Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #39

Malam Penuh Doa

Malam Penuh Doa di Masjid Perusahaan---

Langit malam di atas kawasan pusat bisnis Jakarta memancarkan cahaya bintang yang terhalang oleh polusi cahaya kota, namun di pelataran lantai sembilan gedung Artha Cipta Media, suasana terasa begitu syahdu dan menenteramkan. Di masjid mini perusahaan yang dibangun atas inisiatif mendiang ayah Chafia beberapa tahun silam, lampu gantung bernuansa keemasan memancarkan pendar hangat yang menyinari dinding berlapis kaligrafi ukir kayu jati.

Aryo duduk bersila di atas permadani merah marun bertekstur lembut, mengenakan kemeja koko putih polos dan peci hitam. Di hadapannya, Al-Qur'an berukuran sedang terbuka dengan posisi pembatas halaman terselip rapi. Suasana di dalam masjid begitu senyap, hanya menyisakan deru halus pendingin ruangan dan suara hembusan angin malam yang menembus ventilasi kaca patri di sisi utara.

Pintu utama masjid bergeser pelan, menampilkan sosok Chafia yang melangkah masuk dengan balutan gamis panjang berwarna hijau lumut dan kerudung pashmina senada yang menjuntai anggun. Di tangannya, wanita itu membawa termos kecil berisi air hangat dan dua cangkir porselen putih.

"Masih belum mau beranjak ke ruang kerja, Mas?" suara lembut Chafia memecah keheningan, terdengar begitu merdu di dalam ruang ibadah yang luas tersebut.

Aryo mendongak, menutup Al-Qur'an di hadapannya dengan penuh kehati-hatian, lalu mengangkat pandangannya menyambut senyuman sang istri. "Belum, Chafia. Rasanya berada di sini jauh lebih menenangkan daripada duduk di kursi direksi setelah semua badai hukum yang kita menangkan pekan lalu."

Chafia melangkah mendekat, lalu meletakkan termos dan cangkir di atas meja kecil berlapis kain renda di dekat mimbar. Ia duduk bersila di sebelah suaminya, merapikan lipatan gamisnya. "Aku sangat mengerti perasaanmu. Setelah berbulan-bulan kita berjuang mati-matian melawan fitnah, kebohongan, dan ancaman kebangkrutan, malam ini adalah momen pertama di mana kita bisa bernapas tanpa beban di pundak."

"Bukan sekadar bernapas, Chafia," koreksi Aryo dengan nada hangat sambil menatap lekat-lekat mata istrinya. "Ini adalah bentuk rasa syukur yang paling dalam kepada Sang Pencipta. Tanpa pertolongan-Nya, perusahaan ayahmu mungkin sudah rata dengan tanah sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di gedung ini."

Chafia mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca mengingat kembali perjalanan panjang dan melelahkan yang telah mereka lalui bersama. "Ayah pasti bangga melihat bagaimana kamu memimpin perusahaan ini melewati krisis terburuk dalam sejarah keluarga kita, Mas. Kamu tidak pernah menyerah, bahkan saat semua pintu seolah tertutup rapat."

"Kita melewatinya bersama, Chafia," ralat Aryo lembut, meraih tangan kanan istrinya lalu menggenggamnya erat-erat. "Aku hanya menjalankan bagianku sebagai nakhoda, tapi kamu adalah jangkar yang menahan kapal ini agar tidak terhempas ke karam."

Suasana di dalam masjid kembali diselimuti keheningan yang sarat makna. Di luar sana, lampu-lampu gedung pencakar langit ibu kota terus menyala berganti warna, namun di dalam tempat sujud tersebut, dunia luar seolah kehilangan kuasanya atas ketenangan jiwa mereka berdua.

❖ ❖ ❖

Pintu geser masjid kembali terbuka perlahan, memecah perbincangan intim antara Aryo dan Chafia. Paman Surya melangkah masuk dengan bantuan tongkat kayu antik miliknya, didampingi oleh Maya yang membawa setumpuk map dokumen audit akhir tahun yang baru saja dirampungkan sore tadi.

"Assalamu'alaikum," sapa Paman Surya dengan suara serak namun hangat, menghentikan langkahnya di dekat saf pertama.

"Wa'alaikumussalam warahmatullah, Paman. Mari silakan duduk," sambut Aryo cepat, berdiri lalu membantu Paman Surya duduk bersila di atas permadani empuk, sementara Maya meletakkan map dokumen di dekat meja kecil.

Paman Surya menarik napas panjang, merapikan kemeja batik berlengan panjang yang ia kenakan. "Maaf kalau kedatangan saya mengganggu waktu khusyuk kalian berdua di malam hari. Tapi ada satu hal penting yang sengaja saya bawa ke sini sebelum laporan resmi diserahkan ke dewan komisaris besok pagi."

Chafia menatap map dokumen yang dibawa Maya dengan rasa penasaran. "Dokumen apa itu, Paman? Bukankah seluruh proses audit restrukturisasi hukum dan keuangan sudah selesai diputuskan minggu lalu?"

"Ini bukan soal audit masalah lama, Chafia," jawab Paman Surya tersenyum tipis, membuka map tersebut dan menunjukkan lembaran neraca keuangan bersih tanpa cela. "Ini adalah proyeksi laba bersih perusahaan untuk kuartal pertama tahun depan. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, Artha Cipta Media mencatatkan surplus operasional tanpa ada satu pun utang macet atau beban bunga bank siluman."

Aryo dan Chafia terperanjat sejenak membaca angka-angka fantastis yang tertera di atas kertas resmi tersebut. Keuntungan bersih melonjak drastis setelah efisiensi pabrik dan pembersihan korupsi internal yang didalangi Handoko berhasil dituntaskan sebulan lalu.

"Alhamdulillah..." ucap Chafia lirih, air mata haru menetes perlahan membasahi pipinya. "Ini benar-benar di luar dugaan kita semua."

Maya tersenyum lebar, matanya ikut berkaca-kaca. "Ini semua berkat keteguhan prinsip Bu Chafia dan strategi manajerial cerdas dari Pak Aryo. Seluruh karyawan di lantai produksi bahkan tadi sore mengadakan syukuran kecil-kecilan di kantin."

"Jangan puji kami, Maya," sahut Aryo merendah. "Keberhasilan ini adalah buah dari kerja keras seluruh tim, termasuk kamu yang setia mendampingi perusahaan di saat-saat paling kritis sekalipun."

Lihat selengkapnya