
Pembelaan Tak Terduga dari Chafia---
Udara sore di lantai puncak Menara Sapphire terasa begitu padat, menyisakan ketegangan yang belum sepenuhnya reda setelah serangkaian konflik internal yang melibatkan para pemegang saham lama dan faksi pimpinan Surya Darmawan. Di dalam ruang rapat utama berpanel kaca transparan dengan pemandangan langsung ke arah langit senja ibu kota, jajaran direksi inti berkumpul dalam agenda evaluasi darurat bulanan.
Arkan duduk di kursi utama dengan postur tegap, mengenakan jas formal berwarna arang tua. Di sebelah kanannya, Tari mendampingi dengan setelan blazer krem yang memancarkan ketenangan profesional, sementara di sisi kiri meja duduk beberapa komisaris independen baru yang menggantikan posisi Pak Hartono dan Pak Baskoro pasca pembersihan besar-besaran beberapa waktu lalu.
Meskipun faksi Surya telah berhasil dilumpuhkan melalui audit forensik digital dan somasi hukum yang telak, riak-riak ketidakpuasan di kalangan investor senior masih menyisakan bara kecil. Beberapa pemegang saham minoritas yang dulu menjadi sekutu dekat Surya tampaknya masih mencari celah untuk menggoyang stabilitas kepemimpinan Arkan, dengan mengangkat kembali isu-isu lama mengenai keabsahan struktur keluarga dan kebijakan strategis yang diambil oleh sang direktur utama.
"Kita tidak boleh mengabaikan kekhawatiran para investor portofolio luar, Pak Arkan," ucap salah seorang komisaris senior bernama Pak Pramana dengan nada suara datar namun penuh tekanan. Ia melipat kedua tangannya di atas meja marmer, menatap tajam ke arah Arkan. "Meskipun badai hukum kemarin berhasil diredam, citra Menara Sapphire sempat tercoreng oleh isu-isu personal yang melibatkan masa lalu dan dinamika internal keluarga Anda. Pasar membutuhkan kepastian bahwa perusahaan ini dikelola secara murni profesional, bukan berdasarkan kompromi emosional atau ikatan personal."
Arkan menatap Pak Pramana dengan sorot mata tenang, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa tersinggung. Ia tahu betul bahwa beberapa investor lama masih merasa kehilangan pengaruh dan mencari alasan untuk mendiskreditkan posisinya.
"Pasar selalu merespons transparansi dan kinerja, Pak Pramana," jawab Arkan tenang, suaranya bariton dan terukur. "Dan laporan keuangan kuartal terakhir membuktikan bahwa di bawah manajemen saat ini, pertumbuhan aset perusahaan meningkat sebesar delapan belas persen. Tidak ada kompromi emosional dalam keputusan korporat yang saya ambil; semuanya berpijak pada audit objektif dan kepentingan pemegang saham secara keseluruhan."
"Angka di atas kertas bisa direkayasa atau ditopang secara artifisial, Arkan!" sergah suara lain yang bernada tajam dari ujung meja rapat.
Semua mata di dalam ruangan langsung menoleh ke arah sumber suara. Chafia—mantan direktur pengembangan bisnis yang sempat tersingkir akibat perseteruan lama, namun kini kembali hadir sebagai perwakilan pemegang saham mayoritas keluarga besar—berdiri dari kursinya dengan tatapan dingin. Ia mengenakan gaun formal hitam elegan dengan rambut tersanggul rapi, memancarkan aura dominasi yang kuat.
Atmosfer di dalam ruang rapat seketika membeku. Kehadiran Chafia selalu membawa ketegangan tersendiri, mengingat sejarah panjang persaingan keluarganya dengan faksi Hendrawan dan posisi Arkan di pucuk pimpinan.
"Jangan coba-coba menutup-nutupi masalah struktural dengan pameran angka pertumbuhan jangka pendek," lanjut Chafia dengan suara tajam, melangkah perlahan mendekati meja rapat utama. "Yang dipertanyakan oleh para investor bukan sekadar laporan laba rugi, melainkan integritas moral dari kepemimpinan puncak yang terus-menerus diselimuti oleh drama keluarga dan masa lalu yang abu-abu."
Tari yang duduk di samping Arkan merasakan dadanya sedikit berdegup kencang mendengar serangan langsung dari Chafia. Ia tahu betul bahwa Chafia menyimpan dendam kesumat dari masa lalu, dan kini wanita itu memanfaatkan momentum rapat evaluasi untuk menghancurkan kredibilitas suaminya di hadapan seluruh dewan komisaris.
❖ ❖ ❖
Arkan tidak bergeming dari tempat duduknya. Ia membiarkan Chafia menyelesaikan kalimat provokatifnya tanpa memotong sedikit pun, menjaga agar wibawanya sebagai direktur utama tetap terjaga di tengah tekanan psikologis yang sengaja diciptakan.
"Silakan lanjutkan argumen Anda, Chafia," ucap Arkan tenang, menatap sepupu jauhnya itu dengan sorot mata lurus tanpa gentar. "Jika Anda memiliki bukti konkret bahwa kebijakan manajerial saya melanggar anggaran dasar perusahaan, silakan gelar di atas meja ini sekarang juga."
Chafia tersenyum sinis, menikmati detik-detik ketika ia merasa berhasil memojokkan Arkan di ruang rapat utama. Ia merapikan selembar dokumen di tangannya, lalu melemparkannya pelan ke atas meja marmer di hadapan para komisaris.
"Bukti pelanggaran manajerial tidak selalu berbentuk penggelapan uang, Arkan," kata Chafia tajam, menatap seluruh anggota dewan komisaris satu per satu. "Tetapi penempatan orang-orang yang memiliki konflik kepentingan langsung di posisi strategis perusahaan adalah bentuk pelanggaran etika paling fatal. Penunjukan Tari sebagai kepala divisi strategi bisnis, misalnya—seorang wanita dengan latar belakang masa lalu yang penuh kontroversi dan ikatan pernikahan siri yang meragukan—adalah bukti nyata bahwa Menara Sapphire dikelola bukan demi kepentingan korporat, melainkan demi kepentingan ego personal keluarga!"
Mendengar namanya disebut secara langsung dan diserang di muka publik korporat, wajah Tari mendadak memucat. Ia menundukkan pandangannya sejenak, merasakan sengatan rasa malu dan tekanan batin yang luar biasa menghujam dadanya.
Arkan langsung bereaksi. Rahangnya mengeras, dan kilat kemarahan yang dingin terpancar jelas di bola matanya. Sebelum ia sempat membuka mulut untuk membela istrinya secara tegas, sebuah suara lain tiba-tiba memecah keheningan ruangan dengan nada yang jauh lebih tajam dan sama sekali tidak disangka-sangka oleh siapapun yang hadir di sana.
"Cukup, Chafia!" bentak sebuah suara tegas dari barisan kursi tamu kehormatan.
Semua orang terperanjat kaget dan langsung menoleh ke arah sumber suara. Di sudut ruangan, seorang wanita paruh baya berbusana formal rapi—bibi senior dari garis keluarga besar pendiri yang selama ini memilih bersikap netral dalam setiap konflik internal—berdiri perlahan dari kursinya.
Namun, bukan hanya wanita tua itu yang membuat ruangan terhening. Chafia sendiri, yang berdiri di dekat meja rapat, mendadak membeku dengan mata membelalak lebar, menatap sosok yang baru saja melangkah masuk melalui pintu samping ruang rapat.