Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #31

Ujian Kesabaran

Ujian Kesabaran di Tengah Fitnah Kantor

Suara ketukan sepatu pantofel yang berderap cepat di atas lantai marmer putih koridor lantai empat puluh gedung utama PT Cipta Reksa Mandiri terdengar begitu mengusik ketenangan pagi. Di luar, langit ibu kota tampak mendung, menyelimuti gedung-gedung pencakar langit dengan kabut tipis berwarna kelabu. Di dalam ruang kerja CEO, Chafia berdiri gelisah di dekat jendela kaca besar, memandangi lalu-lalang kendaraan di bawah sana yang tampak seperti semut. Tangannya yang memegang cangkir teh hangat terasa sedikit bergetar, bukan karena dinginnya AC ruangan, melainkan karena bayangan laporan audit anonim yang baru saja mendarat di meja dewan komisaris pagi ini.

Pintu kaca bergeser terbuka tanpa ketukan. Aisha melangkah masuk dengan napas terengah-engah, wajahnya pucat pasi, membawa sebuah map tebal berwarna merah menyala yang langsung diletakkan di atas meja kerja Chafia.

"Fia... kita kecolongan besar," ucap Aisha dengan suara bergetar hebat, matanya menyiratkan kepanikan yang luar biasa. "Seseorang telah menyebarkan dokumen palsu ke seluruh divisi internal perusahaan dan forum investor publik. Mereka menuduh Arkan—selama ia membantu audit proyek kita—telah melakukan penyelewengan dana darurat senilai ratusan juta rupiah untuk kepentingan pribadi!"

Chafia terperanjat kaget, cangkir teh di tangannya nyaris terlepas dari genggamannya. Ia segera meletakkan cangkir itu ke atas piring kecil, lalu membuka map merah tersebut dengan tangan gemetar. Di dalam map itu terpampang lembaran rekening koran rekayasa yang mencantumkan nama Arkan sebagai penerima aliran dana gelap dari rekening proyek BSD yang sempat bermasalah beberapa waktu lalu.

"Ini tidak masuk akal, Sha!" seru Chafia dengan suara lantang penuh amarah dan ketidakpercayaan. "Arkan tidak pernah memegang atau mengelola dana operasional perusahaan secara langsung! Dia bahkan tidak punya kepentingan finansial apa pun di sini!"

"Tapi para pemegang saham lama dan sebagian dewan komisaris yang belum sepenuhnya bersih langsung termakan oleh fitnah ini, Fia," jawab Aisha dengan nada putus asa, meremas ujung blazernya. "Mereka menuntut agar Arkan segera dipanggil untuk diinterogasi secara terbuka, atau reputasi PT Cipta Reksa Mandiri akan kembali dihantam skandal moral besar-besaran."

Chafia mengepal kedua tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah yang membara bergemuruh di dalam dadanya. Ia tahu betul siapa dalang di balik fitnah keji ini; sisa-sisa sindikat korup yang tidak terima karena kekuasaan mereka telah dilucuti kini mencoba menyerang benteng moral terkuat yang dimiliki Chafia—yaitu Arkan, pria berpeci hitam yang selama ini menjadi penenang jiwanya.

"Di mana Arkan sekarang?" tanya Chafia dingin, tatapannya menyipit tajam penuh tekad mutlak.

"Dia baru saja tiba di lobi gedung, memenuhi undangan rapat darurat yang sengaja diprovokasi oleh para komisaris oposisi," jawab Aisha cepat.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Chafia menyambar blazer abu-abunya, melangkah cepat meninggalkan ruang kerja, dan bergegas menuju ruang rapat utama di lantai tiga puluh demi melindungi orang yang selama ini menyelamatkan hidupnya.

❖ ❖ ❖

Pukul 10.00 pagi. Suasana di ruang rapat utama PT Cipta Reksa Mandiri terasa sangat pekat oleh ketegangan. Di sekeliling meja rapat kaca panjang, belasan anggota dewan komisaris dan perwakilan investor duduk dengan ekspresi wajah sinis dan penuh prasangka. Di ujung meja, Arkan duduk tenang mengenakan baju koko putih bersih, sarung rapi, dan peci hitam yang membingkai wajahnya yang sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar ataupun takut.

Pintu ruang rapat terbuka lebar. Chafia melangkah masuk dengan langkah tegap, memancarkan aura otoritas mutlak seorang CEO yang siap melindungi orang yang tidak bersalah. Di belakangnya, Aisha mengekor dengan membawa salinan data verifikasi asli.

"Ada apa ini? Mengapa diadakan rapat darurat tanpa persetujuan saya selaku CEO definitif?" buka Chafia dengan suara dingin dan tegas, langsung berdiri di samping kursi Arkan.

Salah seorang komisaris senior, Hartono—yang dikenal sebagai sekutu lama kelompok Hardiman—berdiri dari kursinya sambil melemparkan map merah berisi dokumen palsu ke hadapan Chafia. "Kami mengadakan rapat ini demi menyelamatkan integritas perusahaan, Bu Chafia! Terlalu berbahaya membiarkan orang luar dari kalangan pesantren ikut campur dalam urusan keuangan strategis perusahaan, apalagi jika terbukti menjadi pencuri berdandan suci!"

Arkan tetap duduk dengan tenang. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap Hartono dengan sorot mata yang begitu teduh, tanpa ada secercah pun amarah atau kebencian di dalam air mukanya.

"Menuduh seseorang tanpa bukti otentik yang sah adalah cerminan dari hati yang dipenuhi ketakutan, Pak Hartono," ucap Arkan dengan suara baritonnya yang tenang dan berwibawa, membuat seluruh ruangan mendadak terdiam mendengarkan.

Hartono mendengus sinis, wajahnya memerah karena tersinggung. "Jangan bersilat lidah, Ustadz! Rekening koran ini jelas mencantumkan namamu sebagai penerima dana darurat proyek BSD! Dokumen perbankan tidak bisa berbohong!"

"Dokumen memang tidak bisa berbohong, tetapi manusia yang merekayasanya demi kepentingan busuk pasti akan ketahuan," balas Chafia tajam, menatap seluruh anggota dewan komisaris satu per satu. "Data yang kalian pegang adalah dokumen palsu yang dibuat menggunakan server proxy ilegal dari luar negeri. Aisha, tampilkan data verifikasi OJK di layar proyektor sekarang!"

Aisha segera menyambungkan laptopnya ke proyektor utama. Di layar besar, data audit forensik digital yang sah langsung terpampang nyata, membuktikan bahwa rekening tersebut adalah akun fiktif yang sengaja dibuat untuk menjebak Arkan.

Di titik jepit pertama ini, konspirasi fitnah kantor yang dirancang untuk menghancurkan Arkan mulai goyah di hadapan bukti kebenaran yang tak terbantahkan.

❖ ❖ ❖

Hartono dan beberapa komisaris oposisi terperanjat melihat data forensik digital yang ditampilkan di layar proyektor. Wajah mereka yang tadinya penuh kemenangan mendadak pucat pasi, menyadari bahwa jebakan yang mereka pasang telah berbalik arah menjadi bumerang yang mematikan.

Lihat selengkapnya