Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #30

Diskusi di Bawah Temaram

Diskusi di Bawah Temaram Lampu Belajar---

Suara ketukan lembut tetesan air hujan yang perlahan-lahan mereda di luar jendela kaca apartemen lantai sepuluh menciptakan latar suara yang menenangkan di tengah malam yang sunyi. Di dalam ruang kerja pribadi yang hangat oleh pendar cahaya kekuningan dari sebuah lampu meja bergaya klasik, Chafia duduk bersila di atas karpet tebal berbulu halus. Di hadapannya, sebuah meja kayu rendah dipenuhi oleh lembar-lembar catatan keuangan bergaris, kalkulator kecil, dan beberapa cangkir teh chamomile yang mengepulkan uap tipis beraroma harum.

Arkan duduk di kursi kerjanya di seberang sudut ruangan, namun jarak di antara mereka malam ini terasa jauh lebih dekat dibandingkan hari-hari sebelumnya. Kemeja kerja putihnya sudah dilepas, menyisakan kaos longgar berwarna abu-abu gelap yang membuat pria itu tampak lebih santai, jauh dari kesan kaku seorang direktur keuangan yang ditakuti di kantor.

"Jadi, menurut analisa perbandingan data kuartal terakhir ini, pengeluaran divisi logistik kita benar-benar sudah kembali stabil," ucap Chafia sambil menyerahkan selembar kertas catatan kepada Arkan. Suaranya terdengar lembut namun penuh keyakinan. "Tidak ada lagi selisih angka yang mencurigakan seperti yang kamu temukan waktu itu."

Arkan menerima lembar catatan tersebut, jemari mereka sempat bersentuhan sejenak—sentuhan ringan yang tidak sengaja, namun cukup untuk membuat aliran kehangatan kecil merambat di antara keheningan malam itu. Arkan menatap tulisan tangan Chafia yang rapi dan terstruktur, lalu tersenyum tipis.

"Kamu benar, Chafia," jawab Arkan dengan nada suara rendah yang menenangkan. "Berkat bantuan dan keuletanmu menyisir ulang ribuan data transaksi itu selama sebulan terakhir, beban di pundakku terasa berkurang separuh. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan jika kamu tidak turun tangan membantuku merapikan semua kekacauan ini."

Chafia merona tipis, meskipun ia cepat-cepat menundukkan pandangannya ke arah cangkir teh di pangkuannya untuk menyembunyikan senyum di bibirnya. "Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kubantu, Arkan. Lagi pula, terjebak di ruangan ini membantuku melupakan sejenak beban kepalaku sendiri tentang urusan galeri seni yang hampir bangkrut kemarin."

"Galeri seni itu tidak akan pernah bangkrut selama kamu memiliki ketekunan dan visi seni yang luar biasa," puji Arkan tulus. Ia meletakkan kertas catatan itu di atas meja, lalu bangkit dari kursinya untuk duduk bersila di karpet, tepat di hadapan Chafia. Jarak di antara mereka kini hanya terpaut kurang dari satu meter.

Chafia mendongak, menatap mata Arkan yang bersinar hangat di bawah temaram lampu belajar. Ada kedalaman emosional yang selama ini tersembunyi di balik dinding pertahanan diri masing-masing, dan malam ini, di bawah lindungan hujan malam dan ruang yang tenang, dinding-dinding es itu perlahan mulai mencair tanpa disadari.

"Kamu tahu, Chafia?" bisik Arkan pelan, suaranya terdengar begitu jujur. "Sebelum kamu datang ke dalam hidupku dan membantu membereskan kekacauan kantor, aku mengira hidupku hanya akan dihabiskan di dalam kotak-kotak angka, kecurigaan, dan benteng kesendirian yang kubangun sendiri setelah pengkhianatan masa laluku."

"Setiap orang berhak memiliki tempat untuk bersandar, Arkan," balas Chafia lembut, menatap lurus ke dalam mata pria di depannya. "Kita semua pernah terluka oleh orang yang salah, tapi itu bukan berarti kita harus menutup pintu hati selamanya untuk ketulusan yang datang kemudian."'

❖ ❖ ❖

Suasana di ruangan itu mendadak menjadi begitu hening, menyisakan suara detik jarum jam dinding dan desau angin malam di luar jendela. Kata-kata Chafia barusan menggema di dalam kepala Arkan, menyentuh bagian paling rapuh dari hatinya yang selama bertahun-tahun ia kunci rapat-rapat dari dunia luar. Pria itu menatap Chafia lekat-lekat, merasakan gelombang emosi hangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya bersama siapa pun.

"Apakah kamu juga pernah merasa lelah berpura-pura kuat di hadapan semua orang, Chafia?" tanya Arkan perlahan, suaranya menyiratkan kerapuhan yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng profesionalismenya.

Chafia menghela napas pelan, senyum tipis yang sarat akan kenangan pahit terukir di sudut bibirnya. "Setiap hari, Arkan. Terutama saat aku harus mempertahankan galeri peninggalan almarhum ayahku seorang diri di tengah tekanan para pesaing bisnis yang ingin merebut tanahnya. Orang-orang melihatku sebagai wanita mandiri yang tidak pernah menangis, tapi mereka tidak tahu betapa sepinya malam-malam saat aku pulang ke rumah dan tidak ada seorang pun yang menanyakan kabarku."

Tanpa sadar, tangan Arkan terulur secara perlahan melintasi meja kecil di antara mereka, lalu menggenggam jemari Chafia yang sedang memegang cangkir teh. Sentuhan itu terasa begitu hangat, memberikan rasa aman yang seketika meredakan segala lelah di jiwa wanita itu. Chafia tidak menarik tangannya; ia membiarkan jemarinya berada di dalam genggaman Arkan, merasakan ketulusan yang terpancar dari telapak tangan pria tersebut.

"Mulai sekarang, kamu tidak perlu merasa sendirian lagi menghadapi semuanya," ucap Arkan penuh keyakinan, menatap mata Chafia dengan pandangan yang membuat jantung wanita itu berdegup kencang tidak beraturan. "Ada aku di sini. Apapun beban yang kamu pikul di galeri senimu, kita akan menghadapinya bersama-sama."

Chafia menatap mata Arkan yang begitu teduh. Ada kilatan ketulusan yang mutlak di sana—bukan sekadar rasa terima kasih atas bantuan pekerjaan, melainkan benih-benih perasaan yang tumbuh secara alami dari kedekatan jiwa yang terajut perlahan di balik tumpukan dokumen dan lembaran angka.

"Terima kasih, Arkan," bisik Chafia lirih, suaranya bergetar halus oleh keharuan yang menyesakkan dada. "Aku tidak menyangka di tempat seformal dan sekering dunia keuangan ini, aku justru menemukan seseorang yang benar-benar mengerti arti kerapuhanku."

Lihat selengkapnya