Peran Malik, Pengacara Jujur yang Membantu Penegakan Hukum---
Suara ketukan jam dinding antik di sudut ruang kerja utama berpadu dengan deru lembut pendingin ruangan yang menjaga suhu tetap sejuk di tengah malam buta. Di atas meja kerja berbalut kayu jati tua, tumpukan berkas hukum setebal hampir setengah meter tertata rapi di samping laptop yang menyala terang. Arkan duduk bersandar di kursi kerjanya, matanya menatap tajam ke arah lembaran demi lembaran draf gugatan hukum yang baru saja dikirimkan melalui surel oleh tim penasihat hukum perusahaan.
Pintu ruang kerja diketuk dua kali secara sopan sebelum akhirnya terbuka perlahan. Maya melangkah masuk dengan membawa nampan berisi secangkir kopi hitam panas dan setoples kue kering mentega. Di belakang sekretaris setia itu, seorang pria paruh baya berpenampilan rapi dengan setelan jas abu-abu tua dan kacamata berbingkai tipis ikut melangkah masuk ke dalam ruangan. Pria itu adalah Malik, seorang pengacara senior independen yang dikenal memiliki integritas tinggi dan rekam jejak bersih dalam membongkar kasus-kasus korporasi besar.
"Selamat malam, Pak Arkan. Maaf mengganggu waktu istirahat malam anda," sapa Malik dengan suara berat dan berwibawa, lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman. "Maya mengatakan bahwa anda masih memeriksa draf tuntutan hukum akhir untuk sidang gugatan perdata terhadap sindikat sisa pimpinan lama besok pagi."
Arkan segera bangkit dari kursinya untuk menyambut uluran tangan Malik, lalu mempersilakan pengacara terkemuka itu duduk di kursi tamu di hadapan meja kerjanya. "Selamat malam, Malik. Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu datang ke kantor larut malam begini. Kehadiranmu sangat kami nantikan untuk memastikan tidak ada celah hukum sekecil pun yang terlewat dalam dokumen gugatan besok."
Malik duduk dengan tenang, meletakkan sebuah tas kerja kulit hitam di samping kursinya, lalu membuka map biru tua yang dibawanya. "Saya sudah membaca seluruh draf tuntutan yang disusun oleh tim internal perusahaan. Secara keseluruhan, argumen hukum dan bukti digital yang kita miliki sudah sangat kuat untuk menjerat mereka atas tuduhan penggelapan aset dan persekongkolan jahat korporat."
Chafia yang sejak tadi duduk di sofa sudut ruangan mengenakan mantel rajut tipis turut mendekat, membawa secangkir teh hangat untuk Malik. "Apakah pihak kejaksaan dan pengadilan negeri sudah memberikan konfirmasi resmi mengenai jadwal sidang pembukaan gugatan perdata itu, Malik?" tanya Chafia lembut sambil meletakkan cangkir di hadapan sang pengacara.
Malik mendongak, tersenyum ramah menyambut sapaan Chafia. "Terima kasih tehnya, Ibu Chafia. Ya, saya baru saja berkoordinasi langsung dengan ketua majelis hakim sore tadi. Sidang pembukaan akan dilangsungkan tepat pukul sembilan pagi besok di ruang utama pengadilan niaga. Pihak tergugat—dalam hal ini diwakili oleh pengacara bayaran dari kubu lama—tampaknya akan mengerahkan seluruh taktik penundaan untuk melemahkan posisi kita."
Arkan menyeringai tipis, rahangnya sedikit mengeras mendengar nama kubu lama yang terus berusaha mencari celah. "Mereka boleh mencoba segala bentuk taktik penundaan persidangan yang mereka inginkan. Tapi kali ini, di hadapan hukum yang dikawal langsung oleh pengacara jujur berintegritas sepertimu, Malik, mereka tidak akan bisa lagi bersembunyi di balik celah birokrasi."
