Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #28

Dokumen Kuno

Dokumen Kuno di Brankas Almarhum Ayah Chafia---

Suara ketukan hujan rintik-rintik yang menimpa kaca jendela ruang kerja pribadi almarhum ayah Chafia di lantai paling atas rumah lama keluarga bergenting tua terdengar begitu ritmis. Ruangan itu telah lama dikunci rapat sejak kepergian sang ayah beberapa tahun silam, dibiarkan terkurung dalam debu tipis dan aroma kayu jati tua yang khas. Chafia berdiri di tengah ruangan sambil memegang sebuah kunci tembaga berukir rumit, sementara Aisha berdiri di sampingnya memegang senter LED kecil untuk membantu menerangi sudut-sudut ruangan yang gelap gulita.

"Kamu yakin brankas rahasia itu ada di balik dinding perpustakaan ini, Fia?" tanya Aisha pelan, memecah kesunyian malam yang melingkupi rumah masa kecil Chafia.

Chafia menghela napas panjang, menatap deretan lemari buku tinggi berisi jilid-jilid ensiklopedia dan kitab hukum tua peninggalan ayahnya. "Ayah pernah bercerita sewaktu aku kecil, Sha. Di balik rak buku arsip hukum perdata tahun sembilan puluhan, ada sebuah brankas dinding manual yang menyimpan dokumen paling krusial mengenai sejarah berdirinya PT Cipta Reksa Mandiri—sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar laporan keuangan atau akta pendirian."

Setelah badai gugatan waris mereda dan Chafia berhasil melunturkan egonya di atas sajadah panjang, ia menyadari bahwa babak akhir dari intrik korporat yang menghantui keluarganya tidak akan pernah benar-benar tuntas sebelum rahasia terbesar sang ayah terkuak sepenuhnya. Teror misterius yang sempat muncul kembali melalui panggilan video darurat beberapa waktu lalu menjadi bukti nyata bahwa sisa-sisa sindikat lama masih memburu sesuatu yang disembunyikan di dalam rumah ini.

"Mari kita bantu geser rak berat ini bersama-sama," ajak Chafia mantap, menyingkirkan keraguan di benaknya.

Dengan mengerahkan seluruh tenaga, kedua wanita itu mendorong rak buku kayu jati berukuran besar tersebut secara perlahan. Suara gesekan kayu tua dengan lantai marmer berderit nyaring mengusik keheningan malam. Begitu rak tersebut bergeser sekitar setengah meter ke samping, sebuah dinding beton tua dengan kotak besi hitam tertanam kokoh di baliknya tampak nyata di bawah sorotan lampu senter Aisha.

Kotak besi itu dilengkapi dengan dial kombinasi putar manual, bukan sistem digital modern. Di permukaan pintu brankas, terukir inisial nama sang ayah beserta sebuah kode tanggal lahir Chafia yang dikombinasikan dengan angka-angka filosofis hukum.

"Inilah tempatnya," bisik Chafia takjub, mendekatkan wajahnya ke permukaan brankas.

Aisha menyorotkan cahaya lampu ke arah dial putar tersebut. "Apakah kamu ingat kombinasi angkanya, Fia? Kesalahan memasukkan kombinasi tiga kali berturut-turut bisa memicu sistem penguncian permanen."

Chafia memejamkan matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk mengingat kembali kenangan masa kecil bersama ayahnya, petunjuk-petunjuk teka-teki angka yang sering diajarkan sang ayah saat ia belajar aritmetika dasar. Jemarinya yang lentik mulai memutar dial besi itu ke kiri dan ke kanan dengan hati-hati.

Suara klik mekanis yang halus berbunyi setiap kali roda angka bergeser. Di titik pemicu ini, ingatan masa lalu dan warisan moral sang ayah menjadi kunci utama untuk membuka tabir misteri yang selama ini terkubur rapat di balik dinding tua rumah keluarga.

