Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #60

Permintaan Maaf Fauzan

Permintaan Maaf Fauzan yang Diterima dengan Lapang Dada.

Matahari sore membiaskan cahaya jingga kemerahan ke atas permukaan lantai marmer di lobi utama gedung Wijaya Group, memantulkan bayangan panjang dari jajaran pilar-pilar kokoh yang berdiri megah. Suasana koridor lantai dasar tampak lengang dan tenang, kontras dengan hiruk-pikuk kesibukan pegawai yang biasanya terjadi di jam-jam kepulangan kantor. Di dekat area air mancur buatan berdesain modern, Arkan berdiri bersama Chafia setelah menyelesaikan sesi kurasi galeri seni terakhir mereka pekan ini. Keduanya mengenakan pakaian semi-formal; Arkan dengan kemeja abu-abu gelap berlengan digulung, sementara Chafia mengenakan blus putih berpadu rok panjang berwarna pastel yang memancarkan keanggunan.

"Pameran seni budaya kita bersama pesantren minggu ini benar-benar sukses besar, Arkan," kata Chafia sambil merapikan tali tas selempangnya, menatap ke arah galeri mini yang terletak di sudut lobi. "Bahkan para kolektor dari luar negeri ikut mengapresiasi manuskrip kuno yang dibawa oleh Fikri."

Arkan tersenyum tipis, merangkul pundak Chafia dengan lembut sambil memandangi hasil kerja keras mereka selama beberapa bulan terakhir. "Semua itu berkat ketekunan dan tangan dinginmu, Chafia. Kamu berhasil menjembatani dunia seni independen dengan warisan korporat tanpa cela."

"Kita melakukannya bersama-sama, Arkan," balas Chafia hangat, mendongak menatap wajah pria di sisinya dengan sorot mata penuh cinta.

Tiba-tiba, langkah kaki seseorang yang terdengar ragu-ragu mendekat dari arah pintu utama lobi. Suara pantulan pantofel di atas lantai marmer itu membuat Arkan dan Chafia mengalihkan pandangan mereka secara bersamaan ke arah sumber suara. Di bawah temaram cahaya senja, sesosok pria berjas gelap dengan potongan rambut agak berantakan dan bahu sedikit membungkuk berdiri terpaku. Wajahnya tampak pucat, menyimpan kelelahan batin yang amat mendalam serta bayang-bayang masa lalu yang kelam.

Itu adalah Fauzan—mantan rival sekaligus sepupu jauh yang dulu pernah mencoba meruntuhkan seluruh imperium bisnis keluarga Wijaya melalui berbagai intrik busuk dan konspirasi keji.

Chafia menahan napas sejenak, tangannya secara insting mencengkeram lengan kemeja Arkan dengan erat. "Arkan... itu Fauzan."

Arkan tidak langsung bereaksi dengan amarah atau ketegangan seperti yang biasa terjadi di masa lalu. Ia berdiri tenang, menatap sepupunya dengan sorot mata yang datar namun menyiratkan ketegangan batin yang perlahan mencair. Fauzan menarik napas panjang, melangkah mendekat perlahan dengan tangan gemetar di sisi tubuhnya, lalu berhenti berjarak tiga meter dari tempat mereka berdiri.

"Arkan... Chafia," suara Fauzan terdengar parau, serak, dan jauh lebih lemah dari keangkuhan yang biasa ia tunjukkan sewaktu memegang jabatan direksi di masa lalu. "Maaf kalau aku mengganggu waktu kalian sore ini."

Arkan melepaskan rangkulannya dari pundak Chafia, lalu maju setengah langkah menghadapi pria yang pernah menjadi ancaman terbesar dalam hidupnya. "Apa yang membuatmu datang ke sini lagi, Fauzan? Persidangan dan masa penahananmu sudah lama selesai. Untuk apa kamu mencariku di gedung ini?"

Fauzan menundukkan kepalanya, memandang lantai marmer di hadapannya dengan rasa malu yang teramat sangat. "Aku tahu aku tidak punya hak untuk berdiri di hadapan kalian setelah semua pengkhianatan dan kehancuran yang kulakukan sepuluh tahun lalu... Tapi aku datang bukan untuk menuntut atau merebut apapun lagi, Arkan."

Chafia memperhatikan gerak-gerik Fauzan dengan saksama, merasakan getaran penyesalan yang jujur terpancar dari nada bicara pria itu. "Lalu apa tujuanmu datang kemari, Fauzan?" tanyanya pelan mewakili keheningan di antara mereka.

Fauzan mendongak perlahan, menatap mata Arkan dan Chafia bergantian dengan air mata tipis yang mulai menggenang di sudut matanya. "Aku datang untuk meminta maaf secara langsung... dari lubuk hatiku yang paling dalam."

❖ ❖ ❖

Suasana di lobi utama mendadak terasa begitu hening, seolah deru kendaraan di luar gedung terserap oleh kebisuan emosional di antara ketiganya. Arkan tertegun sejenak, menatap lekat-lekat manik mata Fauzan yang basah oleh air mata penyesalan. Bayangan masa lalu tentang kebencian keluarga, perebutan kekuasaan, hingga ancaman sengketa hukum berkelebat sekilas di kepala Arkan.

"Permintaan maaf?" ucap Arkan dengan nada suara yang tenang, nyaris tanpa emosi. "Kamu menghancurkan reputasi keluarga, memalsukan dokumen, dan mencoba menjatuhkan perusahaan yang dibangun kakek kita dengan cara-cara kotor, Fauzan. Apakah kata maaf saja cukup untuk menghapus semua luka itu?"

"Aku tahu tidak ada kata maaf yang bisa menebus dosa-dosaku di masa lalu, Arkan!" suara Fauzan pecah, isak tangis tertahan lolos dari bibirnya yang bergetar. Ia menjatuhkan kepalanya sedikit, meremas kedua telapak tangannya sendiri karena rasa bersalah yang menghimpit dadanya. "Dendam keserakahan keluargaku di masa lalu membutakan mataku. Aku pikir dengan merebut kursi direktur utama darimu, aku bisa membalas ketidakadilan kakek kita terhadap kakekku dulu... Tapi ternyata aku salah besar. Ambisi itu justru menghancurkan hidupku sendiri hingga aku kehilangan segalanya."

Chafia merasa iba melihat kerapuhan di hadapannya. Ia menyentuh lengan Arkan pelan, memberikan isyarat agar pria itu mendengarkan lebih jernih. "Arkan, lihatlah dia. Luka masa lalu tidak akan pernah sembuh jika kita terus memelihara dendam di dalam hati kita."

"Aku tidak memelihara dendam, Chafia," jawab Arkan pelan, menoleh sekilas ke arah wanita di sisinya sebelum kembali menatap tajam ke arah Fauzan. "Tapi keadilan dan kepercayaan adalah dua hal yang tidak bisa dibeli dengan sekadar air mata penyesalan di ujung jalan."

Lihat selengkapnya