Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #40

Bukti Autentik di Tangan Arkan

Malam melingkupi gedung pencakar langit Wijaya Group dengan selimut kelam yang tenang. Di ruang kerja utama lantai tigapuluh, cahaya lampu meja menyinari tumpukan dokumen terakhir yang baru saja dipindahkan dari ruang arsip bawah tanah. Arkan duduk di kursi kerjanya, memandangi sebuah kotak kayu antik berukir sederhana—warisan terakhir dari paman kedua yang menjadi kunci utama seluruh kebenaran konspirasi sepuluh tahun lalu. Di sampingnya, Chafia berdiri sambil memegang secangkir kopi hitam hangat, memperhatikan ekspresi wajah Arkan yang tampak begitu serius.

"Apakah isi kotak itu benar-benar memuat bukti autentik yang bisa menutup celah terakhir para sindikat hukum itu, Arkan?" tanya Chafia lembut, memecah keheningan ruangan yang dipenuhi aroma kayu mahoni tua.

Arkan mendongak, menatap manik mata wanita di sisinya dengan sorot mata yang menyiratkan kelegaan bercampur ketegangan panjang. "Ya, Chafia. Di dalam kotak ini tersimpan rekaman audio asli dari rapat dewan direksi sepuluh tahun lalu, serta buku catatan harian keuangan milik mendiang kakekku yang mencatat aliran dana suap secara detail."

Chafia meletakkan cangkir kopinya di atas meja, lalu menarik kursi kecil untuk duduk tepat di hadapan Arkan. "Setelah semua badai dan teror yang kita lewati, tidak disangka bahwa kebenaran yang sesungguhnya tersimpan begitu rapi di tempat yang paling tidak terduga."

"Kebenaran selalu punya caranya sendiri untuk menemukan jalan keluar, betapapun rapat ia dikubur oleh keserakahan," balas Arkan tenang. Ia membuka kunci kotak kayu tersebut dengan kunci kecil berbahan perak, lalu mengeluarkan sebuah buku bersampul kulit hitam tebal dan sebuah pita rekaman digital berteknologi lama. "Besok pagi, saat sidang luar biasa dewan komisaris dimulai, bukti ini akan diserahkan langsung ke hadapan hukum."

Chafia merentangkan tangannya, menyentuh lembut punggung tangan Arkan yang terasa hangat. "Aku akan menemanimu di setiap langkah persidangan besok, Arkan. Kamu tidak berjalan sendirian lagi."

Arkan tersenyum tulus, menggenggam jemari Chafia erat-erat. "Terima kasih, Chafia. Kehadiranmu adalah kekuatan terbesar yang membuatku bisa bertahan sampai sejauh ini."

❖ ❖ ❖

Matahari pagi menyinari kota dengan bias keemasan yang cerah, namun suasana di ruang sidang utama lantai tigapuluh gedung Wijaya Group terasa sangat kaku dan menegangkan. Di sekeliling meja bundar besar, para anggota dewan komisaris dan perwakilan pemegang saham duduk dengan ekspresi serius. Di sudut ruangan, beberapa pengacara senior dari kubu lawan tampak berbisik-bisik gelisah, menduga bahwa Arkan tidak akan tinggal diam setelah insiden penangkapan Edward sebelumnya.

Pintu ruang sidang terbuka lebar. Arkan melangkah masuk dengan langkah tegap, mengenakan setelan jas hitam formal berdasi perak, didampingi oleh Chafia yang membawakan map dokumen khusus berisi bukti autentik.

"Selamat pagi, para dewan komisaris yang terhormat," sapa Arkan dengan suara baritonnya yang tenang dan berwibawa, mengambil tempat duduk di kursi utama sidang.

Salah seorang komisaris senior dari kubu oposisi langsung mendengus dan mengangkat dagunya tinggi-tinggi. "Arkan, buat apa kamu memanggil sidang darurat ini lagi? Kasus internal perusahaan sudah diselesaikan lewat jalur hukum pekan lalu. Jangan coba-coba mengada-ada masalah baru!"

Arkan tidak terpancing emosi sedikit pun. Ia menatap lurus ke arah komisaris tersebut dengan sorot mata setajam elang. "Ini bukan masalah baru, Tuan Gunawan. Ini adalah penyelesaian tuntas atas akar kebusukan korporasi yang sengaja ditutup-tutupi selama sepuluh tahun terakhir."

Chafia membuka map dokumen di hadapannya, lalu meletakkan buku catatan keuangan antik dan perangkat pemutar rekaman audio digital di tengah meja rapat. "Bukti autentik ini akan menjelaskan semuanya tanpa ada ruang untuk dusta."

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya