Kunjungan Hangat Bersama Zahra dan Ustadz Husein---
Suara rintik hujan gerimis yang jatuh menimpa dedaunan hijau di halaman belakang rumah kaca terdengar begitu syahdu, menciptakan suasana sore yang tenang dan menyejukkan hati. Di ruang tamu berlantai kayu jati yang hangat dengan aroma teh melati segar, Arkan duduk di sofa beludru abu-abu bersama Chafia, merapikan beberapa album foto keluarga lama yang baru saja diturunkan dari loteng. Di atas meja kopi marmer putih, sepiring kue lapis legit buatan rumah tersaji rapi menemani cangkir-cangkir keramik yang mengepulkan uap hangat.
Pintu utama rumah terdengar diketuk tiga kali dengan lembut, disusul oleh suara salam yang akrab dan menenangkan dari teras luar. Maya, yang sedang merapikan meja makan di dekat ruang keluarga, segera bergegas membukakan pintu kayu utama tersebut.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Silakan masuk, Ustadz Husein, Zahra!" sapa Maya ramah sambil menyambut kedatangan dua orang tamu istimewa yang datang mengenakan payung hitam.
Arkan dan Chafia sontak berdiri dari sofa untuk menyambut tamu mereka. Ustadz Husein, seorang ulama kharismatik berpenampilan sederhana dengan jubah abu-abu terang dan peci putih, melangkah masuk sambil tersenyum hangat, didampingi oleh Zahra—adik perempuan angkat sekaligus sahabat baik Chafia yang mengenakan gamis rajut berwarna maroon lembut.
"Alhamdulillah, kami akhirnya bisa berkunjung ke rumah baru kalian, Arkan, Chafia," ucap Ustadz Husein seraya merangkul pundak Arkan sekilas dengan penuh keakraban. "Rumah ini terasa begitu damai, memancarkan keberkahan setelah sekian banyak badai yang kalian lewati bersama."
Chafia langsung memeluk Zahra erat-erat dengan mata berkaca-kaca penuh rasa syukur. "Senang sekali rasanya melihat kalian berdua bisa meluangkan waktu berkunjung ke sini di tengah jadwal dakwah Ustadz yang begitu padat. Silakan duduk, mari hangatkan diri dengan secangkir teh jahe."
Mereka berempat kemudian duduk melingkar di ruang tamu yang nyaman. Suasana langsung terasa akrab dan penuh kekeluargaan, jauh dari kesan kaku dunia korporat atau ketegangan ruang sidang yang beberapa minggu lalu menghiasi hari-hari Arkan dan Chafia. Ustadz Husein meletakkan tas jinjing kulit kecilnya di samping kursi, lalu mengedarkan pandangan kagum ke sekeliling ruangan yang dipenuhi oleh lukisan-lukisan dinding karya Chafia.
"Lukisan-lukisan ini benar-benar menghidupkan suasana rumah, Chafia," puji Ustadz Husein tulus. "Seni yang lahir dari hati yang sabar dan ikhlas akan selalu memancarkan ketenangan bagi siapa pun yang memandangnya."
"Terima kasih banyak, Ustadz," jawab Chafia tersenyum simpul, merapikan cangkir di hadapan tamunya. "Semua karya ini tercipta justru setelah saya belajar banyak tentang arti keikhlasan dari setiap ujian hidup yang kami lalui."
Arkan menatap Chafia sejenak dengan sorot mata penuh cinta, lalu beralih menatap Ustadz Husein. "Kehadiran Ustadz dan Zahra hari ini adalah berkah tersendiri bagi kami. Terutama karena kami ingin meminta nasihat dan doa restu secara langsung untuk langkah awal kehidupan rumah tangga kami yang insya Allah akan segera disahkan dalam ikatan pernikahan bulan depan."
Zahra bertepuk tangan kecil pelan, wajahnya berseri-seri penuh kebahagiaan mendengar ucapan Arkan. "Wah, akhirnya setelah sekian lama saling mendukung dalam diam, kalian menetapkan tanggal juga! Aku sudah tidak sabar ingin membantu menyiapkan dekorasi pernikahannya, Chafia."
Ustadz Husein tersenyum lebar, mengangguk bijak menanggapi niat baik tersebut. "Alhamdulillah, berita yang sangat membahagiakan. Pernikahan bukan sekadar penyatuan dua insan, Arkan, melainkan sebuah perjanjian agung di hadapan Allah untuk saling membimbing menuju surga-Nya."
❖ ❖ ❖
Obrolan hangat di sore yang bergemercik air hujan itu mengalir dengan santai, menyentuh berbagai topik mulai dari perjalanan spiritual, makna kesabaran dalam menghadapi cobaan hidup, hingga rencana kegiatan sosial yang akan diselenggarakan di yayasan yatim piatu binaan Ustadz Husein. Chafia tampak sangat antusias mendengarkan penjelasan Zahra mengenai program pelatihan seni lukis gratis bagi anak-anak kurang mampu di pinggiran kota.
"Kamu tahu, Arkan?" kata Zahra sambil mencicipi sepotong kue lapis legit di piring kecilnya. "Chafia dulunya sering bercerita kepadaku betapa kaku dan seriusnya kamu saat pertama kali ia temui di kantor keuangan itu. Tapi sekarang, melihat kalian berdua duduk berdampingan dengan senyuman selebar ini, rasanya seperti melihat akhir cerita film drama yang sangat manis."
Arkan tertawa kecil mendengar penuturan Zahra, lalu melirik Chafia di sampingnya. "Memang benar apa kata Zahra. Dulu duniaku hanya berputar di sekitar angka-angka neraca keuangan dan kecurigaan terhadap orang lain. Kalau bukan karena keteguhan hati Chafia yang terus mengingatkanku pada nilai-nilai kemanusiaan, mungkin aku sudah kehilangan arah di tengah ambisi korporat."
Ustadz Husein menyerap teh jahe hangatnya perlahan, lalu meletakkan cangkirnya kembali ke atas piring kecil dengan gerakan tenang. "Itulah rahasia takdir Allah, Arkan. Seringkali Dia mempertemukan dua jiwa yang tampak berbeda latar belakang—satu di dunia angka yang dingin, satu lagi di dunia seni yang penuh warna—bukan untuk saling mencederai, melainkan agar keduanya saling melengkapi kekurangan masing-masing."
Chafia menunduk sejenak, meresapi setiap kata bijak yang meluncur dari lisan Ustadz Husein. "Kami memang sempat merasa bahwa badai perseteruan perusahaan kemarin adalah ujian terberat dalam hidup kami, Ustadz. Tapi kini kami menyadari bahwa ujian itu justru menjadi pemurni niat kami sebelum melangkah ke jenjang yang lebih suci."
"Ujian dan kesulitan di dunia ini hanyalah cara Allah mencuci bersih hati kita dari sifat sombong dan ketergantungan pada selain-Nya," ujar Ustadz Husein dengan nada suara yang lembut namun berwibawa. "Ketika kalian mampu melewati masa-masa kelam itu dengan kejujuran dan integritas, maka pintu-pintu keberkahan berikutnya akan dibuka seluas-luasnya."
Zahra mengangguk setuju, matanya berbinar menatap Chafia. "Dan aku saksi hidup bagaimana kalian berdua saling menguatkan di malam-malam paling menegangkan saat dokumen penting itu harus diselamatkan dari gudang pelabuhan."