Nama yang Membuat Paman Surya Terperanjat---
Langit sore di kawasan industri pinggiran kota Jakarta memantulkan cahaya jingga yang meredup di balik kepulan asap tipis dari cerobong-cerobong pabrik yang mulai melambat aktivitasnya. Di dalam sebuah ruang tamu minimalis bergaya klasik milik Paman Surya—seorang kolektor barang antik sekaligus mantan bankir senior yang disegani—suasana terasa begitu tenang dan sarat dengan aroma kayu jati tua serta teh melati hangat.
Arkan duduk di atas kursi rotan berlapis kain linen putih, sementara Chafia berdiri sejenak di dekat jendela besar yang menghadap ke halaman belakang yang dipenuhi tanaman pakis liar. Di atas meja rendah berlapis kaca di hadapan mereka, terbentang beberapa lembar dokumen arsip lama dan sebuah buku catatan bersampul kulit hitam legam milik mendiang ayah Chafia, Hartono. Dokumen tersebut adalah kepingan sejarah masa lalu yang sengaja dicari oleh Arkan untuk melacak asal-usul utang misterius yang hampir menghancurkan perusahaan beberapa waktu lalu.
"Jadi, kedatangan kalian berdua ke mari bukan sekadar bersilaturahmi, melainkan membawa koper penuh misteri masa lalu yang sudah terkubur hampir tiga dekade?" suara serak namun berwibawa keluar dari bibir Paman Surya. Pria paruh baya berambut putih perak itu menyesap teh dari cangkir porselennya perlahan, lalu meletakkannya kembali di atas meja dengan bunyi denting halus.
Arkan mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap pria sepuh yang merupakan sahabat lama mendiang ayah mertuanya itu dengan sorot mata yang penuh keseriusan. "Benar, Paman Surya. Kami tidak ingin mengganggu ketenangan masa tua Paman, tapi kami menemukan sebuah kejanggalan struktural dalam pendanaan awal Artha Cipta Media tiga puluh tahun lalu. Ada nama yang berulang kali muncul dalam dokumen transaksi gelap yang disembunyikan oleh Handoko, dan nama itu terikat erat dengan masa lalu Ayah."
Chafia berjalan mendekat, lalu duduk di sebelah suaminya. Wajah wanita itu menyiratkan rasa penasaran yang mendalam sekaligus kecemasan yang tertahan. "Paman Surya, semasa hidupnya, Ayah tidak pernah menceritakan siapa mitra bisnis pertamanya sebelum beliau mendirikan perusahaan percetakan itu sendirian. Tapi di buku harian ini, ada satu nama inisial dengan catatan kaki yang sangat tajam."
Paman Surya mengerutkan keningnya, menatap map dokumen tua yang disodorkan oleh Arkan. Alisnya yang tebal berkerut dalam, menampakkan garis-garis ketuaan di dahinya. "Catatan kaki? Dokumen dari masa awal pendirian? Nak Arkan, perusahaan itu dibangun dari keringat darah Hartono sendiri. Tidak banyak orang luar yang tahu bagaimana kerasnya perjuangan beliau di masa-masa awal krisis moneter pertama."
"Justru karena sedikit orang yang tahu, kesaksian Paman menjadi kunci satu-satunya," sahut Arkan dengan nada tenang dan penuh hormat. "Kami ingin Paman melihat halaman terakhir dari buku harian ini, tepat pada catatan tahun sembilan puluhan akhir, saat perusahaan pertama kali mendapatkan suntikan dana besar secara misterius."
Paman Surya mengulurkan tangan kanannya yang sedikit gemetar, mengambil buku catatan bersampul kulit hitam itu dari tangan Arkan. Ia membuka lembar demi lembar kertas yang sudah menguning dimakan usia, mengenali betul gaya tulisan tangan sahabat baiknya yang tegas dan rapi. Namun, ketika matanya menatap paragraf terakhir di halaman yang dimaksud, tangan pria tua itu mendadak terhenti di udara.
Wajah Paman Surya yang tadinya tenang seketika berubah pucat pasi. Napasnya tercekat di tenggorokan, dan cangkir teh di dekatnya hampir tersenggol oleh sikunya yang bergetar hebat.
"Tidak... ini tidak mungkin..." bisik Paman Surya lirih, matanya melotot menatap tulisan tangan tersebut seolah ia baru saja melihat hantu dari masa lalu.
❖ ❖ ❖
Chafia terperanjat melihat perubahan drastis pada ekspresi wajah Paman Surya. Ia segera berdiri dari kursinya dan mendekati pria sepuh itu dengan rasa cemas yang membuncah di dadanya. "Paman Surya! Ada apa? Apakah Paman mengenali nama yang tertulis di halaman itu?"
Paman Surya tidak langsung menjawab. Ia mengangkat kepalanya perlahan, menatap Chafia dan Arkan bergantian dengan pandangan mata yang menyiratkan ketakutan sekaligus kemarahan yang telah lama dipendam. Lembaran buku catatan di tangannya dipegang begitu erat hingga sudut-sudut kertasnya nyaris robek.
"Nama ini..." suara Paman Surya tercekat, terdengar sangat berat dan gemetar. "Nama ini adalah rahasia terbesar yang bersumpah tidak akan pernah diungkit oleh Hartono sampai akhir hayatnya. Dari mana kalian bisa mendapatkan catatan harian ini?"
"Kami menemukannya di brankas tersembunyi di ruang kerja almarhum Ayah saat melakukan audit ulang perusahaan, Paman," jawab Arkan dengan suara tenang namun tegas, menjaga agar situasi tetap terkendali. "Nama itu tertulis sebagai pihak pemberi pinjaman awal yang ternyata menyimpan klausul tersembunyi untuk merebut kepemilikan saham secara senyap. Dan orang yang bekerja sama dengan Handoko saat ini adalah keturunan langsung dari pemilik nama tersebut."
Paman Surya menutup buku catatan itu dengan sekali sentakan, lalu meletakkannya kembali di atas meja kaca seolah benda itu membawa kutukan masa lalu. Ia menyandarkan punggungnya di kursi, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri.
"Kalian sedang bermain-main dengan bara api yang belum padam, Nak," ucap Paman Surya dengan nada memperingatkan. "Nama yang kalian sebutkan di halaman itu... dia bukanlah pengusaha biasa. Dia adalah bayangan hitam di balik kejatuhan finansial banyak perusahaan percetakan besar di era reformasi dulu. Dan kematian ayahmu..., ah, apakah kalian benar-benar yakin beliau meninggal karena serangan jantung alami?"
Pertanyaan menohok itu meluncur begitu saja dari bibir Paman Surya, menghantam telinga Chafia bagaikan sambaran petir di siang bolong. Wanita itu tertegun, napasnya seolah berhenti berputar.
"Apa maksud Paman?!" teriak Chafia tertahan, air matanya seketika menggenang di pelupuk matanya. "Ayah meninggal karena kelelahan bekerja dan komplikasi tekanan darah tinggi! Dokter yang merawatnya sudah memberikan keterangan resmi!"