Luka Lama yang Belum Kering.
Malam di kawasan elite Menteng menyimpan keheningan yang pekat, kontras dengan gemerlap lampu kristal yang memantul di dinding ruang makan utama kediaman keluarga Wijaya. Di atas meja makan panjang berbahan kayu mahoni tua, hidangan malam yang mewah tersaji rapi, namun tidak seorang pun tampak menyentuhnya dengan nafsu makan yang layak. Aroma sup jamur bercampur wangi rempah mahal seolah menguap begitu saja di tengah ketegangan udara yang mencekam. Arkan duduk di kursi kepala meja, mengenakan kemeja gelap tanpa jas, sementara di seberangnya duduk sang ayah, Tuan Hartawan Wijaya—seorang patriark sepuh yang garis wajahnya menyimpan guratan keras bertahun-tahun kekuasaan bisnis korporat.
"Kamu pikir dengan menggandeng kurator seni itu dan menyelamatkan proyek pesantren kemarin, semua noda hitam masa lalu keluarga kita bisa langsung terhapus begitu saja, Arkan?" suara Tuan Hartawan memecah keheningan malam, terdengar berat dan serak karena usia, namun masih menyisakan wibawa yang menekan.
Arkan menarik napas dalam-dalam, menatap lurus ke arah mata ayahnya tanpa gentar. "Aku tidak sedang mencoba menghapus masa lalu, Ayah. Aku hanya sedang membersihkan sisa-sisa kehancuran yang ditinggalkan oleh keputusan-keputusan egois di masa lalu—keputusan yang hampir merenggut seluruh integritas perusahaan ini."
Hartawan mendengus pelan, menaruh garpu peraknya di atas piring dengan bunyi berdenting nyaring yang mengusik telinga. "Kau terlalu naif, Arkan! Dunia bisnis tidak dibangun atas dasar air mata penyesalan atau idealisme seni yang suci. Kakekmu mendirikan Wijaya Group di atas fondasi darah, keringat, dan pengorbanan yang tidak sedikit. Termasuk mengorbankan hubungan keluarga demi mempertahankan singgasana korporasi ini."
"Dan pengorbanan itu membuahkan luka lama yang sampai hari ini belum kering, Ayah!" balas Arkan dengan nada suara yang meninggi, urat-urat di lehernya menegang. "Termasuk tragedi yang menimpa paman dan kerabat kita yang disingkirkan secara tidak adil demi memuluskan ambisi monopoli kekuasaan keluarga kita puluhan tahun lalu."
Suasana di meja makan mendadak membeku. Nama-nama yang telah lama terkubur rapat di bawah karpet sejarah keluarga Wijaya mendadak mencuat ke permukaan, membuka kembali borok lama yang sengaja ditutup rapat-rapat oleh generasi terdahulu. Hartawan menatap putranya dengan kilatan mata penuh amarah bercampur rasa sakit yang teramat sangat.
"Jaga ucapanmu, Arkan! Kau tidak tahu apa-apa tentang alasan di balik keputusan berat yang harus kuambil saat itu!" bentak Hartawan, dadanya naik-turun menahan emosi yang meluap. "Kesalahan masa lalu adalah harga yang harus dibayar untuk membuat perusahaan ini tetap bertahan berdiri megah seperti sekarang!"
"Harga yang dibayar terlalu mahal, Ayah. Dan sekarang, ketakutan itu pula yang membuat Fauzan tumbuh menjadi monster tamak yang mencoba menghancurkan segalanya dari dalam," ucap Arkan tandas, berdiri dari kursinya tanpa menghabiskan makanannya. Ia menatap sang ayah untuk terakhir kalinya sebelum berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan yang megah namun penuh kepedihan itu.
❖ ❖ ❖
Chafia duduk di dalam mobil sedan pribadinya yang terparkir di seberang gerbang kediaman keluarga Wijaya. Ia sengaja menunggu Arkan setelah pria itu mengirim pesan singkat bernada pelan malam ini, meminta waktu untuk bertemu sebentar di luar rumah guna menenangkan pikiran dari ketegangan keluarga. Tak lama kemudian, pintu pagar besi besar terbuka, dan sosok Arkan muncul berjalan pelan dengan bahu yang tampak sedikit lebih berat dari biasanya.
Pria itu membuka pintu mobil sisi penumpang depan, lalu duduk di kursi sebelah pengemudi sambil menghela napas panjang, memejamkan matanya sejenak untuk meredakan penat di kepala. Chafia tidak langsung bertanya; ia meraih sebotol air mineral dari tasnya, membukanya, dan menyodorkannya dengan lembut kepada Arkan.
"Minumlah dulu, Arkan. Wajahmu pucat sekali," kata Chafia dengan suara penuh perhatian.
Arkan membuka matanya, menerima botol itu dan meneguk airnya perlahan. "Terima kasih, Chafia. Maafkan aku, malam ini seharusnya kita merencanakan detail pameran keliling, tapi malah kau harus menemaniku menghadapi kekacauan emosional keluargaku."
"Jangan bicara begitu," potong Chafia lembut, tangannya terulur menyentuh punggung tangan Arkan yang mencengkeram botol mineral. "Hubungan kita bukan hanya tentang galeri seni atau kontrak korporat. Aku ingin ada di sisimu saat badai keluargamu datang menghantam."
Arkan menoleh, menatap manik mata wanita di sampingnya dengan sorot mata yang dipenuhi rasa syukur yang mendalam. "Ayahnya... masih hidup dalam bayang-bayang masa lalu, Chafia. Sejarah kelam pendirian Wijaya Group puluhan tahun lalu bukan sekadar dongeng korporat; itu adalah perang saudara yang melibatkan pengkhianatan, pemecatan paksa, dan penyingkiran kerabat sendiri demi menguasai seluruh aset."
"Apakah itu sebabnya kamu begitu gigih membersihkan setiap celah hukum dan memastikan tidak ada lagi orang yang dizalimi di bawah kepemimpinanmu?" tanya Chafia pelan, mencoba memahami akar dari ketegasan moral yang selalu ditunjukkan Arkan selama ini.
"Ya," jawab Arkan tegas. "Aku tidak ingin mewarisi dosa-dosa masa lalu keluargamu—keluargaku. Aku ingin membangun perusahaan ini di atas fondasi kejujuran dan ketulusan, sama seperti nilai-nilai yang kita temukan di galeri dan pesantren Fikri."