Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #36

Mengurai Benang

Mengurai Benang Kusut Konspirasi 10 Tahun Lalu

Malam yang basah oleh sisa hujan meninggalkan genangan air di pelataran parkir bawah tanah gedung arsip pusat kota. Udara terasa dingin dan berbau lembap, membawa serta keheningan yang mencekam di antara jajaran rak besi tinggi tempat menyimpan dokumen-dokumen lama negara dan perusahaan swasta besar. Di bawah sorot lampu neon putih yang berpendar redup, Arkan berdiri di depan meja baca kayu dengan map arsip tebal bersampul kulit hitam di tangannya. Di sebelah kanannya, Chafia berdiri sambil memegang senter kecil, membantu menerangi halaman-halaman kertas yang sudah mulai menguning dimakan usia.

"Apakah kamu yakin dokumen penyelidikan sepuluh tahun lalu mengenai kebangkrutan cabang perusahaan kakekku tersimpan di sektor ini, Arkan?" tanya Chafia dengan suara berbisik, seolah takut suaranya memecah keheningan koridor arsip yang panjang.

Arkan mengangguk pelan, jemarinya yang mengenakan sarung tangan kain putih membuka lembar demi lembar kertas dengan hati-hati. "Aku yakin, Chafia. Berdasarkan petunjuk yang diberikan oleh Paman Basri setelah perjanjian damai keluarga kemarin, ada satu bundel investigasi independen yang sengaja disembunyikan oleh direksi lama untuk menutupi rekayasa audit keuangan yang menjatuhkan keluarga kita."

Chafia mengarahkan cahaya senter lebih dekat ke sudut halaman, memperlihatkan cap rahasia berwarna merah yang mulai pudar. "Kalau dokumen ini asli, berarti konspirasi yang merusak reputasi dan menyeret nama keluargamu ke jurang kehancuran sepuluh tahun lalu bukanlah kecelakaan bisnis biasa, melainkan skenario terencana."

"Tepat sekali," jawab Arkan dengan nada datar namun menyiratkan ketegangan yang mendalam di dadanya. "Seseorang di dalam dewan direksi sengaja memalsukan tanda tangan ayahku dan merekayasa bukti pailit agar seluruh aset strategis dapat diambil alih oleh sindikat luar. Dan orang yang memegang kendali di balik layar saat itu adalah mentor dari Fauzan sendiri—Direktur Utama lama yang kini sudah pensiun."

Chafia menelan ludah dengan susah payah, merasakan bulu kuduknya meremang. "Itu artinya, apa yang dilakukan Fauzan selama ini bukan sekadar ambisi pribadi, melainkan kelanjutan dari konspirasi busuk satu dekade silam."

Arkan berhenti pada satu halaman penuh catatan tangan dengan tinta hitam tebal. Matanya menyipit membaca nama-nama pejabat tinggi dan auditor independen yang terlibat dalam rekayasa tersebut. "Kita sudah menemukan ujung benang kusutnya, Chafia. Sekarang saatnya kita menarik benang itu hingga seluruh kebusukan terbongkar ke permukaan."

Tiba-tiba, suara langkah kaki berat berderap di ujung lorong koridor arsip yang gelap, memecah kesunyian malam dan membuat keduanya sontak menoleh dengan napas tertahan.

❖ ❖ ❖

Suara langkah kaki itu semakin mendekat, bergemerincing pelan di atas lantai semen koridor yang basah. Chafia merapat ke sisi Arkan, mencengkeram lengan kemeja pria itu dengan erat sementara senter di tangan kirinya bergetar kecil menyorot ke arah kegelapan lorong di depan mereka.

"Siapa di sana?" panggil Arkan dengan suara baritonnya yang tegas dan menggema di antara jajaran rak arsip. "Area ini ditutup untuk umum. Keluar atau saya panggil petugas keamanan gedung!"

Dari balik bayangan pilar beton, sesosok pria paruh baya bertubuh agak bungkuk muncul perlahan dengan mantel panjang berwarna gelap. Wajahnya setengah tersembunyi di balik kerah mantel yang ditegakkan, namun sorot matanya tampak tajam dan penuh peringatan saat menatap Arkan dan Chafia.

"Jangan buang tenaga meneriakkan keamanan, Arkan," suara parau dan tenang keluar dari bibir pria paruh baya tersebut. "Petugas keamanan di bawah sudah saya urus. Dan kalian tidak akan pernah bisa keluar dari gedung ini membawa bundel dokumen itu."

Chafia terkesiap kecil. "Tuan... Tuan Edward? Mantan wakil direktur utama yang pensiun sepuluh tahun lalu?"

Pria itu tersenyum tipis—senyuman sinis yang mengerikan di tengah temaram lampu koridor. Ia melangkah mendekat tanpa rasa takut sedikit pun. "Ternyata ingatan keluarga Wijaya masih cukup tajam. Wah, kurator seni muda yang cerdas dan CEO muda yang keras kepala. Kombinasi yang sangat berbahaya bagi rahasia yang sudah kami kubur rapat-rapat selama satu dekade."

Arkan melangkah maju melindungi Chafia di belakang tubuhnya, rahangnya mengeras menatap tajam pria tua di hadapannya. "Jadi Andalah dalang utama di balik pemalsuan dokumen kebangkrutan yang menghancurkan keluarga besar kami sepuluh tahun lalu, Edward?"

Edward berhenti berjarak tiga meter dari mereka, merogoh saku mantelnya dengan gerakan lambat. "Bukan hanya menghancurkan keluargamu, Arkan. Kami membangun imperium di atas reruntuhan itu. Dan aku tidak akan membiarkan anak muda sepertimu merusak kerja keras sepuluh tahun hanya karena dokumen sampah di tanganmu."

"Dokumen sampah ini adalah bukti kriminal yang akan menjebloskanmu dan seluruh sindikatmu ke penjara!" balas Arkan dengan suara berat yang penuh penekanan.

Edward mendengus sinis, lalu mengangkat tangan kanannya yang memegang sebuah pengendali jarak jauh kecil. "Silakan bawa dokumen itu ke pengadilan, jika kalian bisa keluar dari ruang arsip ini dalam keadaan hidup setelah sistem pemadam otomatis berbasis gas kimia beracun diaktifkan."

Chafia membelalakkan matanya ngeri mendengar ancaman tersebut. Konspirasi sepuluh tahun lalu ternyata masih melibatkan pembunuhan berencana dan teror tanpa ampun.

Lihat selengkapnya