Pengakuan Fauzan yang Menggemparkan Ruangan---
Suara ketukan sepatu pantofel yang beradu dengan lantai marmer putih mengilap di ruang sidang utama lantai dua belas terdengar begitu nyaring, memecah keheningan pagi yang mencengkeram. Lampu kristal raksasa yang tergantung megah di langit-langit memancarkan pendar cahaya keemasan, menyinari barisan kursi panelis dewan komisaris yang duduk dengan wajah kaku dan tegang. Di tengah ruangan, sebuah meja saksi berbalit kain beludru hitam berdiri tegak, menanti kedatangan seseorang yang akan mengubah jalannya sejarah perusahaan untuk selamanya.
Arkan duduk di barisan kursi depan bersama Chafia, mengenakan setelan jas abu-abu gelap dengan postur tubuh tegap dan tatapan mata lurus ke depan. Di sampingnya, Chafia tampak menggenggam erat jemari Arkan, menyalurkan dukungan moral yang begitu kuat di tengah badai pengungkapan kebenaran yang berada di ambang pintu. Dokumen-dokumen bukti digital hasil operasi pelabuhan malam itu tersusun rapi di dalam binder tebal di atas meja mereka.
"Apakah kamu siap menghadapi apa pun yang akan dikatakan oleh Fauzan hari ini?" bisik Chafia pelan, menoleh ke arah Arkan dengan sorot mata yang menyiratkan kecemasan mendalam.
Arkan menoleh sekilas, menyunggingkan senyum tipis yang menenangkan untuk mengurangi rasa tegang di hati wanita itu. "Aku sudah siap sejak hari pertama mereka mencoba menghancurkan perusahaan ini, Chafia. Fauzan adalah mata rantai terakhir dari kubu lama. Jika ia berbicara jujur di hadapan komite hari ini, maka bayang-bayang kelam korporasi ini akan musnah untuk selamanya."
Pintu utama ruang sidang terbuka perlahan. Dua orang petugas pengamanan internal mengawal seorang pria paruh baya berambut beruban tipis yang mengenakan baju tahanan oranye pudar—Fauzan, mantan direktur operasional utama yang sempat melarikan diri sebelum akhirnya berhasil ditangkap aparat di bandara internasional seminggu lalu. Wajah Fauzan tampak letih, sorot matanya sayu, dan langkah kakinya sedikit berat saat digiring menuju kursi saksi di hadapan dewan komisaris.
Ketua dewan komisaris, seorang pria sepuh berwibawa bernama Pak Haryo, mengetuk palu sidang satu kali dengan suara bergemerincing tajam. "Silakan duduk, Saudara Fauzan. Anda dihadirkan di ruang sidang kehormatan ini atas permintaan Anda sendiri untuk memberikan kesaksian sukarela terkait seluruh jaringan penggelapan aset dan konspirasi internal perusahaan."
Fauzan duduk perlahan di kursi saksi, menarik napas dalam-dalam sebelum mengangkat wajahnya menatap barisan panelis komisaris serta sekilas melirik ke arah Arkan di barisan depan. Suaranya terdengar serak dan bergetar ketika ia mulai membuka mulutnya. "Terima kasih, Pak Haryo... Saya hadir di sini bukan untuk membela diri, melainkan untuk melunasi utang nurani saya yang sudah terlalu lama digadaikan demi keserakahan."
❖ ❖ ❖
Suasana di dalam ruang sidang mendadak menjadi begitu sunyi; bahkan suara dengung pendingin ruangan seolah lenyap terserap oleh ketegangan yang mendadak melingkupi setiap sudut ruangan. Seluruh pasang mata tertuju sepenuhnya kepada sosok Fauzan yang duduk tertunduk di kursi saksi.
"Mulailah dari awal, Fauzan," ucap Pak Haryo dengan nada suara tegas namun dingin. "Jelaskan kepada dewan komisaris bagaimana skema penggelapan dana lintas anak perusahaan yang selama ini dirahasiakan dari laporan audit publik."
Fauzan menelan ludahnya dengan susah payah, tangannya yang keriput saling meremas di atas meja kayu. "Semuanya bermula lima tahun lalu, saat almarhum Pak Hendra mulai membentuk jaringan rekening penampung fiktif di luar negeri... Kami memanfaatkan celah pada divisi logistik untuk meloloskan faktur pengadaan fiktif senilai ratusan miliar rupiah."
Chafia yang mendengarkan kesaksian itu dari kursi depan merapatkan tubuhnya ke arah Arkan, berbisik lirih. "Skema itu jauh lebih besar dan terstruktur dari perkiraan kita semula. Pantas saja mereka begitu panik saat audit eksternal masuk."
Arkan mengangguk pelan, jemarinya meraba sampul binder dokumen di hadapannya. "Fauzan sedang membuka kotak pandora yang selama ini mereka kunci rapat-rapat. Tapi bagian paling krusialnya belum diungkapkannya—siapa dalang utama di balik perintah sabotase data di ruang server minggu lalu."
Di kursi saksi, Fauzan menarik napas panjang, lalu melanjutkan kesaksiannya dengan suara yang perlahan-lahan mulai meninggi dan bergetar karena emosi. "Kami mengira bisa terus menutupi kebusukan ini dengan menyogok auditor internal dan menyingkirkan siapa pun yang mencoba menyelidiki aliran dana tersebut... Termasuk upaya intimidasi dan sabotase sistem yang dilakukan oleh almarhum Pak Darma atas perintah langsung dari para pemegang saham mayoritas kubu lama."
Mendengar pengakuan mengejutkan itu, beberapa anggota dewan komisaris di barisan panelis langsung saling berpandangan dengan wajah terkejut dan geram. Bisikan-bisikan protes dan kemarahan mulai bergemuruh pelan di antara para peserta sidang yang hadir.
"Jaga perkataan Anda, Fauzan!" seru salah seorang komisaris dari kubu lama dengan nada tinggi, berdiri dari kursi panelisnya. "Anda tidak memiliki hak untuk menyeret nama pemegang saham tanpa bukti autentik yang sah!"