Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #34

Jejak Digital

Jejak Digital yang Dihapus Sengaja---

Suara dengung kipas pendingin server dari ruang pengendali data lantai sembilan belas terdengar menderu konstan, memecah keheningan malam yang gulita. Ruangan berukuran sedang itu dipenuhi oleh rak-rak peladen logam tinggi berkedip lampu hijau dan biru, memancarkan cahaya artifisial yang menyoroti wajah Arkan dengan pendar pucat. Di hadapan sebuah monitor layar lebar melengkung, Arkan berdiri tegak sambil melipat kedua tangannya di dada, tatapannya terpaku tajam pada barisan kode log aktivitas sistem yang bergerak cepat ke atas layar.

"Bagaimana hasilnya, Arkan? Apakah proses restorasi cadangan data keuangan kuartal lalu sudah mencapai sektor penyimpanan utama?" suara Chafia terdengar lembut dari balik pintu kaca ruang server. Wanita itu melangkah masuk mengenakan mantel rajut tipis berwarna krem, membawa dua cangkir kertas berisi cokelat panas yang mengepulkan uap tipis di udara dingin ruangan tersebut.

Arkan mengalihkan pandangannya sejenak, menyambut uluran cangkir cokelat panas dari Chafia dengan senyuman tipis yang menyiratkan kelelahan mendalam. "Terima kasih, Chafia. Kamu seharusnya sudah kembali ke apartemen dan beristirahat. Waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi."

"Bagaimana aku bisa tidur tenang di sebelah unit apartemenmu sementara kamu di sini bergulat dengan server kantor seorang diri?" balas Chafia ringan, berdiri di samping Arkan dan ikut memperhatikan barisan teks digital di layar monitor. "Lagi pula, aku penasaran dengan kejanggalan yang kamu temukan sore tadi. Apa benar ada upaya penyusupan data lagi setelah audit eksternal selesai?"

Arkan mendesah pelan, meneguk sedikit cokelat panasnya sebelum kembali menunjuk deretan baris kode berwarna merah di layar. "Bukan sekadar upaya penyusupan biasa, Chafia. Seseorang telah sengaja masuk menggunakan kredensial tingkat administrator super dan menghapus ribuan file log transaksi dari database pusat secara permanen."

Chafia terkesiap kecil, alisnya berkerut tajam. "Dihapus secara permanen? Bukankah sistem kita memiliki peladen cadangan otomatis yang terenkripsi di luar lokasi?"

"Itulah masalah utamanya," jawab Arkan dengan nada suara dingin dan penuh ketegasan. "Peladen cadangan itu tidak hanya dibobol; ia telah disabotase dari dalam menggunakan kata sandi tingkat tinggi yang hanya dimiliki oleh sedikit orang di jajaran direksi lama yang kini sudah diskors, atau... seseorang yang masih memiliki akses rahasia ke dalam sistem inti perusahaan kita."

Suasana di dalam ruang server mendadak terasa jauh lebih dingin. Chafia menatap wajah Arkan yang tampak serius. Garis-garis ketegangan di pelipis pria itu menunjukkan bahwa ancaman yang mereka hadapi kali ini jauh lebih berbahaya daripada sekadar penggelapan dana konvensional. Ini adalah upaya sistematis untuk menghilangkan seluruh bukti hukum yang bisa menjerat para dalang utama di balik kebusukan korporasi tersebut.

"Kalau jejak digital itu benar-benar lenyap tanpa sisa, apa langkah yang bisa kita ambil selanjutnya untuk membuktikan manipulasi mereka di hadapan dewan komisaris?" tanya Chafia cemas, menatap lurus ke mata Arkan.

"Jejak digital yang dihapus secara sengaja pasti menyisakan anomali pada log aktivitas perangkat keras lokal," terang Arkan sambil kembali mengetik cepat di papan ketik komputer. "Seseorang bisa menghapus file di dalam database, tapi mereka tidak akan pernah bisa menghapus rekam jejak fisik dari aliran listrik dan cache memori sementara pada komputer terminal tempat perintah penghapusan itu dieksekusi."

❖ ❖ ❖

Pencarian terhadap anomali perangkat keras lokal itu membawa Arkan dan Chafia menelusuri lorong-lorong gelap lantai sepuluh gedung utama keesokan harinya. Suasana kantor pada pukul tujuh pagi masih sepi, hanya menyisakan beberapa petugas kebersihan yang baru menyelesaikan tugas mereka. Langkah kaki Arkan terhenti di depan sebuah ruangan tertutup bertuliskan Terminal Akses Cadangan IT - Terbatas.

"Kunci akses ruangan ini seharusnya hanya dipegang oleh kepala divisi teknologi informasi yang baru saja mengundurkan diri minggu lalu," jelas Arkan sambil mengeluarkan sebuah kartu akses khusus dari saku jasnya untuk memindai panel pengunci pintu.

Bip. Lampu indikator di panel pengunci berubah dari merah menjadi hijau terang, dan pintu logam tebal itu terbuka perlahan dengan bunyi mendesis pelan.

Chafia melangkah masuk ke dalam ruangan yang berukuran lebih kecil dari ruang server utama. Bau debu tipis dan aroma ozon elektronik langsung menyambut indra penciuman mereka. Di tengah ruangan, sebuah komputer stasioner berlayar datar tampak menyala dalam mode siaga, dengan kipas CPU yang masih berputar pelan.

"Komputer ini..." bisik Chafia sambil mendekati meja kerja di sudut ruangan. "Mengapa layarnya berada dalam mode aktif padahal ruangan ini dikunci rapat sejak kemarin sore?"

Arkan segera mendekati komputer tersebut, memeriksa kabel daya dan port USB di bagian belakang CPU. Matanya langsung menyipit tajam saat mendapati sebuah port USB masih terhubung dengan kabel data kecil yang mengarah ke perangkat luar tersembunyi di balik meja.

"Seseorang menggunakan terminal ini semalam untuk melakukan perintah penghapusan jarak jauh," kata Arkan dengan nada suara tertahan penuh amarah. "Mereka sengaja masuk ke ruangan terpencil ini agar aktivitas mereka tidak terekam oleh kamera pengawas utama di koridor lantai utama."

Chafia memperhatikan sekeliling ruangan, lalu menunjuk ke arah sudut langit-langit di mana sebuah kamera CCTV kecil terpasang menghadap ke arah pintu masuk. "Tapi bukankah ada kamera pengawas di sini, Arkan? Rekamannya pasti merekam siapa pun yang masuk ke ruangan ini semalam."

"Kamera itu tersambung ke jaringan lokal yang sama yang baru saja disabotase," jawab Arkan sambil memeriksa panel kendali CCTV di layar komputer. "File rekaman dari jam sepuluh malam hingga pukul tiga pagi tadi dipastikan sudah dihapus bersih dari server penyimpanan visual."

"Lalu bagaimana kita bisa menemukan pelakunya kalau semua bukti visual dan file digitalnya sudah dibersihkan?" tanya Chafia dengan nada cemas yang mulai terselip di suaranya.

Arkan tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh keyakinan di tengah situasi yang tampak jalan buntu. "Pelaku yang cerdas selalu mengandalkan teknologi untuk menghapus jejak, Chafia. Tapi mereka lupa bahwa setiap aktivitas penulisan ulang data dalam skala besar pada memori cache lokal akan meninggalkan file sementara berukuran besar yang tidak bisa dibersihkan hanya dengan tombol delete biasa."

Arkan segera memasukkan serangkaian perintah pemulihan tingkat lanjut melalui baris kode terminal sistem, memindai sektor penyimpanan fisik paling dasar dari komputer tersebut untuk mencari sisa-sisa file cache yang tersembunyi.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya