Pertobatan Paman Surya di Usia Senja---
Senja merangkak perlahan di ufuk barat kota Jakarta, menyisakan bias cahaya jingga kemerahan yang memantul di kaca-kaca jendela apartemen mewah milik Paman Surya di lantai dua puluh empat. Udara sore berhembus melalui ventilasi balkon yang terbuka, membawa kesejukan semu di tengah penatnya atmosfer ibu kota. Di dalam ruang keluarga yang ditata dengan koleksi barang-barang antik bernilai seni tinggi, Paman Surya duduk termenung di atas kursi goyang kesayangannya.
Pria paruh baya berambut putih perak itu mengenakan baju koko putih berbalut sarung tenun cokelat tua. Di hadapannya, sebuah meja kayu jati tua menampakkan Al-Qur'an berukuran sedang yang terbuka di halaman surat Al-Mulk, lembarannya tampak usang oleh frekuensi bacaan yang rutin ia tunaikan setiap selesai salat magrib. Namun, malam ini pandangan mata pria sepuh itu tidak tertuju pada ayat-ayat suci di hadapannya, melainkan menerawang jauh pada bayang-bayang masa lalunya yang kelam—sebuah rahasia besar yang selama puluhan tahun ia pendam rapat-rapat di balik topeng kedermawanan dan wibawa seorang bankir senior.
Pintu apartemen bergeser pelan, disusul oleh derap langkah kaki lembut seorang asisten rumah tangga paruh baya yang membawa nampan berisi teh hangat dan piring kecil berisi kurma. "Silakan diminum tehnya, Tuan Surya," ucap wanita itu ramah sebelum meletakkan nampan di atas meja kecil di samping kursi goyang.
"Terima kasih, Siti. Letakkan saja di situ, dan tolong jangan biarkan siapa pun mengganggu saya untuk satu jam ke depan," jawab Paman Surya dengan suara serak yang terdengar begitu berat.
"Baik, Tuan," balas Siti sopan sebelum membalikkan badan dan meninggalkan ruangan itu, menutup pintu secara perlahan hingga menyisakan kesunyian yang pekat di dalam ruang keluarga.
Paman Surya menghela napas panjang, tarikan napas yang terdengar seperti rintihan jiwa yang lelah menanggung beban moral. Tangannya yang keriput perlahan meraba saku dada bajunya, mengeluarkan sehelai surat tua berkertas kuning kecokelatan yang dilipat rapi. Surat itu adalah surat perjanjian rahasia dari tiga puluh tahun lalu—dokumen yang membuktikan bahwa keterlibatan awalnya dalam kehancuran bisnis ayah Chafia bukanlah ketidaksengajaan, melainkan sebuah konspirasi busuk yang ia biarkan terjadi demi keuntungan finansial pribadinya di masa muda.
"Ya Allah..." bisik Paman Surya lirih, air matanya menetes perlahan membasahi pipinya yang berkerut. "Ampuni aku... ampunilah dosa-dosaku di masa lalu yang telah menghancurkan hidup sahabat terbaikku sendiri."
Selama ini, di hadapan Aryo dan Chafia, ia tampil sebagai pahlawan penyelamat, sebagai orang tua bijak yang membimbing mereka keluar dari badai hukum. Namun, di hadapan cermin nuraninya sendiri, Paman Surya tahu persis bahwa pertobatan di usia senja tidak akan pernah sempurna sebelum ia mengakui seluruh keburukan moral yang pernah ia lakukan di masa lalu.
❖ ❖ ❖
Ketukan pintu apartemen yang terdengar tiga kali berturut-turut memecah keheningan ruang keluarga. Paman Surya segera menyeka air matanya dengan ujung lengan baju, merapikan letak sarungnya, lalu berdehem pelan untuk menjernihkan suaranya.
"Masuklah, pintu tidak dikunci," ucap Paman Surya dengan nada tenang.
Pintu terbuka lebar, menampilkan sosok Aryo dan Chafia yang berdiri berdampingan dengan senyuman hangat di wajah mereka. Aryo mengenakan kemeja kasual biru muda, sementara Chafia tampak anggun mengenakan gamis abu-abu muda berpadu kerudung pashmina senada. Di tangan Chafia terdapat sebuah kantong kertas berisi makanan kesukaan Paman Surya—kue lumpur tradisional buatan rumah.
"Assalamu'alaikum, Paman!" sapa Chafia ceria sambil melangkah masuk mendekati kursi goyang, lalu mencium takzim punggung tangan pria sepuh tersebut.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah, anak-anakku," balas Paman Surya tersenyum ramah, meskipun secercah kegelisahan masih sempat tertangkap basah oleh mata tajam Aryo di balik senyuman itu.
Aryo menyusul melangkah masuk, menyalami Paman Surya dengan erat. "Bagaimana kabar Paman sore ini? Kami sengaja mampir membawakan kue kesukaan Paman usai memantau perkembangan kantor cabang baru di kawasan selatan."
"Kabar Paman baik, Nak Aryo, Chafia. Silakan duduk," jawab Paman Surya menunjuk sofa panjang di hadapannya. "Paman justru merasa terkejut dan bahagia kalian menyempatkan diri mampir ke apartemen tua ini di tengah kesibukan perusahaan yang semakin padat."
Chafia meletakkan kantong kertas di atas meja, lalu duduk berdampingan dengan suaminya. Matanya menangkap Al-Qur'an terbuka dan secarik kertas tua yang tergeletak di dekat meja kecil. "Paman sedang membaca Al-Qur'an tadi ya? Maaf kalau kedatangan kami mengganggu waktu istirahat Paman."
"Sama sekali tidak mengganggu, Chafia," sanggah Paman Surya cepat, menggelengkan kepalanya perlahan. "Justru kehadiran kalian berdua adalah penyejuk hati bagi Paman di usia senja seperti sekarang ini. Duduklah lebih dekat, ada hal penting yang ingin Paman bicarakan kepada kalian berdua."
Nada suara Paman Surya yang mendadak serius membuat Aryo dan Chafia saling berpandangan sejenak. Suasana di dalam ruang keluarga yang tadinya santai mendadak berubah menjadi hening dan penuh antisipasi.