
Topeng-topeng Palsu yang Mulai Runtuh---
Langit sore di atas kawasan distrik perkantoran elit Jakarta memantulkan bias cahaya keemasan bercampur kelabu, menyiram dinding-dinding kaca pencakar langit dengan kemegahan yang menipu mata. Di dalam ruang rapat utama korporat Senjaya Group yang terletak di lantai tiga puluh lima, suasana terasa begitu dingin dan mencekam, jauh berbeda dari kemewahan arsitektur interior berbalut marmer hitam dan lampu kristal gantung yang menyala terang.
Baskoro junior duduk di kursi direktur utama dengan postur tegang. Kedua tangannya yang mengenakan jam tangan mewah bermerek internasional tampak mencengkeram erat tepi meja mahoni besar di hadapannya. Napas pria itu memburu, sementara pandangan matanya kosong menatap tumpukan surat peringatan audit eksternal dan berkas pemanggilan pemeriksaan dari kepolisian yang berserakan tidak beraturan.
Pintu ruang rapat bergeser terbuka dengan suara gesekan pelan yang nyaris tidak terdengar. Hendoko—mantan direktur operasional yang dulu menjadi tangan kanan paling dipercaya dalam menjalankan rencana kotor menjatuhkan Artha Cipta Media—melangkah masuk dengan langkah gontai. Wajah pria paruh baya itu tampak kuyu, lingkaran hitam tercetak jelas di bawah kedua matanya, menandakan malam-malam panjang tanpa tidur yang telah ia lalui sejak skandal pemalsuan dokumen terbongkar di pengadilan.
"Baskoro..." suara Hendoko terdengar serak, parau, dan menyiratkan keputusasaan yang teramat sangat. "Kita sudah berada di ujung jurang kehancuran. Kantor akuntan publik mencabut audit kita, dan rekening perusahaan utama sudah dibekukan oleh pihak bank atas perintah penyidik."
Baskoro mendongak, menatap tajam kepada mantan kaki tangannya dengan sorot mata penuh kemarahan yang tertahan. Ia bangkit dari kursi dengan hentakan kasar hingga kursi di belakangnya terdorong mundur membentur dinding kaca.
"Jangan bicara soal kehancuran di hadapanku, Hendoko!" bentak Baskoro dengan suara tertahan namun penuh racun. "Semua kekacauan ini terjadi karena kecerobohanmu! Kamu bilang dokumen palsu itu sangat sempurna dan tidak akan pernah bisa dilacak oleh siapa pun, termasuk oleh pengacara rendahan seperti Aryo!"
Hendoko tersenyum sinis, sebuah senyuman getir yang mencerminkan kekecewaan mendalam terhadap pria di hadapannya. "Sempurna? Kau menyebut rekayasa amatiran berkedok utang warisan fiktif itu sempurna, Baskoro? Kau lupa bahwa ada saksi hidup bernama Ustadz Husein dan Paman Surya yang memegang catatan asli dari tiga puluh tahun lalu! Kita bermain dengan api, dan sekarang api itu membakar kita hidup-hidup."
"Cukup!" sergah Baskoro sambil menunjuk tepat ke wajah Hendoko dengan jari telunjuknya yang gemetar hebat. "Jangan coba-coba melimpahkan seluruh kesalahan ini kepadaku seorang diri. Kita berada di perahu yang sama dari awal. Kalau aku jatuh, kau akan menyeret seluruh keluargamu ke dalam penjara bersamaku!"
Suasana di dalam ruang rapat mewah itu mendadak berubah menjadi arena pertikaian batin dan ego dua orang pria yang selama bertahun-tahun mengenakan topeng kesuksesan palsu. Topeng wibawa, topeng kekayaan, dan topeng kekuasaan yang mereka bangun di atas penderitaan orang lain kini retak dan hancur berkeping-keping, menampakkan kebusukan moral yang memuakkan di balik setelan jas mahal yang mereka kenakan.
❖ ❖ ❖
Di sudut lain ruangan rapat yang luas itu, seorang wanita paruh baya berbusana rapi namun tampak gelisah berdiri mematung di dekat pilar penyangga marmer. Dia adalah Sekretaris Utama Senjaya Group yang telah melayani keluarga Senjaya selama lebih dari dua dekade. Wanita itu memegang map biru tua berisi surat pengunduran diri massal dari puluhan staf legal dan keuangan yang menolak ikut terseret dalam kasus hukum korporasi tersebut.
"Pak Baskoro, Pak Hendoko," sapa sekretaris itu dengan suara gemetar, berusaha menyela pertikaian kecil di antara kedua atasannya.
Baskoro menoleh cepat, menatap tajam wanita paruh baya di hadapannya dengan alis berkerut dalam. "Ada apa lagi? Jangan bilang ada kabar buruk lain yang datang hari ini! Aku sedang tidak punya waktu untuk mendengarkan keluhan!"
Wanita itu menelan ludah susah payah, mencengkeram map biru di tangannya semakin erat. "Ini bukan keluhan, Pak. Ini adalah surat pengunduran diri resmi dari seluruh kepala divisi keuangan dan bagian hukum. Mereka menolak melanjutkan tugas operasional di bawah bayang-bayang status tersangka pencucian uang dan pemalsuan dokumen perusahaan."
Hendoko memejamkan matanya rapat-rapat mendengar laporan tersebut. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Kapal besar bernama Senjaya Group itu benar-benar ditinggalkan oleh para tikus pencari selamat sebelum benar-benar karam ke dasar laut.
"Pengunduran diri?!" suara Baskoro meninggi, memecah kesunyian lantai atas gedung perkantoran tersebut. "Berani sekali mereka meninggalkan perusahaan saat badai menerpa! Ancam mereka dengan pemotongan pesangon dan tuntutan pelanggaran kontrak kerja!"
"Ancaman sudah tidak mempan lagi, Pak Baskoro," jawab sekretaris itu dengan nada datar namun tegas, menyimpan keberanian terakhirnya. "Para staf hukum mengatakan bahwa mereka tidak ingin menjadi tumbal atas kebijakan ilegal yang bapak berikan selama beberapa bulan terakhir. Bahkan, pihak kepolisian dijadwalkan akan datang kemari besok pagi untuk melakukan penggeledahan lanjutan."
Baskoro terperanjat mendengar kata 'penggeledahan'. Wajahnya yang tadinya memerah karena amarah mendadak berubah pucat pasi. Ia melangkah mundur perlahan hingga punggungnya membentur meja kerja besar di belakangnya.
"Penggeledahan... polisi akan datang kemari?" bisik Baskoro tidak percaya, suaranya melemah seketika.