Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #56

Niat Baru

Niat Baru untuk Memulai Semuanya dari Nol---

Suara deburan ombak kecil di pesisir utara Jawa terdengar begitu syahdu, berpadu dengan deru angin malam yang lembut membelai dedaunan pohon kelapa di halaman Pondok Pesantren Al-Hikmah. Di bawah temaram lampu pilar surau kayu tua, Chafia duduk bersila di atas tikar pandan beralaskan permadani tipis. Ia mengenakan gamis putih polos dan kerudung abu-abu lembut yang menjuntai tenang. Di hadapannya, secangkir teh poci hangat mengepulkan uap tipis beraroma melati, menghadirkan kehangatan di tengah hawa dingin lereng pegunungan Kendal yang merambat perlahan.

Setelah melalui badai intrik korporat yang melelahkan di ibu kota, rentetan teror fisik, hingga pertarungan batin yang menguras emosi, Chafia dan Arkan akhirnya memutuskan untuk mengambil cuti panjang dari hiruk-pikuk aktivitas korporasi. Mereka memilih pulang ke tempat di mana segala ketenangan jiwa bermula—menghirup kembali udara desa yang bersih dan menjauh sejenak dari bayang-bayang menara kaca SCBD.

"Kamu melamun lagi, Fia," suara bariton Arkan memecah kesunyian malam. Pria berpeci hitam itu melangkah mendekati serambi surau sambil membawa sebuah nampan kecil berisi piring pisang goreng hangat buatan pengurus dapur pesantren, lalu duduk bersila di samping istrinya.

Chafia menoleh, tersenyum tipis sambil menerima cangkir teh dari tangan suaminya. "Aku tidak sedang melamun, Mas. Aku hanya sedang merenungi perjalanan panjang yang sudah kita lalui. Rasanya seperti mimpi... bagaimana kita bisa selamat dari semua kehancuran itu."

Arkan tersenyum teduh, mengambil sepotong pisang goreng lalu meletakkannya di piring kecil Chafia. "Itu bukan mimpi, Fia. Itu adalah bukti nyata kekuasaan Allah. Setiap badai yang datang diuji bukan untuk membinasakan kita, melainkan untuk meruntuhkan kesombongan dan mengajari kita cara merajut kembali hidup dari nol dengan niat yang jauh lebih bersih."

Chafia menunduk, menatap permukaan teh di dalam cangkirnya yang bergeming. Kata-kata Arkan merasuk hingga ke relung hatinya yang paling dalam. Sejak ia menyerahkan kendali penuh operasional perusahaan kepada sistem pengawasan profesional yang bersih dan mendermakan sebagian besar aset pribadinya untuk pengembangan yayasan pesantren, ada ruang kosong yang luar biasa lapang di dalam dadanya—sebuah kelegaan hampa harta, namun kaya akan kedamaian batin.

"Niat baru, ya..." bisik Chafia lirih, mendongak menatap suaminya dengan sorot mata berbinar. "Jika kita benar-benar memulai semuanya dari nol, Mas, apa yang harus kita bangun pertama kali di atas reruntuhan masa lalu itu?"

Arkan meletakkan cangkirnya perlahan, menatap lurus ke dalam mata istrinya dengan pandangan yang penuh kelembutan dan wibawa. "Kita membangun niat, Fia. Karena bangunan rumah tangga dan amal apa pun di dunia ini tidak akan pernah kokoh jika fondasi pertamanya bukan karena mencari ridha Allah semata, bukan lagi demi pengakuan manusia atau kejayaan materi."

Di titik pemicu ini, perenungan mendalam mengenai makna hidup dan lembaran baru kehidupan pascakrisis menjadi titik tolak transformasi batin bagi Chafia dan Arkan di tanah kelahiran sang suami.

❖ ❖ ❖

Keesokan paginya, matahari terbit dari balik bukit Kendal memancarkan cahaya keemasan yang menghangatkan pelataran pesantren. Para santri tampak sibuk mondar-mandir membawa kitab menuju surau, melantunkan hafalan Al-Qur'an dengan suara merdu yang berbalas-balasan. Chafia yang mengenakan pakaian sederhana berjalan berdampingan dengan Arkan menyusuri jalan setapak desa yang dikelilingi oleh hamparan sawah hijau membentang luas.

"Udara di sini sungguh berbeda, Mas," ucap Chafia sambil menghirup udara pagi yang segar, merentangkan tangannya pelan menikmati kebebasan yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun di Jakarta. "Tidak ada suara klakson kendaraan yang bising, tidak ada laporan audit darurat yang mencemaskan, dan tidak ada lagi ketakutan akan pengkhianatan."

Arkan tersenyum, merangkul bahu istrinya dengan penuh kehangatan. "Itulah indahnya hidup bersahaja, Fia. Manusia sering kali merumuskan kebahagiaan dengan rumit melalui kepemilikan harta yang berlimpah, padahal kebahagiaan sejati itu sangat sederhana: hati yang lapang, jiwa yang qana'ah, dan rasa syukur yang tidak pernah putus."

Tiba-tiba, langkah mereka terhenti di dekat jembatan kayu kecil yang melintasi sungai jernih. Di sana, beberapa anak desa berseragam sekolah dasar berlari riang gembira sambil melambaikan tangan ke arah Arkan.

"Ustadz Arkan! Selamat pagi, Ustadz!" seru anak-anak itu serempak dengan senyuman lebar.

Arkan membalas sapaan mereka dengan lambaian tangan dan senyuman ramah yang menyejukkan. "Pagi anak-anak! Jangan telat ke sekolah ya, rajinlah belajar!"

Chafia memperhatikan interaksi tersebut dengan mata berkaca-kaca. Di mata warga desa dan anak-anak kecil itu, Arkan bukanlah seorang figur publik yang dipuja karena kekayaan atau jabatan tinggi, melainkan seorang guru panutan yang tulus mengabdi tanpa pamrih. Kesederhanaan suaminya menampar kesadaran Chafia tentang arti kemuliaan yang sesungguhnya.

"Kamu dicintai banyak orang karena keikhlasanmu, Mas," bisik Chafia tulus, menggenggam jemari suaminya erat-erat.

Arkan menoleh, menatap istrinya dengan lembut. "Bukan saya yang hebat, Fia, melainkan Allah yang menanamkan rasa cinta itu di hati mereka. Dan sekarang, mari kita gunakan sisa hidup kita untuk menebar manfaat yang sama—memulai dari nol, membangun panti belajar sederhana di desa ini untuk anak-anak yang kurang mampu."

Ide brilian dan mulia itu langsung menyala terang di kepala Chafia. Selama ini kekayaannya terkubur di dalam pusaran saham korporasi yang dingin, dan gagasan untuk menyalurkannya langsung bagi pendidikan anak-anak desa adalah bentuk sedekah jariyah yang paling sempurna untuk membersihkan harta masa lalunya.

"Aku setuju seratus persen, Mas," ucap Chafia antusias, matanya berbinar penuh semangat baru. "Kita dirikan yayasan pendidikan mandiri di sini, menggunakan sisa dana pribadiku secara transparan!"

Namun, di tengah gelora semangat baru tersebut, langkah mereka mendadak terhenti ketika seorang pengurus senior pesantren berlari tergesa-gesa menghampiri mereka dengan membawa sepucuk surat mendesak dari kantor pos kabupaten.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya