Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #45

Kepanikan Massal

Kepanikan Massal di Kubu Lawan

Malam di distrik finansial ibu kota merayap dalam ketegangan yang pekat. Di lantai tigapuluh gedung perkantoran utama Wijaya Group, lampu-lampu ruang kendali korporat berpendar terang, memancarkan cahaya putih steril ke atas permukaan meja rapat yang dipenuhi tumpukan lembar dokumen audit forensik dan salinan berkas persidangan. Arkan berdiri tegak di depan dinding kaca besar, menatap ke arah jalan raya di bawah sana yang basah oleh sisa hujan senja. Di sampingnya, Chafia duduk menyilangkan kaki, memegang secangkir teh chamomile hangat yang mengepulkan uap tipis, sementara matanya tak lepas dari layar laptop yang menampilkan grafik pergerakan saham perusahaan afiliasi kubu lawan yang mengalami penurunan drastis secara real-time.

"Berita penahanan para komisaris yang terlibat konspirasi sepuluh tahun lalu sudah resmi disiarkan oleh stasiun televisi nasional sepuluh menit yang lalu," suara Rika terdengar dari ambang pintu ruang rapat, membawa map merah berlogo firma hukum independen. "Dan dampaknya langsung menghantam kubu lawan seketika."

Arkan membalikkan tubuhnya perlahan, sorot matanya tajam namun menyiratkan kelegaan yang luar biasa. "Bagaimana reaksi para investor utama di pihak mereka, Rika?" tanyanya dengan nada suara tenang dan terukur.

"Kepanikan massal, Pak Arkan," jawab Rika cepat, melangkah mendekat dan meletakkan map merah tersebut di atas meja. "Telepon di kantor pusat mereka tidak berhenti berdering sejak jam lima sore tadi. Para investor besar berbondong-bondong menarik modal mereka secara sepihak karena takut terseret dalam pusaran investigasi korupsi dan pemalsuan dokumen yang sedang ditangani kejaksaan agung."

Chafia meletakkan cangkir tehnya ke atas piring kecil, lalu mendongak menatap Arkan dengan senyuman tipis yang penuh makna. "Strategi kita untuk membuka seluruh bukti autentik ke publik secara transparan benar-benar merontokkan benteng pertahanan mereka dalam semalam. Mereka tidak punya waktu lagi untuk menyusun alibi atau memutarbalikkan fakta."

"Karena kebenaran tidak butuh alibi, Chafia," balas Arkan lembut, melangkah mendekati sofa dan duduk di sebelah wanita itu. "Kebenaran hanya butuh keberanian untuk diungkapkan, betapapun pahit prosesnya."

Tiba-tiba, suara dering ponsel di atas meja berdering nyaring, memecah keheningan ruangan. Layar ponsel tersebut menampilkan nama seorang pengacara senior yang selama ini mewakili kubu oposisi pimpinan mendiang Edward dan Tuan Gunawan. Arkan melirik layar tersebut, lalu menatap Rika dengan isyarat mata agar membiarkan panggilan itu berdering tanpa diangkat.

"Biarkan mereka merasakan kepanikan yang sama seperti yang mereka rasakan saat mencoba menghancurkan keluarga dan perusahaan ini dulu," ucap Arkan dingin.

❖ ❖ ❖

Di markas besar kubu oposisi yang terletak di kawasan bisnis elit seberang distrik, suasana jauh dari kata tenang. Ruang rapat direksi yang biasanya megah dan beraroma cerutu mahal kini berubah menjadi arena pertikaian internal yang penuh teriakan dan caci maki. Para petinggi sisa sindikat yang belum sempat ditangkap berkerumun mengelilingi meja panjang, menatap layar monitor berita ekonomi yang menayangkan kehancuran nilai saham perusahaan mereka secara berturut-turut dalam batas auto-reject bawah.

"Bagaimana ini bisa terjadi?! Siapa yang membocorkan arsip rekaman rapat lama itu kepada kejaksaan?!" bentak seorang direktur paruh baya berwajah pucat, membanting ponselnya ke atas lantai hingga pecah berkeping-keping.

"Arkan... anak muda itu rupanya tidak hanya menggertak!" jawab pengacara senior mereka dengan suara bergetar, merapikan dasinya yang basah oleh keringat dingin. "Dia memegang bukti autentik berupa buku catatan keuangan dan rekaman audio asli yang tidak bisa dibantah di pengadilan mana pun. Kita sudah kalah total!"

"Kalah?! Perusahaan ini milik kita! Kita tidak boleh menyerah begitu saja pada anak kemarin sore itu!" teriak salah seorang pemegang saham mayoritas dari kubu oposisi, matanya melotot marah. "Kumpulkan semua aset cair yang tersisa! Kita ajukan gugatan pailit tandingan atau kita buat pengalihan aset fiktif ke luar negeri sebelum kejaksaan membekukan seluruh rekening korporasi kita!"

Pengacara senior itu menggelengkan kepala lemah, tertawa hambar penuh keputusasaan. "Pengalihan aset? Kau sudah gila! Kejaksaan agung sudah menerbitkan surat pencekalan internasional atas nama kita semua sejak sore tadi. Semua rekening sudah dibekukan secara otomatis oleh sistem perbankan nasional. Tidak ada lagi jalan keluar."

Kepanikan massal itu merebak seketika ke setiap sudut ruangan. Para sekretaris dan staf administrasi berhamburan merapikan berkas pribadi mereka, takut terseret sebagai pesakitan dalam skandal kejahatan kerah putih terbesar dekade ini. Kubu lawan yang dulunya arogan dan tak tersentuh kini runtuh berkeping-keping dalam hitungan jam, dilibas oleh badai kebenaran yang mereka remehkan sendiri.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya