Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #51

Arkan Menenangkan

Arkan Menenangkan Kegundahan Hati Sang Istri---

Suara deburan ombak kecil yang bergesekan dengan pasir pantai di kejauhan terdengar samar-samar melalui celah jendela kamar tidur yang terbuka setengah. Cahaya lampu tidur berwarna kuning temaram memantul lembut di atas permukaan meja rias kayu jati antik, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di dinding kamar. Chafia duduk termenung di tepi ranjang berseprai putih bersih, mengenakan gamis sederhana berwarna soft blue dengan kerudung senada yang menjuntai anggun menutupi dadanya. Tangannya memegang erat selembar foto lama keluarganya, sementara pikirannya melayang jauh menembus batas malam yang sunyi.

Pintu kamar berderit pelan, dan Arkan melangkah masuk dengan membawa nampan kecil berisi dua cangkir teh chamomile hangat dan beberapa potong kue tradisional. Pria berpeci hitam itu mengenakan baju koko putih polos yang tampak begitu bersih, memancarkan aura ketenangan batin yang seolah mampu meluruhkan segala lelah duniawi.

"Belum tidur, Fia?" tanya Arkan dengan suara baritonnya yang lembut, berjalan mendekat dan meletakkan nampan tersebut di atas nakas sebelah tempat tidur.

Chafia menoleh, meletakkan foto lama di tangannya secara perlahan ke pangkuannya, lalu mendongak menatap sang suami dengan seulas senyum tipis yang menyembunyikan kepenatan mendalam. "Aku tidak bisa memejamkan mata, Mas. Pikiranku masih melayang memikirkan rentetan masalah perusahaan yang baru saja kita selesaikan kemarin, dan juga... bayangan masa lalu yang seolah tidak pernah benar-benar pergi meninggalkan hidup kita."

Arkan menarik kursi kayu kecil di dekat ranjang, duduk bersila menghadap istrinya, lalu meraih kedua tangan Chafia yang terasa sedikit dingin ke dalam genggamannya yang hangat. "Kegundahan itu adalah tamu yang wajar datang menghampiri hati manusia, Fia. Tetapi jangan biarkan tamu itu berlama-lama mendirikan kemah di dalam dadamu."

Chafia menatap lekat-lekat ke dalam mata Arkan yang begitu teduh, merasakan getaran ketenangan yang menjalar melalui sentuhan tangan suaminya. "Bagaimana caranya agar hatiku bisa setenang dirimu, Mas? Menjadi pemimpin sebuah korporasi besar sekaligus seorang istri menuntut tanggung jawab moral yang teramat berat. Kadang aku merasa lelah harus selalu terlihat kuat di hadapan semua orang."

"Karena kamu terbiasa memikul semuanya sendirian sebelum kita berjalan bersama," jawab Arkan bijak, mengusap punggung tangan Chafia dengan penuh kelembutan. "Kekuatan sejati seorang mukmin bukanlah tidak pernah merasa lelah atau takut, Fia, melainkan kemampuan untuk menyerahkan segala beban itu kepada Zat yang Maha Memiliki segalanya setiap kali pundak kita terasa rapuh."

Di titik pemicu ini, kegundahan batin Chafia sebagai seorang istri sekaligus pemimpin perusahaan mencuat ke permukaan, menuntut bimbingan spiritual dan ketulusan cinta dari sang suami tercinta.

❖ ❖ ❖

Chafia menghela napas panjang, membiarkan kepalanya bersandar perlahan ke bahu Arkan. Ia menutup matanya, menghirup aroma wangi minyak kasturi yang senantiasa melekat pada pakaian suaminya. "Aku takut, Mas... takut jika suatu saat nanti badai yang lebih besar datang dan aku tidak sanggup lagi berdiri mempertahankan kejujuran di tengah dunia bisnis yang kejam."

Arkan merangkul bahu istrinya dengan penuh kasih sayang, merapatkan pelukan itu untuk memberikan rasa aman yang mutlak. "Ketakutan itu lahir dari perkiraan masa depan yang belum tentu terjadi, Fia. Allah melarang kita mencemaskan hari esok dengan beban hari ini. Selama niat di dalam hatimu lurus karena-Nya, tidak ada badai di dunia ini yang mampu menenggelamkan kapal yang dikemudikan oleh kejujuran."

Chafia mendongak sedikit, menatap wajah suaminya dari jarak dekat. "Apakah kamu tidak pernah merasa lelah menghadapi semua fitnah dan intrik manusia, Mas? Kamu rela meninggalkan ketenangan pesantren di Kendal demi mendampingi aku melewati krisis di ibu kota ini."

Arkan tersenyum hangat, mencubit hidung Chafia pelan dengan penuh kemesraan. "Bagian mana dari diriku yang terlihat lelah, Fia? Mendampingi orang yang kita cintai untuk berjuang di jalan kebenaran bukanlah sebuah beban, melainkan bentuk ibadah yang paling indah. Pesantren tidak hanya ada di bangunan fisik di desa, Fia. Pesantren sejati adalah di mana pun kita bisa menebarkan kedamaian dan mengajarkan arti keikhlasan—termasuk di dalam rumah tangga kita ini."

Mendengar kata-kata itu, hati Chafia yang tadinya diselimuti awan kelabu mendadak terasa sejuk dan lapang. Air mata kelegaan menetes perlahan di pipinya, bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa syukur yang luar biasa karena dikaruniai seorang suami yang menjadi pelindung sekaligus guru kehidupan bagi jiwanya.

"Terima kasih, Mas Arkan," bisik Chafia parau, mempererat pelukannya pada pinggang suaminya. "Tanpa bimbinganmu, aku mungkin sudah lama tersesat di dalam kegelapan ambisi duniawi."

Arkan mengecup puncak kepala Chafia yang tertutup kerudung dengan penuh kelembutan. "Sama-sama, istriku tersayang. Mari kita nikmati malam ini dengan rasa syukur, lepaskan semua beban kantor di luar pintu kamar ini."

Namun, di tengah kehangatan pelukan suami istri tersebut, tiba-tiba suara dering ponsel di atas nakas berdering nyaring memecah kesunyian malam, menampilkan sebuah panggilan darurat dari nomor asing yang membuat detak jantung Chafia kembali berpacu cepat.

❖ ❖ ❖

Chafia melepaskan pelukannya perlahan, menoleh ke arah nakas tempat ponselnya bergetar hebat. Layar ponsel itu menyala terang di tengah temaramnya kamar, menampilkan panggilan video dari nomor tak dikenal dengan kode wilayah luar negeri.

"Siapa yang menelepon malam-malam begini, Fia?" tanya Arkan tenang namun waspada, melihat ekspresi wajah istrinya yang mendadak berubah tegang.

Chafia mengambil ponsel tersebut, mengerutkan keningnya. "Aku tidak tahu, Mas. Tidak biasanya ada nomor asing menghubungi seluler pribadi ku selarut ini."

Lihat selengkapnya