Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah

Amrullah Ibrahim
Chapter #62

Perjalanan Waktu

Perjalanan Waktu yang Mengubah Pandangan Hidup Chafia---

Mentari pagi di atas kawasan pesantren tua di pinggiran kota Bogor menyembulkan bias jingga yang hangat, menembus celah-celah dedaunan pohon mahoni dan menyinari halaman asrama yang bersih. Di teras depan kamar asrama putri, Chafia duduk bersila di atas tikar pandan sambil mengenakan gamis katun sederhana berwarna hijau lumut dan kerudung abu-abu yang melingkar longgar di kepalanya. Di hadapannya, sebuah nampan plastik kecil berisi cangkir teh poci hangat dan beberapa keping ubi rebus mengepulkan uap tipis ke udara pagi yang masih berembun.

Sudah hampir dua bulan berlalu sejak wanita itu pertama kali menginjakkan kakinya di tempat ini—sebuah tempat yang dulunya ia pandang sebelah mata sebagai dunia kuno yang tertinggal jauh dari modernitas ibu kota. Dulu, setiap detik dalam hidup Chafia dihitung berdasarkan pergerakan grafik saham, jadwal rapat dewan direksi Menara Sapphire, dan ambisi liar untuk merebut posisi puncak kekuasaan korporat. Kini, detak waktu dalam hidupnya diukur dari suara kumandang azan, derap langkah para santri yang menghafal Al-Qur'an, dan desiran angin pedesaan yang menenangkan jiwa.

"Pagi yang indah, Mba Chafia," sapa seorang santriwati senior bernama Siti yang berjalan melintas sambil membawa setumpuk kitab kuning. Gadis muda itu berhenti sejenak, melemparkan senyuman tulus yang selalu berhasil mencairkan kekakuan di hati Chafia.

Chafia mendongak, lalu membalas senyuman itu dengan kehangatan yang tulus. "Pagi juga, Siti. Mau ke perpustakaan untuk membantu Ustadzah Amina?"

"Iya, Mba. Mau merapikan inventaris kitab baru," jawab Siti ramah. "Oh ya, nanti sore jadwal Mba Chafia piket membersihkan perpustakaan utama bersama kelompok santri kelas akhir, kan?"

"Iya, Siti. Saya ingat jadwalnya," jawab Chafia mengangguk pelan.

Siti mengangguk sopan, lalu melanjutkan langkahnya. Chafia kembali menatap cangkir teh di hadapannya, meresapi keheningan pagi yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun hidup di tengah hiruk-pikuk metropolis Jakarta. Di masa lalu, pagi hari baginya adalah awal dari medan pertempuran; ia harus bangun dengan kepala dipenuhi strategi menjatuhkan lawan, perhitungan angka laba, dan ketakutan kehilangan pengaruh. Hari ini, pagi hari baginya adalah sebuah anugerah kesempatan untuk bernapas, bersyukur, dan menata kembali hati yang sempat hancur oleh keserakahan.

Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Pada minggu-minggu pertama, adaptasi dengan kehidupan pesantren adalah siksaan mental yang luar biasa bagi wanita yang terbiasa hidup dalam gelimang kemewahan penthouse dan fasilitas kelas satu. Namun, bimbingan sabar dari Kyai Ibrahim serta ketulusan interaksi dengan orang-orang di sekitarnya perlahan-lahan meruntuhkan benteng kesombongan yang dibangunnya selama puluhan tahun.

"Sedang merenungkan apa, Nak Chafia?" suara berat yang berwibawa menyapa pendengaran Chafia dari arah samping.

Chafia terperanjat kecil, lalu segera berdiri dan menunduk takzim ketika melihat Kyai Ibrahim berjalan pelan mengenakan jubah putih sederhana dan peci hitam, didampingi tongkat kayu jati kesayangannya.

"Ah, Kyai..." ucap Chafia terbata-bata, merangkapkan kedua tangannya di dada. "Saya hanya sedang menikmati udara pagi dan memikirkan betapa jauhnya perjalanan waktu yang telah saya lalui hingga bisa duduk di tempat ini."

