Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #55

Dari Kontrak Paksaan

Dari Kontrak Paksaan Menjadi Ikatan Nyata.

Malam di ruang kerja utama lantai tigapuluh gedung Wijaya Group menyisakan keheningan yang menenangkan. Di luar jendela kaca besar, kerlap-kerlip lampu kota ibu kota tampak seperti hamparan permata yang membentang tanpa batas, memantulkan bias cahaya lembut ke atas permukaan meja kerja kayu mahoni yang kini bersih dari tumpukan dokumen konflik maupun berkas gugatan hukum masa lalu. Arkan duduk bersandar di kursi kerjanya, menatap selembar dokumen tua yang sengaja dibingkai rapi dan diletakkan di sudut meja—surat perjanjian kontrak kerja sama awal antara galeri seni Chafia dan korporasi Wijaya Group yang ditandatangani beberapa bulan lalu di tengah ketegangan dan keterpaksaan.

Pintu ruangan terbuka pelan, dan Chafia melangkah masuk membawa nampan kecil berisi dua cangkir teh kamomil hangat serta piring kecil berisi kue kering buatan tangan yang dibawanya dari apartemen. Wanita itu mengenakan sweater rajut longgar berwarna krem muda, memancarkan keanggunan alami tanpa sekat formalitas korporat yang kaku.

"Kamu masih menatap lembar kontrak paksaan itu, Arkan?" suara lembut Chafia memecah keheningan malam, disusul senyuman tipis yang menghiasi bibirnya saat ia meletakkan nampan di atas meja.

Arkan mendongak, balas tersenyum hangat lalu menarik tangan Chafia agar duduk di pangkuannya. "Aku hanya sedang mengevaluasi perjalanan waktu kita, Chafia. Rasanya baru kemarin kita duduk berhadapan di ruangan ini dengan status yang terikat oleh paksaan kontrak bisnis, saling curiga, dan dibayangi ancaman konspirasi keluarga."

Chafia melingkarkan kedua tangannya di leher Arkan, menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu sambil menghela napas panjang penuh kelegaan. "Dan siapa sangka, lembar kontrak dingin yang awalnya dibuat atas dasar keterpaksaan itu justru menjadi jembatan takdir yang menyatukan dua hati kita secara nyata."

"Kontrak bisnis itu memang palsu dan penuh tekanan, tapi perasaan yang tumbuh di antara kita sejak hari pertama di persimpangan galeri itu adalah hal paling nyata yang pernah kumiliki," bisik Arkan lembut tepat di dekat telinga Chafia.

Wanita itu mendongak, menatap manik mata Arkan yang memancarkan ketulusan mendalam. "Kalau kita tarik garis waktu ke belakang, betapa banyak air mata, ketakutan, dan badai yang harus kita lewati sebelum sampai di titik damai ini, Arkan."

Arkan mengeratkan pelukannya di pinggang Chafia, mengecup sekilas puncak kepala wanita itu. "Semua badai itu diperlukan untuk menguji seberapa kuat ikatan kita, Chafia. Tanpa evaluasi waktu ini, kita tidak akan pernah tahu bahwa yang kita miliki sekarang jauh lebih berharga daripada sekadar harta dan tahta korporat."

❖ ❖ ❖

Suasana ruang kerja kembali sunyi sejenak, diisi oleh alunan musik instrumental lembut yang mengalir dari pemutar audio portabel di sudut ruangan. Chafia merapikan letak cangkir teh di hadapan mereka, lalu menatap lembaran salinan kontrak awal yang terbingkai rapi di atas meja.

"Ingatkah kamu saat pertama kali kita berdebat hebat di galeri kecilku gara-gara revisi klausul kerja sama proyek seni pesantren?" tanya Chafia sambil tertawa kecil, mengenang kembali memori awal perjumpaan mereka yang penuh percikan ketegangan.

Arkan ikut tersenyum lebar, mengingat kembali hari di mana ia datang dengan segala arogansi korporat muda yang kaku. "Tentu saja aku ingat. Saat itu aku berpikir kamu adalah kurator keras kepala yang sama sekali tidak tahu cara kerja dunia bisnis modern."

"Dan saat itu aku mengira kamu adalah CEO dingin yang arogan, egois, dan hanya peduli pada angka-angka keuntungan di atas kertas tanpa mempedulikan nilai kemanusiaan," balas Chafia meledek dengan nada bercanda.

"Tapi teguran kerasmu hari itu justru membuka mataku, Chafia," ujar Arkan dengan suara berubah serius, menatap lekat-lekat mata wanita di depannya. "Kamu mengajarkan kepadaku bahwa bisnis tanpa nilai moral dan sentuhan kemanusiaan hanyalah bentuk kehancuran yang tertunda. Kamu mengubah cara pandangku terhadap hidup."

Chafia meredakan tawanya, merasakan kehangatan menjalar di dadanya mendengar pengakuan tulus dari Arkan. "Kita saling mengubah satu sama lain, Arkan. Aku yang tadinya lebih suka menyendiri di duniamu yang tenang, kini harus belajar berdiri di samping seorang pewaris korporat besar di hadapan sorotan publik."

"Dan kamu melakukannya dengan sangat sempurna, tanpa kehilangan jati dirimu sedikit pun," puji Arkan tulus, meraih tangan Chafia dan mengecup lembut punggung jemarinya. "Ikatan kita hari ini bukan lagi ikatan di atas kertas kontrak yang bisa diputus sewaktu-waktu oleh hukum perdata, melainkan ikatan jiwa yang ditempa oleh waktu dan ujian hidup."

Lihat selengkapnya