Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #57

Chafia Belajar Mengenal

Chafia Belajar Mengenal Kesederhanaan Hidup Pesantren---

Udara pagi di kawasan pesantren tua di pinggiran kota Bogor menyapukan kesejukan yang menusuk tulang, membawa serta aroma embun pagi yang berpadu dengan wangi tanah basah dan daun-daun mahoni yang gugur. Di halaman asrama putri yang luas beralaskan paving block bersih, puluhan santriwati tampak berbaris rapi membawa sapu lidi, bersiap memulai aktivitas harian mereka. Namun, di antara barisan gadis-gadis muda berkerudung polos itu, tampak sosok seorang wanita paruh baya dengan balutan gamis hitam sederhana dan kerudung abu-abu yang dikenakan agak kaku. Ia adalah Chafia—mantan direktur pengembangan bisnis Menara Sapphire yang dulu selalu tampil glamor dengan balutan busana desainer ternama dan sepatu hak tinggi bermerek.

Kini, di tempat ini, tidak ada lagi perhiasan berlian yang berkilau di jemarinya, tidak ada lagi tas tangan mewah bermerek internasional, dan tidak ada lagi aroma parfum Prancis yang menyengat. Sejak putusan sela pengadilan dan sanksi sosial yang diterimanya akibat keterlibatannya dalam faksi Surya, Chafia memilih mengasingkan diri atas saran keluarga besar. Alih-alih mendekam dalam kehampaan apartemen mewahnya di ibu kota yang terasa mencekam, ia memutuskan untuk menjalani masa pemulihan batin di bawah pengawasan langsung Kyai Ibrahim di pesantren tersebut—sebuah tempat yang dulunya ia pandang sebelah mata sebagai dunia yang tertinggal dan kuno.

"Chafia, pegang sapunya dengan rileks, jangan terlalu kaku seperti sedang memegang kendali rapat dewan direksi," tegur seorang pengurus asrama santriwati bernama Ustadzah Amina ramah, tersenyum hangat kepada Chafia.

Chafia menelan ludah dengan susah payah, merasakan telapak tangannya yang halus mulai lecet karena gesekan tangkai sapu lidi bambu. Ia menarik napas panjang, berusaha menahan gejolak harga dirinya yang sejak kecil terbiasa dilayani layaknya ratu korporat.

"Baik, Ustadzah," jawab Chafia pelan dengan suara yang terdengar serak, mencoba menyesuaikan diri dengan realitas baru yang jauh dari kemewahan dunia lamanya.

Sejak kedatangannya tiga hari lalu, Chafia memang sengaja ditempatkan di kamar asrama sederhana bersama para santriwati tingkat akhir, bukan di wisma tamu khusus. Kyai Ibrahim sengaja memberikan titah tersebut agar mantan wanita terkuat di Menara Sapphire itu bisa merasakan langsung bagaimana kehidupan dijalankan tanpa atribut kekayaan, jabatan, dan ambisi duniawi yang selama ini meracuni jiwanya.

"Apakah kamu sudah mulai terbiasa dengan jadwal subuh di sini, Mba Chafia?" tanya seorang santriwati berusia belasan tahun yang berdiri di sebelah Chafia, menyapa dengan senyuman tulus tanpa ada secuil pun rasa sinis di wajah mudanya.

Chafia berhenti menyapu sejenak, menatap santriwati muda itu dengan pandangan bingung bercampur heran. Di dunia korporat tempat ia dibesarkan, senyuman seseorang biasanya selalu menyimpan udang di balik batu atau kepentingan tersembunyi. Namun di sini, ketulusan polos terpancar nyata dari mata anak-anak pesantren tersebut.

"Masih... masih beradaptasi, Dik," jawab Chafia terbata-bata. "Di kota tempat tinggal saya dulu, jam segitu saya biasanya baru tidur setelah lembur mengurus rapat direksi."

"Wah, kalau di sini jam segitu malaikat rahmat sedang membagikan rezeki subuh, Mba," balas santriwati itu tertawa renyah, kembali melanjutkan sapuannya di atas halaman yang mulai bersih.

Chafia merenungkan kalimat sederhana itu dalam-dalam. Selama puluhan tahun hidupnya dihabiskan untuk mengejar angka pertumbuhan laba, saham, kekuasaan, dan pengakuan sosial yang fana. Ia merasa menjadi wanita paling berkuasa di Menara Sapphire, hingga akhirnya ambisi buta itu runtuh berkeping-keping oleh audit forensik dan vonis hukum yang mematikan kariernya. Kini, di tengah halaman pesantren yang sepi dan dingin, ia dihadapkan pada cermin kehidupan yang paling jujur: kesederhanaan yang menenangkan batin.

❖ ❖ ❖

Pukul 08.00 WIB, aktivitas pagi di pesantren berlanjut ke dapur umum pondok. Chafia yang mengenakan apron kain kain motif bunga usang ditugaskan membantu para santri senior menyiapkan bahan makanan untuk makan siang ratusan santri. Di hadapannya terdapat baskom besar berisi berkarung-karung bawang merah dan cabai yang harus dikupas dan diiris tipis.

Bagi Chafia yang seumur hidupnya tidak pernah menyentuh pisau dapur atau mengupas bawang sendiri—karena semua urusan rumah tangga ditangani oleh asisten rumah tangga di penthouse mewahnya—pekerjaan ini terasa bagaikan siksaan fisik yang nyata. Air matanya langsung tumpah bukan karena kesedihan batin, melainkan karena perihnya uap bawang merah yang mengiris matanya.

"Perih ya, Mba Chafia?" tanya seorang ibu juru masak pesantren sambil terkekeh ringan, menyodorkan sehelai tisu basah kepada Chafia.

Chafia menerima tisu tersebut dengan tangan gemetar, menyeka air matanya yang bercampur keringat di dahi. "Sangat perih, Bu... saya bahkan belum pernah menyentuh bawang sebanyak ini seumur hidup saya."

"Dapur umum pesantren ini mengajarkan kita satu hal penting, Mba," ucap juru masak itu bijak sambil terus mengaduk panci besar berisi sayur lodeh di atas tungku kayu bakar. "Di hadapan periuk nasi, semua orang sama derajatnya. Tidak ada direktur, tidak ada komisaris, tidak ada orang kaya atau orang miskin. Semuanya lapar dan membutuhkan makanan yang sama."

Chafia tertegun mendengar kalimat sederhana namun sarat makna itu. Ia meletakkan pisaunya sejenak, menatap kedua telapak tangannya yang kini tampak memerah dan berbau tajam rempah dapur. Di masa lalu, ia sering meremehkan orang-orang kecil, menganggap posisi manajerial tingginya membuat ia berada di kasta yang lebih tinggi daripada karyawan biasa. Hari ini, di dapur pesantren yang sederhana ini, sekat-sekat kesombongan itu runtuh tak bersisa.

"Saya dulu mengira kekuasaan dan jabatan tinggi adalah segalanya," ucap Chafia lirih, suaranya hampir tak terdengar di antara suara gemerincing peralatan dapur. "Saya menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan Arkan dan Tari, mengira dengan begitu saya bisa mengembalikan kejayaan keluarga besar di bawah kendali saya."

Ibu juru masak itu menoleh, menatap Chafia dengan sorot mata yang penuh kelembutan keibuan. "Ambisi itu seperti air laut, Nak Chafia. Semakin diminum, semakin haus rasanya. Manusia sering kali lupa bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada seberapa banyak kekayaan yang kita kuasai, tetapi pada seberapa ikhlas hati kita menerima apa yang telah ditakdirkan."

Lihat selengkapnya