Peran Zahra, Adik Arkan yang Membawa Petunjuk Tambahan---
Matahari sore di kota Bandung menyinari halaman belakang sebuah rumah berarsitektur minimalis tropis dengan hangat, memantulkan bayangan dedaunan pohon mangga ke dinding kaca ruang keluarga. Di dalam ruangan berlantai kayu jati itu, Zahra—adik kandung Arkan yang berprofesi sebagai seorang peneliti forensik digital dan auditor independen—duduk bersila di atas karpet tebal sambil memangku laptop jinjing berwarna perak. Di hadapannya, secangkir teh chamomile mengepulkan uap tipis, menemani kesibukannya memeriksa serangkaian baris kode dan data log digital yang dikirimkan oleh sang kakak dari Jakarta.
Arkan dan Tari duduk di sofa panjang di seberang Zahra, memperhatikan setiap gerakan jemari lincah gadis berusia dua puluh delapan tahun itu di atas papan tik. Suasana di ruang keluarga itu terasa jauh lebih tenang dibandingkan ketegangan yang sempat melanda Jakarta beberapa hari lalu. Sejak insiden paket anonim berisi dokumen masa lalu Tari yang dikirimkan oleh komplotan Surya Darmawan dan Fauzan, Arkan memutuskan untuk membawa Tari sejenak menepi ke Bandung demi mencari ketenangan sekaligus menggali celah pertahanan hukum yang lebih kuat.
"Jadi, data log akses dan jalur pengiriman paket anonim itu benar-benar bisa dilacak, Zahra?" tanya Arkan pelan, memecah keheningan sore sambil merangkul pundak Tari yang duduk di sampingnya.
Zahra berhenti mengetik, lalu mendongakkan kepalanya menatap sang kakak dan iparnya dengan sorot mata serius namun menenangkan. Ia memutar layar laptopnya agar menghadap ke arah mereka berdua.
"Bukan hanya bisa dilacak, Kak," jawab Zahra dengan nada suara penuh keyakinan khas seorang ahli forensik digital. "Pengirim paket anonim itu ceroboh. Mereka mengira dengan menggunakan jasa kurir pihak ketiga dan menghapus beberapa direktori email, jejak mereka akan lenyap begitu saja. Tapi mereka lupa bahwa setiap transaksi digital, sekecil apapun itu, selalu meninggalkan digital footprint yang tidak bisa dihapus oleh manusia biasa."
Tari mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap layar laptop Zahra yang dipenuhi oleh diagram alur data dan alamat IP pelacak. "Apakah... apakah dari data itu terlihat siapa orang yang berada di balik pengiriman dokumen tersebut?" tanya Tari, suaranya sedikit bergetar mengingat kembali trauma masa lalu yang sempat dieksploitasi oleh musuh-musuh suaminya.
Zahra mengangguk perlahan, lalu mengeklik beberapa folder tambahan di layar. "Bukan hanya satu orang, Tari. Dari analisis log server dan riwayat pembayaran digital, paket itu dipesan menggunakan akun samaran yang dikendalikan dari sebuah alamat IP di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Dan jika kita telusuri aliran dana pembayarannya, jejaknya bermuara langsung pada rekening pribadi milik seorang konsultan keuangan bernama Fauzan—mantan tangan kanan Surya Darmawan."
Mendengar nama Fauzan disebut secara terang-terangan, Arkan mengepalkan tangannya di atas lutut. Rahangnya mengeras, dan kilat kemarahan terpancar jelas di bola matanya. "Fauzan... jadi benar dugaanku. Dia dan Surya Darmawan bekerja sama secara langsung untuk merancang teror psikologis ini."
"Bukan sekadar bekerja sama, Kak," sambung Zahra sambil menunjuk beberapa grafik tambahan di layar laptopnya. "Ada petunjuk tambahan yang jauh lebih penting di dalam file data forensik ini. Sesuatu yang bahkan mungkin tidak disadari oleh Surya maupun Fauzan ketika mereka menyusun rencana busuk tersebut."
❖ ❖ ❖
Arkan dan Tari saling berpandangan sejenak, lalu kembali memfokuskan perhatian mereka kepada Zahra.
"Petunjuk tambahan apa maksudmu, Zahra?" tanya Arkan, meminta penjelasan lebih rinci.
Zahra meneguk tehnya sebentar, lalu merapikan letak kacamatanya sebelum menjelaskan dengan gaya analitis yang tajam. "Ketika aku membedah metadata dari dokumen medis dan transkrip lama yang dikirimkan ke kantormu di Menara Sapphire, aku menemukan bahwa dokumen-dokumen itu bukan sekadar hasil cetak pindaian biasa. Dokumen tersebut diakses dan diekstrak langsung dari server arsip internal sebuah lembaga keuangan swasta tempat Fauzan pernah bekerja sebelum dipecat."
Tari mengerutkan keningnya, meresapi setiap kata yang diucapkan adik iparnya itu. "Lembaga keuangan tempat Fauzan bekerja dulu? Apakah itu berarti dokumen masa laluku disimpan di sana?"
"Tepat sekali, Tari," jawab Zahra mengangguk. "Tetapi masalahnya bukan hanya pada dokumen masa lalumu. Yang lebih menarik adalah, lembaga keuangan tersebut ternyata memiliki hubungan afiliasi tidak langsung dengan salah satu perusahaan cangkang milik Surya Darmawan. Artinya, Surya dan Fauzan tidak hanya berniat menjatuhkan kalian lewat teror emosional, tetapi mereka sedang berusaha menyembunyikan sebuah skandal keuangan jauh lebih besar yang melibatkan penggelapan aset perusahaan di masa lalu."
Arkan terdiam, mencerna setiap kepingan teka-teki yang mulai disatukan oleh adiknya. "Skandal penggelapan aset... jadi dokumen masa lalu Tari sengaja diangkat ke permukaan bukan hanya untuk menghancurkan rumah tangga kami, tetapi sebagai alat pengalih perhatian agar kita sibuk mengurus masalah internal dan melupakan audit keuangan mereka?"
"Bingo!" seru Zahra penuh semangat. "Kakak menangkap maksudku dengan cepat. Mereka sedang memainkan taktik pengalihan isu tingkat tinggi. Mereka tahu Kak Arkan sedang gencar melakukan audit forensik menyeluruh terhadap aliran dana mencurigakan di Menara Sapphire. Untuk menghentikan langkah Kakak, mereka mencoba memukul titik terlemah secara personal melalui Tari."
Tari menundukkan kepalanya, jemarinya saling meremas erat di atas pangkuannya. Rasa bersalah yang sempat mereda kini kembali bergolak di dalam dadanya. "Jadi... masa laluku benar-benar dijadikan senjata karena kesalahanku sendiri di masa lalu..."
Melihat raut wajah sedih di wajah istrinya, Arkan segera menggeser duduknya lebih dekat, merangkul pundak Tari dengan penuh kelembutan dan keyakinan. "Jangan pernah menyalahkan dirimu lagi, Tari," ucap Arkan tegas, menatap lurus ke dalam mata istrinya. "Masa lalu setiap manusia memiliki catatan hitamnya masing-masing. Yang terpenting adalah bagaimana kita menghadapi hari ini dan masa depan bersama-sama. Zahra ada di sini untuk membantu kita membongkar kebusukan mereka, bukan untuk menghakimimu."
Zahra tersenyum hangat melihat interaksi antara kakak dan iparnya. Ia menutup laptopnya sebentar, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan untuk menyampaikan bagian paling krusial dari penemuannya.
"Tenang saja, Tari. Aku tidak sedang mencari celah untuk menyalahkanmu," kata Zahra lembut. "Sebaliknya, dari data digital yang kutemukan ini, aku justru berhasil mendapatkan bukti transfer dana suap dan rekaman percakapan digital antara Fauzan dan beberapa oknum internal dewan komisaris yang diam-diam membocorkan informasi rahasia perusahaan kepada Surya Darmawan."
❖ ❖ ❖