Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #50

Badai Kecil

Badai Kecil: Rasa Insecure Chafia pada Latar Belakang Arkan.

Malam di kediaman utama keluarga Wijaya membentang dalam kemegahan yang tenang. Lampu kristal raksasa di ruang tamu memantulkan cahaya keemasan di atas lantai marmer hitam yang mengkilap, menciptakan suasana megah namun terasa asing bagi Chafia. Wanita itu berdiri di hadapan cermin besar berbingkai ukiran kayu jati di kamar tamu lantai dua, mengenakan gaun malam berbahan sutra lembut berwarna hijau zamrud yang dipilihkan khusus oleh Arkan untuk menghadiri jamuan makan malam resmi bersama para mitra bisnis internasional keluarga Wijaya malam ini. Di atas meja rias, deretan kotak perhiasan berlian antik peninggalan leluhur Wijaya tergeletak terbuka, memancarkan kilau menyilaukan yang justru membuat dada Chafia terasa semakin sesak.

Pintu kamar terbuka perlahan, dan Arkan melangkah masuk dengan mengenakan setelan jas hitam tailor-made berdasi sutra gelap yang membuatnya tampak begitu berwibawa. Pria itu tersenyum hangat melihat Chafia dari pantulan cermin, lalu berjalan mendekat dan melingkarkan kedua tangannya di pundak wanita itu dengan penuh kelembutan.

"Gaun itu sangat cocok untukmu, Chafia," bisik Arkan di dekat telinga Chafia dengan suara baritonnya yang menenangkan. "Kamu terlihat sangat anggun dan memukau malam ini."

Chafia menatap bayangan Arkan di cermin, lalu membuang pandangannya perlahan dengan senyum tipis yang terasa dipaksakan. "Terima kasih, Arkan. Tapi... gaun ini dan deretan perhiasan mahal di atas meja ini rasanya terlalu berat bagiku. Aku merasa seperti sedang mengenakan pakaian milik orang lain yang tidak sepadan dengan diriku."

Arkan mengerutkan keningnya, melepaskan rangkulannya lalu berputar sedikit untuk berjongkok di samping kursi rias agar sejajar dengan posisi duduk Chafia. Ia meraih kedua tangan wanita itu yang terasa sedikit dingin. "Ada apa, Chafia? Sejak tadi sore di galeri, aku merasakan kegelisahan yang sama di matamu. Apakah ada hal buruk yang terjadi atau seseorang mengganggumu?"

Chafia menarik napas dalam-dalam, menundukkan kepalanya menatap jemarinya sendiri yang bertumpu di atas pangkuan gaun sutranya. "Tidak ada yang menggangguku, Arkan. Hanya saja... semakin sering aku berdiri di sampingmu dalam acara-acara formal keluarga besar korporat ini, semakin aku menyadari betapa jauh jurang perbedaan di antara latar belakang kita."

"Perbedaan apa yang kamu maksud, Chafia?" tanya Arkan dengan suara lembut namun sarat akan kebingungan.

"Latar belakang kita, Arkan," jawab Chafia pelan, suaranya sedikit bergetar menahan rasa rendah diri yang tiba-tiba membuncah di dadanya. "Kamu adalah pewaris tunggal imperium bisnis Wijaya Group—keluarga terpandang yang menguasai panggung ekonomi nasional dengan sejarah panjang yang megah. Sedangkan aku? Aku hanyalah seorang kurator seni independen yang merintis galeri kecil dari nol, dibesarkan di lingkungan sederhana yang jauh dari kemewahan dunia korporat."

Arkan menggenggam tangan Chafia semakin erat, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata wanita itu dengan penuh kesungguhan. "Jangan pernah merendahkan dirimu sendiri seperti itu, Chafia. Perusahaan dan kekayaan keluargaku tidak ada artinya jika dibandingkan dengan ketulusan hati, kecerdasan, dan jiwa senimu yang luar biasa."

"Tapi dunia di luar sana tidak melihat ketulusan hati, Arkan!" sanggah Chafia dengan suara sedikit meninggi, air mata tipis tanpa sadar menggenang di sudut matanya. "Malam ini, para istri direktur dan kolektor elit itu akan menatapku dengan standar sosial mereka. Mereka akan menilai apakah aku pantas berdiri di sampingmu sebagai bagian dari keluarga Wijaya, atau aku hanya gadis biasa yang kebetulan beruntung mendapatkan perhatian dari seorang CEO besar."

Arkan terdiam sejenak, merasakan nyeri di dadanya mendengar ketakutan rapuh yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh wanita yang paling dicintainya itu.

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam mobil sedan mewah ber-AC dingin itu terasa senyap selama perjalanan menuju hotel bintang lima tempat jamuan makan malam kenegaraan diselenggarakan. Chafia duduk terpaku menatap pemandangan lampu jalan ibu kota yang berkelebat cepat di luar jendela kaca, sementara pikirannya berkecamuk hebat menerka-nerka tatapan sinis yang mungkin akan ia terima dari para kerabat dan mitra bisnis senior keluarga Wijaya malam nanti. Arkan melirik ke arah Chafia beberapa kali, menyadari betapa jari-jari tangan wanita itu saling meremas erat di atas tas kecil berwarna perak di pangkuannya.

"Chafia," panggil Arkan pelan, memecah keheningan kabin mobil yang remang-remang. "Dengarkan aku. Kamu tidak perlu membuktikan apapun kepada siapapun di jamuan malam ini. Kamu hadir bukan sebagai aksesori sosial keluarga Wijaya, melainkan sebagai dirimu sendiri—wanita cerdas, mandiri, dan pemilik galeri seni yang dihormati."

Chafia menoleh pelan, menatap wajah Arkan dengan sorot mata yang menyiratkan keraguan mendalam. "Mudah bagimu berkata begitu, Arkan. Kamu terlahir di puncak piramida sosial ini; kamu tidak pernah tahu rasanya berada di posisi orang luar yang harus beradaptasi dengan aturan-aturan kaku dunia elite."

"Justru karena aku tahu betapa melelahkannya hidup di dalam lingkaran emas keluarga korporat yang penuh kepalsuan itulah aku memilih keluar dan mencintai dunia seni bersamamu, Chafia," balas Arkan dengan suara baritonnya yang hangat dan meyakinkan. "Dunia seni yang kamu bangun jauh lebih jujur dan bermakna daripada puluhan gedung pencakar langit milik keluargaku."

Chafia tersenyum tipis mendengar kejujuran tulus dari pria di sisinya itu, meski rasa insecure di dalam hatinya belum sepenuhnya hilang. "Terima kasih selalu tahu bagaimana cara menenangkanku, Arkan. Tapi rasa cemas ini... rasanya sulit sekali dihapus begitu saja dalam waktu singkat."

Mobil sedan hitam itu perlahan memasuki area drop-off lobi hotel megah berlantai marmer putih yang disorot lampu sorot terang. Petugas valet parking berseragam rapi segera membukakan pintu mobil untuk mereka. Arkan keluar lebih dulu, lalu mengulurkan tangan kanannya dengan mantap kepada Chafia.

Lihat selengkapnya