Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #38

Rencana Penyelidikan

Rencana Penyelidikan Terakhir yang Berbahaya---

Suara deburan ombak kecil yang menghantam lambung dermaga kayu terdengar samar di kejauhan, teredam oleh deru angin malam yang dingin di kawasan pelabuhan tua pinggiran kota. Di dalam sebuah mobil sedan hitam yang terparkir di balik bayangan kontainer kargo raksasa, Arkan duduk di kursi pengemudi dengan mesin yang dimatikan. Lampu dashboard menyala remang-remang, memantulkan bayangan wajahnya yang tampak tegang namun penuh determinasi. Di kursi sebelah, Chafia memandangi layar laptop kecil yang menampilkan peta digital satelit dari sebuah gudang tua bernomor 42 di ujung dermaga.

"Arkan, apa kamu benar-benar yakin kita harus melangkah nekat seperti ini?" tanya Chafia dengan nada suara bergetar pelan, menoleh ke arah pria di sampingnya dengan tatapan penuh kecemasan. "Dokumen dari kejaksaan kemarin sudah cukup kuat untuk menjerat sisa-sisa sindikat itu secara hukum. Mengapa kita harus mempertaruhkan keselamatan diri mendatangi sarang mereka malam-malam begini?"

Arkan mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ke arah Chafia, lalu menyunggingkan senyum tipis untuk menenangkan wanita itu. Jemarinya terulur menggenggam tangan Chafia yang terasa dingin. "Dokumen itu memang cukup untuk menjerat para eksekutif korup di meja hijau, Chafia. Tapi bukti fisik utama berupa hard disk server rahasia yang berisi aliran dana suksesi lintas negara masih disembunyikan di gudang pelabuhan itu. Jika kita tidak mengamankannya malam ini, mereka akan menghancurkannya sebelum matahari terbit."

"Tapi tempat itu berada di bawah kendali langsung jaringan pengaman bayaran mereka," sanggah Chafia dengan suara tertahan. "Risikonya terlalu tinggi kalau kita tertangkap basah."

"Justru karena risikonya tinggi, tidak ada seorang pun dari pihak berwenang yang menduga kita akan bergerak mendahului mereka malam ini," balas Arkan tenang namun tegas. Ia merapikan jaket hitamnya, lalu memeriksa ulang pistol kejut listrik dan senter taktis yang terselip di sabuk pinggangnya. "Kamu cukup tetap berada di dalam mobil ini, pantau sinyal jaringan komunikasi darurat, dan hubungi tim kepolisian pusat jika dalam waktu satu jam aku tidak kunjung keluar dari gudang itu."

Chafia menggeleng pelan, sorot matanya menyiratkan keteguhan hati yang tidak kalah kuat dari Arkan. "Aku tidak akan tinggal diam di dalam mobil sementara kamu mempertaruhkan nyawamu di dalam sana sendirian, Arkan. Kita masuk bersama-sama sampai pintu samping gudang itu, atau aku ikut keluar mendampingimu."

Arkan menatap lurus ke dalam mata Chafia. Ia tahu betul bahwa melarang wanita itu hanya akan membuang-buang waktu yang sangat berharga. Dengan helaan napas pasrah bercampur rasa bangga yang mendalam, ia mengangguk pelan. "Baiklah. Tapi tetaplah berada di belakangku, dan jangan pernah lepaskan alat komunikasi di tanganmu."

Keduanya membuka pintu mobil secara bersamaan, melangkah keluar ke dalam gelapnya malam pelabuhan yang hanya diterangi oleh lampu sorot tinggi di kejauhan.

❖ ❖ ❖

Langkah kaki Arkan dan Chafia bergerak tanpa suara di atas permukaan tanah berkerikil basah, memanfaatkan tumpukan peti kemas setinggi tiga lantai sebagai tempat persembunyian alami dari sorotan lampu keamanan gudang bernomor 42. Udara malam berbau amis air laut dan karat besi menusuk hidung, berpadu dengan ketegangan yang kian mencengkeram dada setiap kali suara langkah sepatu bot penjaga keamanan terdengar berpatroli di dekat pagar kawat berduri.

"Di sebelah sana ada pintu samping yang terhubung langsung dengan tangga darurat menuju ruang kendali bawah tanah," bisik Arkan pelan sambil menunjuk ke arah sudut bangunan gudang yang remang-remang.

Chafia mengangguk mengerti, mengikuti setiap langkah Arkan dengan sangat hati-hati. Begitu jalur terlihat aman dari jangkauan pandangan penjaga, keduanya berlari cepat menyeberang dan merapat ke dinding beton gudang yang dingin. Arkan mengeluarkan seperangkat alat kunci pembuka darurat dari saku jaketnya, lalu mulai memasukkan kawat baja kecil ke dalam lubang kunci pintu samping besi tua itu.

"Cepatlah, Arkan," bisik Chafia cemas sambil mengawasi keadaan di sekitar sudut lorong. "Aku dengar suara anjing pelacak menggonggong di sisi dermaga sebelah barat."

"Konsentrasiku sedang di sini, Chafia. Sedikit lagi..." gumam Arkan dengan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

Krik... klik.

Bunyi mekanisme pengunci baja di dalam pintu bergeser terbuka. Arkan langsung mendorong daun pintu besi itu perlahan-lahan ke dalam, menciptakan celah cukup lebar bagi mereka berdua untuk menyelinap masuk ke dalam interior gudang yang gelap gulita. Bau debu tebal dan aroma oli mesin tua langsung menyambut indra penciuman mereka begitu pintu kembali tertutup rapat di belakang mereka.

Di dalam kegelapan gudang yang luas itu, hanya pendar lampu indikator kecil dari tumpukan rak server di lantai bawah yang menjadi satu-satunya sumber cahaya. Arkan menyalakan senter taktis dengan mode cahaya merah redup, memimpin jalan menuruni tangga besi menuju ruang bawah tanah tempat server rahasia itu disembunyikan.

"Apakah kamu yakin hard disk itu berada di ruangan bawah tanah ini?" tanya Chafia berbisik sangat pelan di belakang Arkan, langkah kaki mereka berderit pelan menapaki anak tangga besi.

"Berdasarkan analisis dekripsi data transaksi yang kudapat dari komputer Pak Darma minggu lalu, ruang bawah tanah ini adalah pusat kendali cadangan mereka yang tidak tercatat dalam dokumen arsitektur resmi pelabuhan," jawab Arkan tanpa menghentikan langkahnya.

❖ ❖ ❖

Sesampainya di lantai dasar bawah tanah, suasana terasa jauh lebih dingin dan sunyi. Barisan rak server menderu pelan mengeluarkan suara dengung kipas pendingin yang konstan. Arkan mengarahkan cahaya senter merahnya ke arah sebuah meja konsol utama yang terletak di tengah ruangan. Di atas meja tersebut, sebuah perangkat hard disk eksternal berkapasitas besar tampak terhubung dengan kabel data ke server utama.

Lihat selengkapnya