatkan oleh Paman Hendrawan. Ada rahasia kelam yang sengaja disembunyikan rapat-rapat dari suaminya."
Surya meraih flashdisk tersebut, menimbangnya perlahan di telapak tangannya dengan senyuman penuh muslihat yang kembali mengembang di wajahnya. "Jika Arkan mengetahui bahwa istri yang dibelanya setengah mati ternyata menyimpan kebohongan besar mengenai masa lalunya... kepercayaan di antara mereka akan hancur seketika dari dalam."
"Bukan sekadar hancur, Surya," potong Fauzan tajam. "Kepercayaan adalah fondasi utama pernikahan siri yang rapuh itu. Begitu Arkan merasa dikhianati oleh kejujuran istrinya sendiri, fokusnya di kantor akan terpecah total. Pertahanan psikologisnya akan runtuh, dan saat itulah kita hancurkan mereka berdua tanpa perlu menyentuh sistem perusahaan."
Surya mengangguk-angguk takjub, meresapi setiap detail rencana licik yang dibentangkan oleh Fauzan di hadapannya. "Langkah yang sangat brilian, Fauzan. Tidak ada kehancuran yang lebih menyakitkan daripada kehancuran yang datang dari orang terdekat di dalam rumah sendiri."
❖ ❖ ❖