❖ ❖ ❖

Klik. Bunyi mekanis terakhir berderit keras, menandakan mekanisme pengunci utama brankas telah terbuka. Chafia menarik gagang besi brankas ke depan dengan tangan sedikit bergetar. Pintu besi tebal itu berayun membuka perlahan, mengeluarkan embusan udara dingin beraroma kertas tua yang telah terkurung selama bertahun-tahun di dalam ruang hampa udara.

Aisha segera mendekatkan lampu senter ke dalam rongga brankas yang gelap. Di dalam kotak besi tersebut, tidak ada tumpukan uang tunai atau perhiasan mewah seperti perkiraan orang kebanyakan. Yang ada hanyalah sebuah kotak kayu mahoni berukir halus, beberapa amplop cokelat tebal berlak merah, dan sebuah buku catatan harian bersampul kulit hitam legam.

"Hanya dokumen dan catatan lama?" gumam Aisha penasaran, memperhatikan isi brankas dengan seksama.

Chafia mengulurkan tangannya, mengambil buku catatan harian bersampul kulit hitam tersebut terlebih dahulu. Ia membuka halaman pertamanya dengan hati-hati. Tulisan tangan sang ayah yang tegas dan rapi memenuhi setiap baris kertas menguning.

"Ini... jurnal harian ayah sejak hari pertama beliau merintis perusahaan," ucap Chafia lirih, matanya menyusuri tulisan tangan sang ayah yang menceritakan idealisme luhur pendirian PT Cipta Reksa Mandiri.

Namun, ketika Chafia membalik beberapa halaman ke bagian tengah buku catatan tersebut, ia menemukan sebuah amplop tebal yang diselipkan di antara lembaran kertas. Di sampul amplop itu tertulis sebuah kalimat dengan tinta hitam tegal: 'Untuk Chafia, jika suatu saat kebenaran ini harus terungkap.'

Chafia mengeluarkan isi amplop tersebut. Selembar dokumen tua bermaterai lama beserta transkrip rekaman suara analog berbentuk pita kaset kecil tergeletak di telapak tangannya. Dokumen itu adalah akta perjanjian rahasia awal pendirian perusahaan yang mencantumkan nama-nama mitra bisnis pendiri—termasuk nama Hardiman dan beberapa tokoh senior yang selama ini menjadi dalang di balik sindikat korup perusahaan.

"Ya Tuhan, Fia..." ucap Aisha pelan setelah membaca sekilas isi dokumen tersebut. "Ini bukan sekadar dokumen biasa. Ini adalah bukti hitam di atas putih mengenai konspirasi perampasan saham pendiri asli di masa lalu yang disembunyikan oleh Hardiman dan rekan-rekannya."

Chafia merasakan darahnya berdesir kencang. Selama ini ia mengira konflik di perusahaan murni karena ketamakan manajemen modern, namun dokumen kuno ini membuktikan bahwa akar kebusukan itu telah ditanam sejak hari pertama perusahaan didirikan melalui tipu muslihat hukum yang direkayasa oleh Hardiman untuk menyingkirkan kakek dan ayah Chafia.

"Ayah sengaja menyembunyikan dokumen ini agar keluaran hukum kita memiliki kekuatan mutlak untuk menyeret seluruh sisa jaringan sindikat itu ke penjara sekaligus memulihkan nama baik keluarga secara permanen," kata Chafia dengan suara bergetar menahan amarah dan kelegaan yang bercampur aduk.

Tiba-tiba, di tengah keheningan malam di dalam ruang kerja tua tersebut, suara derap langkah kaki berat terdengar dari lantai bawah rumah, disusul oleh suara dentuman pintu depan yang dibuka secara paksa dari luar.

❖ ❖ ❖

Chafia dan Aisha saling berpandangan seketika. Wajah Aisha mendadak pucat pasi, sementara Chafia langsung menutup pintu brankas dan memasukkan dokumen penting tersebut ke dalam tas ransel kecil yang ia bawa.

"Fia... suara apa itu?!" bisik Aisha ketakutan, mencengkeram lengan sahabatnya erat-erat. "Bukankah rumah ini kosong dan tidak berpenghuni sejak lama?"

Lihat selengkapnya