Malik mengangguk tegas, merapikan berkas-berkas di hadapannya. "Itulah mengapa malam ini kita harus merumuskan strategi tangkis yang presisi. Mereka pasti akan menyerang keabsahan audit internal kita dengan dalih konflik kepentingan di masa lalu. Kita harus menutup celah itu rapat-rapat sebelum palu sidang diketok besok pagi."
❖ ❖ ❖
Suasana di ruang kerja utama mendadak menjadi sangat serius ketika Malik mulai membedah satu per satu pasal dan yurisprudensi yang akan digunakan untuk memperkuat posisi hukum perusahaan di persidangan keesokan harinya. Di bawah pendar cahaya lampu meja, lembaran demi lembaran draf gugatan ditandai dengan catatan kecil berwarna kuning oleh pengacara senior tersebut.
"Perhatikan klausul pada halaman empat puluh dua ini, Arkan," ujar Malik sambil menunjuk sebuah paragraf dengan ujung penanya. "Pihak tergugat pasti akan menggunakan celah administratif mengenai penunjukan auditor independen kuartal lalu untuk menuduh bahwa proses audit dilakukan secara sepihak."
Arkan mencondongkan tubuhnya ke depan, membaca cermat baris teks yang ditunjuk oleh Malik. "Tapi penunjukan auditor independen tersebut sudah disahkan secara mutlak oleh dewan komisaris melalui rapat pleno luar biasa bulan lalu, bukan?"
"Benar sekali," balas Malik tegas. "Dan di sinilah peran kesaksian tertulis dari dewan komisaris serta log verifikasi digital yang kita amankan dari ruang server bulan lalu menjadi senjata pemungkas yang tidak bisa dibantah oleh mereka. Tugas kita besok bukanlah membuktikan apakah audit itu sah atau tidak, melainkan membuktikan bahwa pihak tergugat secara sengaja melakukan sabotase untuk menutupi jejak keuangan mereka."
Chafia mendengarkan penjelasan hukum tersebut dengan saksama, lalu mengangguk paham. "Artinya, Malik, strategi terbaik kita adalah langsung menyerang pokok permasalahan penggelapan dana dan sabotase sistem, tanpa memberi kesempatan kepada pengacara mereka untuk mengalihkan isu ke perdebatan administratif yang bertele-tele."
Malik menatap Chafia dengan tatapan kagum. "Tepat sekali, Ibu Chafia. Pemahaman logika hukum anda bahkan melebihi beberapa direktur perusahaan yang pernah saya dampingi di pengadilan. Jika kita tetap fokus pada fakta material dan bukti digital autentik, majelis hakim akan dengan mudah menolak segala bentuk eksepsi atau nota keberatan dari pihak tergugat."
Diskusi hukum malam itu terus berlanjut hingga jarum jam dinding menunjuk pukul dua pagi. Tidak ada rasa lelah yang terpancar di wajah ketiga orang di dalam ruangan tersebut; yang ada hanyalah tekad yang bulat untuk menegakkan keadilan dan membersihkan nama baik korporasi dari segala bentuk kebusukan masa lalu.
"Semua dokumen pendukung sudah lengkap di dalam binder utama ini," kata Malik sambil menutup map biru tuanya dengan bunyi klik yang mantap. "Saya akan pastikan seluruh tim penasihat hukum kita siap di ruang sidang tepat pukul delapan setengah pagi besok. Istirahatlah yang cukup, Arkan. Besok adalah hari penentuan di meja hijau."
Arkan bangkit dari kursinya, menjabat tangan Malik dengan erat dan penuh rasa hormat. "Terima kasih banyak atas dedikasi dan kejujuranmu mendampingi kami selama ini, Malik. Kehadiran pengacara berintegritas sepertimu adalah anugerah terbesar bagi penegakan hukum di negeri ini."
Setelah Malik pamit undur diri dan meninggalkan ruangan diantar oleh Maya menuju lobi bawah, Arkan kembali duduk di kursi kerjanya sejenak, merenungkan perjalanan panjang yang telah ia lalui bersama Chafia hingga mencapai titik krusial ini.
❖ ❖ ❖