Kyai Ibrahim berhenti di dekat teras, tersenyum ramah menatap wanita paruh baya tersebut. "Waktu adalah guru yang paling jujur, Chafia. Ia tidak pernah bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun di dunia ini, tetapi ia selalu mengajarkan arti kerendahan hati kepada siapa saja yang mau mendengarkannya dengan tulus."

Chafia menundukkan pandangannya, merasakan kehangatan dan keteduhan dari setiap kalimat yang diucapkan oleh sang kyai. "Saya baru menyadari sekarang, Kyai... betapa bodohnya saya di masa lalu. Saya menghabiskan separuh usia saya untuk mengejar kekuasaan yang fana, menghalalkan segala cara, dan memusuhi orang-orang yang sebenarnya tulus menyayangi saya, seperti Arkan dan Tari."

❖ ❖ ❖

Kyai Ibrahim melangkah naik ke teras, lalu duduk di kursi kayu kecil yang disediakan di samping meja teh Chafia. Beliau menatap lurus ke arah halaman pesantren yang mulai ramai oleh aktivitas para santri.

"Kesalahan adalah bagian dari proses penciptaan manusia, Chafia," tutur Kyai Ibrahim tenang, meletakkan tongkatnya bersandar pada dinding kayu. "Yang membedakan antara orang yang bertobat dengan orang yang tersesat adalah bagaimana ia memandang masa lalunya. Jika masa lalu dijadikan penyesalan yang melumpuhkan, itu adalah bisikan putus asa. Tetapi jika masa lalu dijadikan cermin untuk memperbaiki hari esok, itu adalah awal dari kebijaksanaan."

Chafia menarik napas panjang, merasakan beban batin yang selama ini menghimpit dadanya perlahan-lahan menguap ke udara pagi. "Selama puluhan tahun di Menara Sapphire, saya merasa diri saya adalah wanita yang paling pintar dan paling berkuasa. Setiap kali ada rapat direksi, saya selalu memastikan suara saya mendominasi seluruh ruangan. Saya mengira rasa hormat orang lain kepada saya diperoleh karena jabatan dan kekayaan saya."

"Dan sekarang, apa yang kamu rasakan setelah kehilangan semua atribut kekuasaan itu?" tanya Kyai Ibrahim lembut, menoleh menatap manik mata Chafia.

"Sekarang saya menyadari, Kyai... rasa hormat yang sejati tidak pernah bisa dibeli dengan jabatan atau ditakuti dengan ancaman," jawab Chafia jujur, suaranya sedikit bergetar. "Rasa hormat lahir dari ketulusan hati, integritas, dan bagaimana kita memperlakukan orang lain tanpa memandang status sosial mereka. Di pesantren ini, saya belajar bahwa manusia paling mulia di hadapan Allah bukanlah yang paling tinggi jabatannya di perusahaan, melainkan yang paling banyak memberikan manfaat bagi sesama."

Kyai Ibrahim tersenyum puas mendengar refleksi mendalam yang keluar dari lisan Chafia. "Alhamdulillah, perjalanan waktu telah membuka mata hati dan pikiranmu. Itulah makna hijrah yang sesungguhnya—bukan sekadar berpindah tempat dari kota besar ke desa, tetapi berpindah dari kegelapan ego pribadi menuju cahaya keikhlasan."

Chafia meresapi setiap butir nasihat tersebut dengan penuh takzim. Ia teringat kembali pada hari-hari terakhirnya di Jakarta sebelum memutuskan datang ke pesantren—hari-hari di mana ia merasa dunianya runtuh ketika audit forensik Zahra membongkar seluruh rekayasa keuangannya dan vonis hukum menghentikan langkah kariernya. Saat itu, ia menganggap dirinya sebagai korban dari konspirasi keluarga. Namun kini, ia melihat semua peristiwa itu sebagai teguran keras dari Sang Pencipta agar ia tidak tersesat lebih jauh dalam keserakahan korporat.

"Apakah menurut Kyai, suatu hari nanti saya layak untuk kembali ke tengah masyarakat dan diterima kembali oleh keluarga besar Menara Sapphire?" tanya Chafia ragu-ragu, menatap wajah sang kyai dengan penuh pengharapan.

Lihat selengkapnya