Kehangatan yang Lahir Tanpa Direncanakan---
Matahari sore di kawasan perumahan pinggiran kota Jakarta memancarkan cahaya keemasan yang lembut, menyapu halaman rumput hijau di pekarangan belakang rumah Aryo dan Chafia. Suasana terasa begitu tenang dan damai, kontras dengan keriuhan dan ketegangan ruang sidang maupun ruang rapat korporat yang selama berbulan-bulan mendominasi hari-hari mereka. Udara sore berhembus sepoi-sepoi, membawa aroma harum bunga melati putih yang sedang mekar di sudut pagar kayu.
Di teras belakang yang beralaskan lantai kayu ulin berkualitas tinggi, Aryo duduk di atas kursi goyang rotan sambil mengenakan kemeja katun abu-abu santai lengan panjang. Di pangkuannya, sebuah buku catatan laporan bisnis akhir pekan terbuka, namun pandangan matanya justru lepas menatap ke arah halaman rumput di mana Chafia sedang sibuk menyiram tanaman hias dengan selang air kecil.
Chafia mengenakan dress longgar bermotif bunga-bunga kecil dengan kerudung instan berwarna pastel. Senyuman manis menghiasi wajahnya yang tampak segar tanpa pulasan riasan tebal. Setiap kali cipratan air mengenai daun-daun monstera dan aglonema kesayangannya, wanita itu tertawa kecil menikmati kesederhanaan sore itu.
"Jangan terlalu lelah menyiram tanaman, Chafia," tegur Aryo dengan suara lembut penuh perhatian, menutup buku catatannya lalu meletakkannya di atas meja kopi kecil di sebelah kursinya. "Pekerjaan rumah seperti itu bisa dibantu oleh Pak Tono besok pagi."
Chafia menghentikan gerakannya, mematikan keran selang air lalu menoleh ke arah suaminya dengan mata berbinar-binar. Ia berjalan mendekati teras, meletakkan selang di pinggir pot besar, lalu menyeka peluh tipis di keningnya dengan punggung tangan.
"Siapa bilang ini melelahkan, Mas?" balas Chafia tersenyum hangat, melangkah naik ke teras lalu duduk di kursi sebelah suaminya. "Justru berkebun seperti ini adalah cara terbaik untuk melunturkan sisa-sisa penat setelah seminggu penuh berkutat dengan laporan keuangan perusahaan."
Aryo tersenyum simpul, merogoh saku celananya lalu mengeluarkan sehelai tisu bersih untuk mengusap lembut sisa debu tipis di pipi istrinya. "Kamu benar, sayang. Setelah badai hukum dan kekacauan yang diciptakan keluarga Senjaya beberapa waktu lalu, kedamaian sederhana seperti inilah yang paling mahal harganya."
"Dan kehangatan ini lahir begitu saja tanpa pernah kita rencanakan sebelumnya, ya kan?" bisik Chafia lirih, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sambil menatap langit sore yang mulai memerah.
Aryo mengangguk pelan, merangkul bahu istrinya erat-erat ke dalam dekapannya. Di balik dinding rumah mereka yang kokoh, kebahagiaan sejati tidak lagi diukur dari seberapa besar keuntungan korporasi atau seberapa megah kantor pusat yang mereka pimpin, melainkan dari ketulusan cinta dan ketenangan jiwa yang kini menyelimuti biduk rumah tangga mereka.
❖ ❖ ❖
Suasana sore yang tenang di teras belakang seketika terusik oleh suara dering bel pintu depan rumah yang berbunyi nyaring. Aryo dan Chafia saling berpandangan sejenak. Pukul lima sore bukanlah waktu lazim bagi tamu bisnis untuk datang berkunjung tanpa janji temu sebelumnya.
"Siapa yang datang bertamu sore-sore begini, Mas?" tanya Chafia dengan nada penasaran, merapikan lipatan kerudungnya.
"Entahlah, biar aku yang ke depan mengeceknya," jawab Aryo bangkit dari kursi goyang, lalu berjalan santai melewati ruang keluarga menuju pintu utama rumah mereka.
Begitu pintu utama dibuka, senyuman ramah seketika terkembang di bibir Aryo saat melihat sosok Paman Surya dan Maya berdiri di teras depan dengan membawa keranjang buah segar dan sekotak kue tradisional.
"Assalamu'alaikum, Nak Aryo," sapa Paman Surya dengan suara serak namun berwibawa, mengenakan kemeja batik rapi berpadu celana bahan hitam.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah, Paman! Maya! Mari silakan masuk," sambut Aryo antusias, membukakan pintu lebar-lebar dan mempersilakan kedua tamu istimewa itu masuk ke dalam rumah.
Chafia yang menyusul dari arah belakang segera mempercepat langkahnya saat melihat Paman Surya berjalan masuk dibantu tongkat antiknya. Ia langsung mencium punggung tangan pria sepuh itu dengan penuh takzim.
"Paman tumben berkunjung kemari sore-sore begini tanpa memberi tahu kami lebih dulu," ucap Chafia tersenyum ramah sambil mengambil alih keranjang buah dari tangan Maya. "Mari duduk di ruang tamu, biar saya buatkan teh hangat."
Paman Surya duduk di sofa ruang tamu yang empuk, menghela napas lega sambil merapikan bajunya. "Tidak perlu repot-repot, Chafia. Kami kebetulan sedang melintas di sekitar kawasan perumahan ini usai memantau gudang percetakan cabang baru, jadi kami mampir sebentar untuk bersilaturahmi."
Maya meletakkan tas kerjanya di atas meja kecil, lalu tersenyum lebar menatap Aryo dan Chafia. "Sebenarnya bukan sekadar kebetulan melintas, Bu Chafia. Paman Surya dari siang tadi sudah bersemangat mengajak saya mari ke sini membawakan kue pukis kesukaan Pak Aryo."